
Malam telah larut waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Arini berada di dalam kamar duduk menunggu kedatangan suami idolanya. Seperti biasa matanya sulit terpejam jika tidak dalam pelukan suaminya.
Yah, semenjak Arini hamil dia hanya ingin tidur dalam dekapan suaminya.
“Kak Dilan.” Arini bangkit dari duduknya sesaat mendengar pintu kamar terbuka menyambut Tirta di depan pintu.
“Kamu belum tidur?” Tirta mengecup pipi Arini, rasa lelah hilang seketika melihat perempuan yang di cintai menyambutnya.
“Nunggu kakak.”
“Seharusnya kamu ngak boleh begadang. Kamu harus banyak istirahat.” Tirta menggiring tubuh Arini duduk di tempat tidur. Dia tahu Arini tidak bisa tidur tanpa memeluknya.
"Ngak bisa tidur.”
Duh manisnya ... dulu saja tegang tidur bareng suami sekarang malah ketergantungan dan si suami modus ini sangat senang dan suka rela.
“Maaf sayang, aku sangat sibuk akhir-akhir ini,” ujar Tirta merasa bersalah kemudian jongkok menempelkan kepalanya di pangkuan Arini tangannya terulur mengelus lembut perut Arini yang masih rata. “Maaf kan Papa sayang bikin mama kamu ngak bisa tidur. Kamu kangen papa ya nanti papa jenguk,” ucap Tirta membuat suara manja di perut Arini.
Tunggu! Apa dia bilang tadi menjenguk. Arini menelan salivanya kelat, kan dia hanya ingin peluk.
“Kak Dilan!” protes Arini dengan wajah yang telah bersemu merah.
Tirta mengangkat kepalanya. “Ada apa sayang. Dedenya kangen tuh.” Alisnya terangkat naik menampakkan senyum mesum.
Benar-benar si artis modus yang pandai memanfaat keadaan.
“Aku ke kamar mandi dulu.” Tirta bangkit, kemudian mencium pipi istrinya setelahnya melesak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Tak beberapa kemudian Tirta keluar dari kamar mandi. Dengan sigap Arini turun dari tempat tidur meraih kotak perawatan wajah si artis.
“Sudah kamu berbaringlah biar, aku saja yang melakukannya,” kata Tirta mencoba meraih kotak perawatan wajahnya.
“Biar saya yang pakaikan, kakak pasti lelah,” kekeh Arini yang sangat suka mengusap wajah tampan suaminya. “Ini Cuma sebentar.”
Mendesah pasrah Tirta akhirnya naik ke tempat tidur, membiarkan istrinya yang mengusap wajah mulusnya.
“Tiga hari lagi pemutaran perdana film tiang listrik itu. Kamu hadir ya dampingi aku?” pinta Tirta menatap wajah cantik Arini yang hanya berjarak beberapa senti.
“Saya malu berada di depan publik bersama kakak.”
“Kamu kan istriku. Ayolah datang bersamaku,” rengek Tirta.
“Saya datang sama Rara saja sebagai penonton.”
“Saya ngak biasa tampil di depan wartawan. Saya bisa kena demam panggung,” ucap Arini membuat Tirta seketika terkekeh benar juga istrinya tidak terbiasa dengan sorot kamera.
“Baiklah kamu boleh pergi sama Rara.”
Rangkaian perawatan wajah sang artis telah selesai Arini lalu meletakan skincare kembali ke tempatnya. Setelahnya ikut bergabung dengan suaminya di tempat tidur.
Arini berbaring masuk ke dalam pelukan suaminya, menghujani ciuman di puncak kepala Arini.
“Masih sering mual? Kamu makan banyak ngak tadi?” cecar Tirta dengan banyak pertanyaan. Padahal hampir setiap saat dia menelepon menanyakan keadaan Arini.
“Udah berkurang. Tadi di buatin bibi sop ayam enak.” Lapor Arini karena setiap malam Tirta akan bertanya apa yang ia lakukan seharian.
__ADS_1
“Bagus, kalau kamu ingin makan sesuatu katakan saja. asal bukan pantang makan untuk ibu hamil. Makanan sehat, jangan makan yang pedas.” Arini mengangguk dalam pelukan Tirta.
“Kenapa aku jadi pengen makan bebek yang sambalnya level mampus ya,” sahut Tirta air liurnya seakan ingin menetes.
“Sekarang.” Arini mendongak menatap suaminya.
“Iya.”
“Kakak lucu kok, kakak yang ngidam. Lagi pula malam-malam begini udah tutup.”
Semenjak Arini hamil pola makan Tirta juga berubah seolah dia, sudah tidak peduli dengan menjaga keindahan tubuhnya, bahkan dia pernah minta pelayan rumah untuk memasakkan nasi goreng di malam hari padahal saat itu Tirta telah bersiap untuk tidur bahkan telah menggunakan skin care, sungguh bukan kebiasaan dari seorang Dilan Magika makan di malam hari dengan menu nasi pula namun saat ini dia tidak peduli.
“Besok saja kita pergi ke restoran bebek itu,” jelas Arini.
Tirta diam sejenak sudut bibirnya kembali tertarik dari artis modus ini.
“Baiklah, besok saja, tapi malam ini kita bisa menggantikan pedasnya berkeringat, dengan tanda cinta kan,” ucap Titra kini telah mencumbui bagian wajah Arini.
Arini tercengang saat Tirta telah menindihnya.
“Astaga saya yang akan mampus,” batin Arini.
Kini si artis modus kembali mendapatkan apa yang dia harapkan.
__ADS_1