
Tirta dan Arini kini telah berada di dalam mobil menuju pulang. Tirta tiada henti menarik sudut bibirnya sesekali melirik gadis yang duduk di sampingnya semua rencananya berjalan dengan lancar gadis yang ia rindukan kini akan menginap di rumahnya. Hening Tirta terdiam mencoba menguasai degup jantung yang bertalu. Sekuat hati menyembunyikan perasaannya agar tidak terbaca.
Hingga mobil terhenti suasana tetap hening. Mereka telah sampai di rumah mewah Tirta. Arini turun dari mobil netra hitamnya menatap keadaan rumah. Matanya membelalak melihat beberapa penjaga keamanan yang menyambut mereka. Arini baru tersadar Takut rahasia Tirta terbongkar akan kehadirannya.
“Kak di rumah kakak udah ada banyak asisten rumah tangga bagaimana kalau mereka bergosip?” tanya Arini pada Tirta yang berdiri di sampingnya.
“Biarkan saja mereka.” Tirta menarik tangan Arini membuat tubuhnya terhuyung mengikuti langkah Tirta. Pemuda ini sudah tidak peduli dengan rahasia pernikahannya dengan Arini.
“Malam mas,” sapa perempuan yang merupakan asisten rumah tangga yang biasa menyambut kedatangan Tirta diambang pintu.
“Malam,” jawab Tirta tetap berlalu tidak menghiraukan beberapa asistennya rumah tangga bertanya-tanya dalam hati tentang siapa perempuan yang di bawa oleh majikannya. Sedangkan Arini hanya tersenyum ramah pada mereka.
Tirta terus menarik tangan Arini melepaskannya setelah melalui pembantu. Arini berjalan di belakang Tirta. Arini yang telah tahu seluk beluk rumah Tirta menuju ke kamar tempatnya dulu.
“Kak saya mau mandi dulu. Gerah seharian, setelah itu saya akan membuka kado dari fans kakak,” ucap Arini meminta izin. Tubuhnya sangat lelah duduk menunggu di lokasi syuting. Mandi dapat menyegarkan kembali tubuhnya.
“Baiklah kamu mandi, setelah itu ke kamarku.”
“Aku akan menyuruh mereka membawakanmu baju ganti.”
“Ngak perlu kak saya masih punya beberapa di dalam kamar. Saat saya pulang tas saya hanya di penuhi barang-barang fans. Jadi saya meninggalkan beberapa pakaian saya,” jelas Arini tersenyum kaku.
“Baiklah kalau begitu.” Tirta meninggalkan Arini menuju kamarnya.
Arini meregangkan tubuhnya seketika urat-uratnya lemas, kembali rileks setelah mengguyurnya dengan air hangat.
Arini keluar kamar menuju kamar Tirta pelan-pelan membukanya. Kepalanya menyembul di balik pintu merotasi mencari keberadaan Tirta melihat kamar dalam keadaan kosong. Tirta pasti masih mandi itu pikirnya.
Arini yang telah tahu seluk beluk kamar langsung berjalan menuju ruangan hadiah fans yang di maksud si artis.
Sebuah ruang berwarna putih memiliki banyak rak yang memang di persiapkan Tirta menghargai hadiah dari fans.
Gadis ini berdecak kagum saat melihat begitu banyak barang yang bertumpuk dan masih terbungkus rapi kado yang belum terbuka.
“Wak banyak sekali,” Arini berdecak kagum. Mulai duduk di hadapan tumpukan hadiah.
Perhatian Arini teralingkan saat Tirta telah masuk ke dalam ruangan terlihat segar setelah mandi.
“Bagaimana banyak kan?”
__ADS_1
“Iya kak,” Arini mengangguk kembali bergelung dengan hal yang memuatnya senang.
“Kak hampir semua dari Tita,”
Tirta tersenyum tipis, dia memang menyiapkan semua itu untuk Arini karena yakin Arini pasti akan kembali ke rumahnya.
“Camilan ini.” Arini mendekap dengan sayang bungkus camilan berupa kacang almond yang sering ia makan dulu saat menunggu Tirta pulang hadiah dari fans.
“Kamu menangnya ngak bisa beli, itu kan banyak di jual,” kata Tirta.
“Yang gratis lebih enak kak.”
“Dasar.” Tirta mendengus kemudian menarik sudut bibirnya dengan kelucuan Arini. Terkadang dia juga aneh dengan sikap Arini terkadang sangat diam namun ketika menyangkut artis gadis ini akan berubah.
Arini kembali beralih pada hadiah lain hingga tertuju pada kotak persegi yang lagi bernama Tita. Perlahan Arini membukanya.
“Wah kak satu set perhiasan.” Mata Arini seketika berbinar berkilau dan berubah mengerutkan alisnya. “Ini benar berlian. Atau–”
“Tentu saja itu benar berlian!” sosor Tirta sewot dengan keraguan Arini.
“Fans kakak ini menang hebat,” puji Arini.
“Tidak usah kak. Siapa tahu sewaktu-waktu kakak membutuhkannya.”
