
Tubuh Tirta tiada henti bergetar, bulir keringat dingin membasahi dahinya. Ini adalah waktu spesial yang paling dia tunggu namun saat hari ini datang, dia malah di relungi kegelisahan.
Tirta berada di dalam ruang persalinan, mendampingi Arini yang sedang menjalani proses melahirkan bayi kembarnya secara cecar. Tubuh Tirta seakan lemah tak bertulang, debaran jantungnya terpompa cepat berharap istri bisa melalui semuanya dan anak mereka lahir dengan selamat.
Setelah menunggu beberapa saat, tangis haru menetes dari pelupuk mata Tirta saat suara tangisan bayi laki-laki menggema. Selang beberapa menit tak lama bayi perempuan pun menangis membuat tangisan mereka bersahut-sahutan di ruang kamar. Tirta menatap takjub saat melihat dua anak kembarnya telah lahir ke dunia. Kini di telah menjadi ayah dari putra dan putri.
“Selamat pak, putra dan putri Anda telah lahir dengan selamat,” ucap dokter yang menangani Arini.
“Terima kasih dok,” kata Tirta sangat bahagia dia di karunia sepasang anak.
****
Arini telah berada di ruang perawatan, tubuhnya masih lemah, setelah menjalin operasi namun senyuman terus tertanam melihat pemandang di hadapannya. Tirta pun dengan setia berada di samping Arini. Manik mata pasangan ini, terarah pada ayah Hasan dan ibu Ana sedang menggendong cucu mungilnya yang masih merah dengan kebahagiaan sangat antusias. Bermain menirukan suara anak kecil.
“Kalian akan memberi nama siapa?” tanya ayah Hasan yang menimang cucu perempuannya.
Pasangan ini saling tatap, akan pertanyaan ayah Hasan. Arini mengangguk yakin pada suaminya tentang nama pilihan mereka.
__ADS_1
“Kami akan memberikan nama anak perempuan kami Adinda Putri Magika Abraham,” ucap Tirta menoel pipi merah putrinya yang dalam gendongan kakeknya.
“Nama yang bagus,” puji Hasan berbangga hati karena nama belakang cucunya masih mengenakan nama Abraham sama seperti nama Tirta identitas keluarga mereka.
“Kalau jagoan kamu ini kamu beri nama siapa?” sela Ana juga ikut bertanya nama bayi lelaki dalam gendongannya.
“Jagoan ini akan kami beri nama Adi putra Magika Abraham,” ucap Tirta.
“Kenapa kalian memberi nama itu?” tanya Ana penasaran tentang pemilihan nama cucunya.
“Nama mereka di ambil dari nama penulis novel Adinda Adi, idola Arini,” jelas Tirta.
“Nama itu sebagai bentuk penghargaan kami, karena berkat bermain dalam film Adinda Adi, karier kak Dilan yang telah meredup kembali bersinar. Penulis itu masih mempertahankan kak Dilan saat hampir semua brand memutuskan kerja sama dengannya, ” jelas Arini.
Mereka hanya mengiyakan, lalu kembali bermain dengan bayi lucu Adinda dan Adi memanggil nama mereka.
“Nenek kamu pasti sangat senang! Dan sudah tidak sabar untuk bertemu cicitnya, iyakan Adi sayang,” ucap ibu Ana menatap bayi mungil itu.
__ADS_1
“Setelah pulang dari rumah sakit kalian tinggal di rumah ya,” pinta Hasan.
“Iya, sampai Arini pulih kembali. Lagi pula kita harus mengadakan syukuran kelahiran bayi kalian,” tambah Ana.
Arini hanya menatap Tirta, keputusan semua ada pada suaminya.
“Kami akan tinggal sampai acara syukuran,” putus Tirta akan lebih baik jika mereka untuk sementara bersama tinggal bersama orang tuannya.
Senyum terkembang dari semua lalu kembali bermain dengan bayi mungil bernama Adinda dan Adi.
Klepak ...
Dinda: aduh jeng kok kepala ku di keplak.
Jeng kunti: benar-benar ngak kreatif ya loe thor! Makanya jangan ikut-ikutan cerita tetangga. Makan itu anak kembar! namanya asal banget! Masa namamu yang kamu bagi.
Dinda: habis jeng juga sih ngak mau bantu, cari nama! Kan aku pusing mikir nama! Cuma itu aja yang kepikiran.
__ADS_1
Jeng kunti: kenapa ngak namaku jeng dan kunti! Tapi udah ah sebel gue. Terserah dah ...
Dinda: Ya ngambek ...