Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
pulang


__ADS_3

Tirta berada di dalam mobil yang masih terparkir di depan rumah yang mesinnya belum dia nyalakan. Duduk di kursi kemudi, terdiam menumpuk kedua tangannya di atas stir kemudi. Arah pandangannya mengarah pintu rumah, terlihat seperti sedang menunggu seseorang. Seharusnya sejak tadi dia sudah pergi ke lokasi syuting. Namun hatinya terasa berat untuk beranjak meninggalkan Arini yang masih berada di dalam rumah dan sedang berkemas untuk pergi. Tirta menghela napas berat, hari dia seakan tidak bersemangat untuk menjalani hari setelah semalam dia tidak bisa terlelap dengan nyenyak, memikirkan perpisahannya dengan gadis polos yang beberapa hari menumpang di rumahnya.


Pintu terbuka Tirta melihat Arini menarik tuas koper bersiap untuk pergi. Ada perasaan tidak rela merasuk dalam relung hatinya. Seharusnya dia senang bukankah ini yang dari dulu dia tunggu? Kenapa sekarang dia menjadi galau gumamnya.


Tirta turun dari mobil melangkah mendekat ke arah Arini lalu tanpa kata mengambil alih tuas koper Arini.


“Aku akan mengantarmu pulang!” ucap Tirta dengan wajah datar menarik koper Arini.


“Tidak perlu kak. Saya naik taksi saja. Lagi pula kakak harus syuting kan?” tolak Arini.


Tirta memasukkan barang Arini ke mobil.


“Aku akan ke lokasi syuting setelah mengantarkanmu. Sekalian aku juga ingin menjenguk nenek.” Tirta mendorong tubuh Arini untuk masuk ke dalam mobilnya, entah mengapa dia ingin lebih lama lagi bersama Arini.


Sebenarnya Tirta agak berat jika menginjakkan kaki ke kediaman orang tuanya, sekelebat kenangan tak adil yang di terimannya terbayang di tambah hubungannya yang buruk dengan ayahnya. Mereka selalu saja selalu berdebat silang pendapat jika bertemu.


****


Mereka telah menginjakkan kaki di rumah mewah kediaman Abraham. Dengan senyum ceria Arini langsung melangkah ke kamar nenek Nani yang di ekori oleh Tirta.


Arini membuka pintu kamar mengarahkan pandangannya pada perempuan tua yang duduk di sofa panjang sambil menonton teve.


“Nenek,” sapa Arini dengan senyuman melangkah mendekat.


“Arini.” Nenek mengembangkan senyuman menatap Arini dan Tirta.


Arini memeluk tubuh ringkih perempuan tua ini, melepaskan rindu setelah beberapa puluh hari tidak bertemu.


“Nenek Arini kangen,” ucap Arini manja duduk di samping kanan nenek Nani.


“Nenek juga sayang,” balas nenek Nani mengusap wajah mulus Arini.


“Bagaimana keadaan nenek?” tanya Tirta mendekat dan memeluk neneknya meluapkan rasa rindu pada perempuan tua itu. Setelahnya duduk di samping kiri neneknya.

__ADS_1


“Nenek sudah baik-baik saja,” ujar nenek Nani menatap cucunya dengan kerinduan.


“Semoga nenek sehat selalu.” Tirta mengelus lembut punggung neneknya.


“Iya, sayang. Nenek juga sangat bosan tinggal di rumah sakit.” Nenek Nani yang duduk di tengah di antara mereka merangkul Arini dan Tirta sangat bahagia melihat dua cucunya terlihat akrab. Dari raut wajah Tirta yang memandang Arini, nenek Nani bisa membacanya jika hubungan mereka telah semakin dekat. Cucunya sudah tidak bersikap dingin lagi pada Arini. Ia berharap mereka saling menerima.


“Kamu sendiri bagaimana rasanya tinggal bersama Tirta?” tanya nenek Nani mengarahkan netra hitamnya pada Arini .


“Seru nek! Rini bertemu artis dan Arini  juga banyak dapat tanda tangan mereka salah satunya Marsya Ayunda, dia sangat cantik nenek jika di lihat langsung, berbeda dari yang di kita nonton di teve,” jelas Arini dengan penuh kebanggaan membuat Tirta menarik sudut bibirnya mendengar ocehan gadis itu. Arini memang sangat norak jika sudah membahas mengenai artis.


“Nenek ngak suka Marsya Ayunda.” Nenek Nani mencebik dia tahu jika cucunya punya gosip percintaan bersama lawan mainnya Marsya Ayunda. “Nenek Cuma suka cucu nenek.” Nenek mengusap pipi mulus Tirta dengan telapak tangan membuat pemuda ini mengembangkan senyuman hatinya menghangat duduk bersama Arini dan nenek Nani.


Arini bangkit dari duduknya berdiri di hadapan nenek Nani. “Tunggu sebentar nek. Arini akan mengambil dulu, buku koleksi tanda tangan artis yang Rini punya. Sama barang-barang yang udah di tanda-tangani sama Marsya ayunda dan kenzi Anggara,” ucap Arini dengan bangga kemudian Melangkah keluar kamar hendak menunjukkan sesuatu yang akan dia pamerkan pada nenek Nani.


Tirta dan nenek Nani hanya menggeleng melihat tingkah antusias Arini jika telah menyangkut pembicaraan masalah artis. Kini nenek dan cucu ini tinggal berdua di dalam kamar.