“Ambil kamu pikir aku ngak bisa beli!” ketusnya.
“Ini mahal kak. Untuk saya juga.”
“Emmm.”
“Makasih kak,” ucap Arini antusias kembali Tirta menyembunyikan senyumnya.
Tirta duduk di sofa manik matanya terus tertuju pada Arini. Sungguh dia sangat rindu melihat senyum Arini saat membuka kado yang sebenarnya ada beberapa darinya.
Cukup lama Tirta menatap wajah Arini, leher putih mulus miliknya, bibir kenyal nan menggoda itu. Sisi kelaki-lakiannya yang telah lama dia tahan bangkit. Dia menginginkan tubuh istrinya. Tirta sudah tidak bisa menahan lagi. Memang inilah tujuan Tirta membawa Arini ke rumahnya, karena dia ingin Arini menjadi istrinya seutuhnya. Siap menerima Arini apa-adanya walaupun perempuan yang di cintainya itu adalah mantan istri kakaknya, dia menerima segalanya.
Malam ini adalah kesempatannya sekaligus menegaskan Arini adalah miliknya satu-satunya. Andra sudah tidak berhak atas Arini. Malam ini akan menjadi malam pertama yang indah bagi mereka.
Tirta menarik napas panjang. Bangun dari duduknya, menghampiri Arini yang kini berdiri di depan lemari menyusun barang-barang.
__ADS_1
“Kak Dilan kado fans banyak banget,” ucap Arini menatap beberapa boneka ke dalam rak lemari.
“Bantalnya juga banyak,” tambah Arini lagi, namun Tirta hanya diam membuat padangan Arini teralihkan padanya.
Arini tersentak saat Tirta sudah tidak ada di kursi dan ternyata telah melangkah mendekat padanya. Tatapan terus tertuju padanya. Membuat jantung Arini seketika berdebar kencang dengan apa yang akan di lakukan idolanya ini. Apalagi netra hitam Tirta terlihat tidak seperti biasanya, seakan akan ingin menerkamnya.
“Kak coklatnya juga banyak,” tambah Arini gugup saat Tirta telah berdiri di hadapannya Arini bisa merasakan deru napas memburu dari Tirta.
Tirta membungkukkan tubuh tingginya kemudian menempelkan bibirnya di bibir Arini.
Cup
Tirta melayangkan satu kecupan di bibir Arini membuat gadis ini terdiam membatu, idola ini menciumnya. Arini tersentak lalu mundur satu langkah, menerima serangan Tirta membuat debaran jantungnya menggila.
Tirta pun maju satu langkah dan kembali kepanikan meresapi hati Arini, situasi sudah mulai tak aman baginya.
“Kak Dilan,” ucap Arini pelan.
Kembali Tirta Melayangkan satu kecupan di bibir Arini untuk ke dua kalinya.
“Kak Dilan.” Arini kembali mundur satu langkah namun pemuda yang ada di hadapannya ini seolah tidak akan berhenti mengejarnya.
Saat bibir Tirta kembali menyambar bibir Arini untuk yang ke tiga kalinya, kembali dia hendak melangkah mundur namun apa daya. Tubuhnya tertarik dan telah terkunci oleh tangan Tirta yang terulur melingkar erat pinggangnya.
Arini mencoba berontak dalam cekalan Tirta namun Tubuh Arini semakin lemah ia bahkan tidak bisa merasakan kakinya, saat Tirta terus memberi kecupan-kecupan kecil di bibir ranumnya. Jantungnya berdetak kencang seakan ingin jatuh. Tirta mulai mellumat bibir manis itu perlahan. Bermain dengan lembut menggoda untuk mendapatkan balasan. Arini yang merasakan sesapan dan lummatan lembut di bibir atas dan bawah secara bergantian membuatnya akhirnya mulai terbuai dengan kelembutan Tirta. Pertahanannya runtuh dengan kaku menyesap pelan bibir bawa Tirta dan mulai membalas ciuman Tirta.
Kelopak mata indah Arini mulai tertutup ketika ciuman itu semakin dalam, mereka berpagut, saling mellumat hingga suasana telah mulai panas terbakar oleh gairah dan deru napas mulai terasa berat.
Ciuman itu terasa semakin memabukkan saling membalas. Mata Arini terbuka perlahan saat merasakan tubuhnya melayang. Tirta menggendongnya dan ia hanya melingkarkan tangannya di leher Tirta. Bibir mereka terus bertaut seakan candu yang tidak bisa mereka hentikan
namun saat ciuman itu terlepas mata Arini mengintip dari balik tubuh Tirta. Manik matanya membelalak sempurna ketika tubuh Arini yang dalam gendongan Tirta tinggal beberapa langkah lagi menuju ranjang. Jantung Arini kembali berpacu kencang. Membuat Arini bertanya-tanya Apakah ciuman ini berlanjut menjadi malam pertama mereka. Bukankah ini hanya ciuman idola? Yang pernah dilakukan si artis padanya.
__ADS_1