Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
kampus


__ADS_3

Di sebuah ruang kelas terlihat beberapa mahasiswa yang mulai berdiri, berhambur keluar ruangan ketika sesosok dosen perempuan telah selesai memberi pengajaran.


Arini belum beranjak dari duduknya. Gadis ini memasukkan buku ke dalam tas kemudian meraih buku lain yang ada di dalamnya. Mengeluarkan lalu membuka lembar demi lembar, mencari sesuatu setelah menemukan, dia menarik secarik kertas yang ada di buku dan memberikannya pada Rara yang duduk di sampingnya.


“Ini untuk kamu! “Arini menyodorkan selembar kerta pada Rara.


Sejenak Rara mengerutkan alisnya tidak mengerti namun setelah membaca nama dalam coretan


“Ahhhhh!” teriak Rara membuat Arini cepat berdiri, membekap mulut sahabatnya dengan kedua telapak tangan.


“Ra, jangan teriak! Nanti kamu jadi pusat perhatian,” ucap Arini.


Rara menatap gadis cantik ini lalu mengangguk mengerti. Setelah tenang Arini melepaskan tangannya.


“Wah Rin. Ini tanda tangan Ricard Sebastian. Akhirnya kamu mendapatkannya.” Rara berdecak kagum menatap kertas di genggamannya.


“Iya, kemarin saya bertemu dan minta tanda tangan,” jelas Arini dengan bangga. Kemarin dia meminta tanda tangan juga untuk Rara. Mereka kan sama saja pemuja artis yang norak.


“Kamu curang Rin. Ketemu ngak ngajak aku,” kata Rara memasang wajah cemberut.


Arini hanya menarik garis bibinya. Mengajak apanya? Jika dia selalu berteriak keras bila bertemu artis, bisa-bisa membuat lokasi syuting menjadi heboh.


Rara berdiri merangkul bahu Arini. "Hebat kamu Rin, karena menikah dengan artis kamu bisa bertemu mereka.” Berucap dengan bangga.


“Sudah Ra. Kan setiap aku minta tanda tangan kamu juga dapat.” Kata Arini.


“Ya ilah. Awas aja kamu lupa sama sahabat kamu ini,” ancam Rara.


“Ngak mungkin. Kamu sahabat terbaik saya.”


“Kamu juga!”


Rara merangkul gemas pundak Arini.


“Rin, ke kantin yuk, aku udah lapar banget nih, karena kamu udah ngasih aku tanda tangan Ricard. Aku yang teraktir deh.”


“Yang benar,” goda Arini.


“Iya, apa-pun.” Rara menggandeng lengan Arini.

__ADS_1


Gadis ini menarik senyuman akan tingkah Rara yang selalu saja bergelayut manja di lengannya.


Dua sahabat ini pun melangkah menuju kantin kampus yang terlihat ramai karena memang ini adalah jam makan siang.


Arini dan Rara telah berada di kantin, dengan menu makanan mie goreng dan es jeruk yang menjadi pesanan mereka, telah terhidang di meja.


“Rin, kapan-kapan ajakin aku juga dong ke lokasi syuting,” pinta Rara lalu menyuap makanan ke mulut.


Arini hanya melemparkan senyum kaku, menatap Rara yang duduk di hadapannya dengan meja menjadi sekat pemisah.


“Ya Rin,” desak Rara dengan wajah memohon. Membuatnya tak tega namun dia juga tidak bisa mengatakan iya pada Rara.


“Hai Arini!”


Suara sapaan membuat Arini menarik napas lega setelah pemilik suara bergabung bersama mereka jadi dia tidak perlu menjawab pertanyaan Rara.


Mereka pun kompak mengarahkan pandangan, pada pemilik suara, seorang lelaki berwajah blasteran.


“Hai Gio,” balas Arini tersenyum tipis.


Pemuda ini pun duduk di kursi kosong di samping Rara.


“Iya,” ucap Arini singkat sebenarnya dia tidak nyaman, jika berbincang dengan Gio, karena pasti dia akan  mendapatkan tatapan sinis dari para gadis yang menyukai idola kampus ini.


“Iya, Gio dia ketemu kakak kamu, ngak aja aku,” sahut Rara menimpali sambil menguyah makanan di mulut.


“Kamu kenapa ngak bilang ke aku. Kalau kamu ngefans sama kak Ricarhd. Kan aku bisa mengajakmu untuk bertemu dan meminta tanda tangannya,” tawar pemuda ini dengan begitu dia juga bisa dekat dengan Arini.


“Tidak perlu Gi,” tolak Arini.


Pemuda ini merogoh tas ransel yang di kenakan. Mengeluarkan sebuah baju kaos berwarna putih.


 “Oh iya, Ini ada titipan dari kakak aku. Ini untuk kamu,” ucap Gio mengulur kan tangan ke arah Arini.


“Untuk saya?” tanya Arini dengan alis terangkat.


“Iya, Kaos bergambar kakakku dan ini sudah di tanda tangani, katanya titip buat kamu.  Kenang-kenang untuk fansnya,” ucap Gio.


“Kakak kamu atau kamu,” goda Rara.

__ADS_1


“Kamu ini Ra.” Gio menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari memaksa senyuman, karena sekarang dia tahu Arini mengidolakan kakaknya, dia memiliki niat untuk mendekati Arini dengan nama kakaknya.


Arini mengulur tangan kanannya hendak menyambut barang pemberian Gio. Namun terhenti saat suara perempuan mendekat ke arah mereka Rara dan Gio kompak memutar bola mata jengah.


“Wah! Kamu lagi kasi hadiah ya sama si janda ini,” cibir gadis bernama  Selly duduk di samping Gio. Kini pemuda berwajah bule berada di antara Rara dan Selly.


“Apaan sih kamu! Ikut campur aja, ini bukan urusanmu,” ketus Gio.


“Iya, sirik aja!” timpal Rara tidak kalah ketusnya.


Suasana seketika menjadi tidak nyaman setelah kedatangan gadis rusuh ini. Dia pasti akan menyerang Arini.


“Kamu belum menyerah ngejar dia!” cibir Selly mengarahkan jari telunjuknya pada Arini.


“Apa sih yang kamu suka dari dia?” Selly melemparkan tatapan sinis pada Arini.


“Sel lebih baik kamu pergi dari sini! Sebelum aku memberimu pelajaran!” ancam Gio dengan nada dingin.


“Dia ini hanya janda! Dan kau selalu membelanya!" hardik Selly.


“Selly!” Bentak Gio tak terima.


“Memang dia janda dan kau tergila-gila padanya!" balas Selly tak kalah geramnya.


“Jaga mulutmu! Siapa yang kau bilang janda!!!” Suara membentak terdengar dari belakang tubuh Arini membuat gadis ini membulatkan matanya dia mengenal suara berat itu.


Mereka kompak mengarahkan pandangannya pada sosok pemuda yang mengenakan topi hitam dan kaca mata hitam.


Rara pun bergegas berdiri.“Ahhhhhhhhh!!” teriak Rara gemas hingga suaranya menggema di seluruh kantin kampus. Arini menepuk jidatnya melihat tingkah Rara yang dapat menarik perhatian.


Begitu pun Selly berdiri terpaku.


“Di ... Dilan Ma ... gika!” ucap Selly mengarahkan manik matanya pada pemuda tampan nan tinggi yang berdiri di belakang Arini dengan suara terbata.


 


 


kok upnya semakin berantakan. maklum ya ...

__ADS_1


Maaf kalau banyak typo. udah ngantuk ...


__ADS_2