
Waktu terus bergulir setelah kejadian pertengkaran dengan ayah. Tirta sudah tidak pernah bertemu lagi dengan Arini. Meluapkan rindu melalui ponsel yang menghubungkan untuk sekedar mengikis sedikit rasa rindu mendengar suara atau bertatapan wajah dari panggilan video call Tirta akan bertanya tentang keadaan yang di awali kabar nenek lalu terjadilah obrolan.
Selama berpisah sejenak dengan Arini. Tirta menghabiskan hari dengan kesibukan yang begitu padat membintangi iklan, bintang tamu, menjadi, mc serta banyak lagi. terutama tentang mendalami peran sebagai tiang listrik di film terbarunya.
Kerja keras Tirta terbayar ketika film yang akan di perankan mulai proses penggarapan. Hari ini hari pertama memulai proses syuting. Tentu saja dia sangat antusias karena film ini akan menjadi penghubung cintanya dengan Arini.
Tirta telah berada di depan kampus Arini. Bersandar di body mobil mewah berwarna hitam miliknya dengan tangan terlipat di dada. perasaannya berbunga. Ini pertama kali ia akan menemui Arini setelah pertengkaran dengan ayahnya. Hari ini dia akan memberi kejutan pada istrinya. yang dia tebak pasti senang mendengar kabar darinya.
Begitu banyak sorot mata perempuan yang penasaran ingin melihat muka pemuda yang sedang menyembunyikan wajah di balik masker dan kaca mata hitam itu. Namun Tirta tidak peduli hanya Arini yang berada di pikirannya.
Sang artis menarik napas lega setelah melihat Arini telah keluar dari gerbang kampus. Sekuat hati dia menata debaran jantungnya agar tidak salah tingkah di hadapan perempuan yang telah membuatnya merindu.
“Kak Dilan,” sapa Arini mengenali tubuh Tirta walau di balik masker.
“Ayo ikut aku,” ucap Tirta dengan nada terdengar datar. Menarik tangan Arini untuk masuk ke dalam mobil yang pintunya telah dia buka.
“Ke mana kak?” tanya Arini dengan alis bertaut masih bertahan.
“Aku akan mengajakmu ke lokasi syuting.”
“Mengajak saya ke lokasi syuting?”
“Aku sudah mengambil peran tiang listrik itu,” jelas Tirta ketus seperti biasa.
__ADS_1
Arini mengembangkan senyuman mendengar ucapan Tirta.
“Jadi Aska!” seru Arini.
“Emmm.” Tirta berdehem melihat Arini mulai kegirangan.
“Wah kak hebat!” puji Arini menaikkan dua jempolnya di hadapan Tirta.
Di balik wajah tertutup masker senyum lebar merekah mengiasi. Tebakannya benar Arini pasti sangat senang dengan kabar ini.
“Jadi saya boleh ikut ke lokasi syuting!" tanya Arini jiwa noraknya mengenai artis kini telah bangkit hingga lupa jika dia harus pulang ke rumah.
“Cepat masuk,” titah Tirta. Arini pun bergegas masuk.
“Ingat ya! Kamu jangan terlalu dekat dengan mereka. Kamu hanya harus menungguku syuting!" terang Tirta dengan nada posesif karena di sana ada Kenzi yang akrab dengan Arini.
“Saya Boleh minta tanda tangan Ricard kak? foto bareng juga,” tawar Arini dengan wajah di buat mengiba.
“Tapi jangan berlebihan, jangan norak cukup satu tanda tangan, dibuku jangan sampai nyodorin baju yang kamu kenakan. Dan kalau foto jangan dekat-dekat. Jaga jarak jangan sampai menempel,” tekan Tirta dengan banyak aturan yang harus Arini lakukan nanti. Tirta teringat jika telah bertemu artis Arini akan bertingkah norak dan lupa diri saking senangnya, dia akan meminta tanda tangan yang banyak serta foto dengan jarak berdekatan.
“Iya, kak.” Arini seketika tertunduk lesu mendengar banyaknya aturan dari Tirta.
“Bagus.” Tirta tersenyum miring niatnya membawa Arini ke lokasi syuting hanya untuk dekat dengannya terlihat berhasil, keputusannya menerima film itu memang tepat, kali ini dia akan memanfaatkan kesempatan yang ada.
__ADS_1
Mereka telah berada di lokasi syuting di sambut oleh Rian yang menunggu Tirta.
Arini turun lebih dari mobil di ikuti oleh Tirta.
“Wah ada Arini. Udah balik dari kampung.” Rian terlihat senang akan kehadiran Arini.
Arini hanya tersenyum sedangkan Tirta merotasi mata jengah melihat interaksi Arini dan Rian.
“Kak Rian saya ke sini di ajak kak Dilan nonton syuting,” ucap Arini dengan senyum terkembang di wajahnya.
“Bagus Arini, tuh di sana ada idola kamu Zaldy lagi latihan dengan gerombolannya,” jelas Rian membuat sorot mata Arini seketika berbinar.
“Benarkah kak?” soraknya kegirangan.
“Emmmm.” Tirta yang berdiri di belakang Arini berdehem memperingatkan tingkah berlebihan Arini membuat gadis ini tersadar akan pesan panjang Tirta.
“Kamu mau kakak kenalinin sama mereka,” tawar Rian membuat mata Tirta membulat akan ajakan Rian.
“Boleh kak.” Jawab Arini semakin membuat rahang Tirta terbuka
“Ayo,” Rian melangkah lebih dulu tanpa bertanya pada pemuda yang membawanya Arini mengikuti dari belakang. Ya ampun dia telah susah payah memutar otak membawa Arini mengapa sekarang bersama Rian.
“Hei kalian mau ke mana!” panggil Tirta dengan kesal melihat mereka berjalan meninggalkannya.
__ADS_1
“Aku kan mengajaknya ke mari untuk dekat dengannya kenapa pergi dengan Rian,” gerutu Tirta mengusap kasar wajahnya niatnya menghabiskan waktu dengan Arini buyar.