Nenek Nani menatap wajah tampan cucunya. “Kamu akan tinggal di sini kan? Bersama Arini?” tanyanya dengan penuh harap karena sekarang Tirta telah menikahi Arini, ia berharap mereka bisa saling menerima dan Tirta kembali meramaikan rumah ini lagi.


Tirta menarik napas panjang memegang tangan nenek keriput neneknya. “Maaf nek. Aku ngak bisa,” tolak Tirta.


“Aku menikahinya hanya demi nenek. dan dia sudah kembali menjadi menantu kalian.” Tirta tersenyum getir, mengingat kembali jika dia telah menikah mantan istri kakaknya.


“Tapi Tirta nenek menyuruhmu menikahi karena Dia gadis yang baik, pantas untuk kamu. Kamu merasanya kan selama beberapa hari ini kamu tinggal bersamanya. Kamu bisa lihat dia gadis lugu yang baik dan tulus.”


Tirta terdiam benar yang di katakan neneknya Arini memang gadis yang baik, cantik. Perhatian sangat sempurna untuknya namun dia tidak bisa menerimanya, karena Arini adalah mantan kakaknya. Dia tidak peduli status Arini janda Andai saja dari lelaki lain dia bisa terima, tapi ini Andra. Harga dirinya seakan semakin rendah jika ia juga menerima istri bekas kakaknya. Hal yang dari dulu selalu menyakiti hatinya yaitu menerima bekas kakaknya.


Tirta menatap sayu wajah neneknya. “Aku benar-benar tidak bisa menerimanya,” ucap Tirta pelan.


"Tirta cobalah sayang,” pinta nenek Nani.


“Nenek aku mohon jangan paksa aku lagi. Tugasku sudah selesai. Aku akan kembali menjalani hari-hariku seperti dulu. Menjadi Dilan Magika,” tutur Tirta mengalihkan pandangannya menatap kosong entah mengapa hatinya juga seakan teremass mengucapkan kata itu. Ada rasa lain yang telah merasuk dalam hatinya namun coba dia pungkiri.


“Kamu tidak akan kemari lagi kan. Sama seperti dulu?” tanya nenek Nani.

__ADS_1


Tirta tidak bisa menjawab pertanyaan neneknya datang ke rumah ini hanya akan membuat mengingat pertengkaran hebatnya dulu. “Aku harus pergi.” Tirta menarik tangannya kemudian bangkit melangkah keluar kamar.


"Tirta.”


Pemuda ini berbalik, melengkungkan senyumannya. “Jaga kesehatan nenek. Aku pergi dulu.”


Tirta keluar dari kamar berpapasan dengan Arini yang membawa paper bag.


“Aku harus pergi,” ucap Tirta memasang wajah datar dan di jawab Arin dengan anggukan.


Arini menaruh barang yang bawaan sejenak di meja lalu mengantarkan Tirta ke depan.


“Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik. Ingat jangan suka makan camilan apalagi di malam hari,” pesan Tirta Arini menatap lekat wajah cantik Arini yang entah kapan lagi bisa ia tatap.  


“Iya. Kakak juga jaga diri baik-baik,” ucap Arini dengan senyuman lalu meraih tangan kanan Tirta mengecup punggung tangan suaminya sebagai wujud baktinya. seperti biasa yang dia lakukan jika akan berangkat kuliah.


Tirta sejenak tertegun hatinya berdesir hebat, mungkin Arini yang selalu mencium punggung tangannya  adalah kebiasaan kelak yang sangat dia rindukan dari istrinya ini.


Tirta menarik tubuh Arini masuk ke dalam pelukannya. membuat Arini hanya terpaku mengerjapkan mata -lagi-lagi jantungnya seakan ingin lompat keluar saat idolanya memeluk erat tubuhnya. Mereka pun mendekap saling menghirup aroma yang parfum yang menguar dan memenangkan hatinya selama beberapa hari terakhir. “Mungkin kita tidak akan bertemu lagi, kita akan menjalani hidup kita seperti dulu,” ucap Tirta mempererat pelukannya semakin mengendus ceruk leher Arini. ia bertekad untuk menjalani hidupnya kembali yang jauh dari keluarga dan tanpa mengenal gadis bernama Arini sama seperti yang telah di jalani lima tahun sebelumnya. Dan ini adalah pelukan perpisahan mereka.


 


Yakin kuat bang? Rindu itu berat.... kata dilan yang lain bukan. Dilan Magika yang gengsinya tinggi ini. kuat ngak dia yah nahan rindu..


 


 


 


 


Curhat dong. Maaf telat dan Cuma satu karena lagi buntu ngak bisa mikir. ini di ketik dari magrib sampai jam 2 malam ngak kelar-kelar. Ketik-hapus ketik- hapus dan setelah jalan sebentar dan menyantap semangkok bakso akhirnya bisa sedikit walau hati kurang srek dengan hasilnya. Doakan otakku lancar biar bisa up date lancar.

__ADS_1


Btw maaf aku udah berapa hari ngak balas koment😭😭. Gini aja yah. Kalau aku balas koment itu berati aku sudah ngetik bab😁. Jadi di tunggu aja. Tapi kalau ngak di balas berati lagi ngak up😭😭. Oke .... jadi koment itu menjadi tanda ....


__ADS_2