
Sesuai dengan janji Tirta bahwa setelah pemutaran film jodoh pilihan kakak. Ia akan mengantarkan Arini untuk melihat tempat peristirahatan terakhir Andra.
Kali ini mereka telah berada di kota tempat di mana tragedi itu terjadi. Sepanjang perjalanan Arini hanya diam seribu bahasa. Tangannya terus bertaut dalam genggaman suaminya.
Setelah berkendara jauh kini sampailah mereka di depan pemakaman. Jantung Arini terpompa cepat, air matanya mulai memupuk namun sekuat hati ia menahannya agar tidak jatuh. Langkah demi langkah mereka lalui hingga sampailah mereka di sebuah pusara.
“Mas Andra.” Arini membekap mulutnya seakan menahan tangisannya namun dengan sigap Tirta memeluk tubuh Arini.
Tangis Arini pecah dalam pelukan Tirta saat melihat pusara yang bertuliskan Andra Abraham, tubuhnya lemas seakan tak bertulang. Dua tahun dia menantikan kedatangan suami ternyata telah terkubur dalam damai selama ini.
Arini melepaskan pelukannya lalu jongkok di sisi makam di ikuti oleh Tirta.
“Mas Andra ini Arini,” ucap Arini tangannya bergetar mengelus nama Andra yang tertera di batu nisan.
“Maaf mas, Arini baru kemari. Setelah sekian lama,” Arini semakin terisak dua tahun adalah waktu yang panjang, mereka berpisah. dan sebagai istri dia tidak tahu suaminya telah tiada.
Hanya isakan yang bisa Arini keluarkan untuk meluapkan semua perasaannya.
“Sudah jangan menangis lagi, kakak Andra udah tenang di sana. Nanti dia sedih lihat kamu menangis.” Tirta mengusap punggung Arini memberi kekuatan. Walau matanya juga berkaca-kaca. Mengenang kakak yang merupakan saudara satu-satunya.
“Ayo kita pulang,” ajak Tirta yang melihat Arini hanya terus menumpahkan air mata kesedihan. Dia takut Arini semakin terguncang hingga terjadi sesuatu pada Arini terutama kesehatan janin dalam perut istrinya.
“Sebentar lagi.”
__ADS_1
Arini terus mengusap pusaran Andra.
“Mas tenanglah di sana. Di sini Arini baik-baik saja. Ada kak Dilan yang akan menjaga Arini,” ucap Arini seraya mengusap pipinya yang basah dengan lelehan air mata.
Mereka kompak berdiri menatap makam Andra.
“Sudah! Ayo kita pulang!” Tirta merangkul bahu Arini.
“Rini udah mengikhlaskan mas pergi. Rini akan memulai hidup baru, bersama kak Dilan.” Arini terdiam.
“Membangun keluarga kecil dengan anak yang lucu. Aku akan menjaga dan membahagiakan Arini. Karena aku sangat mencintainya,” tambah Tirta menautkan jarinya dalam genggaman.
“Dan Rini juga sangat mencintai kak Dilan, kami akan hidup bahagia,” sahut Arini.
manik mata mereka bertemu. “Saya mencintai kakak,” ucap Arini meyakinkan mengungkapkan perasaannya
Deg dan kali ini Tirtalah yang di buat membatu oleh Arini akan pengakuan cinta yang diterima dari orang terkasih.
“Kak Dilan! Saya mencintai kakak.” Ulangnya namun tak ada reaksi hanya wajah yang merona.
Melihat Tirta yang diam tanpa kata membuat Arini mengulas senyum, lalu pelan Arini mendekatkan wajahnya di wajah Tirta mulai mengikis jarak. Arini berjinjit lalu mengecup bibir Tirta. Membuat mata pemuda ini membelalak dengan perlakuan berani istrinya.
Tempelan bibir itu terlepas. “Tanda bibir,” goda Arini seperti yang sering di lakukan Tirta jika Arini termenung menatapnya kini berbalik dialah yang menerima tanda bibir dan rasanya sungguh membuat jantungnya menggila.
__ADS_1
Tirta tersadar setelah menerima tanda bibir, tangannya terulur menangkup wajah Arini lalu kembali mempertemukan bibir mereka. Tirta melummat bibir Arini dengan gelora cinta yang menggebu membuat meluapkan kebagiannya cintanya telah terbalas. Hingga Arini tidak bisa mengimbangi ciuman suaminya dia merasakan kehabisan napas.
Tirta melepaskan tautannya saat Arini terus mendorong dadanya.
“Ada apa?” tanya Tirta.
“Kakak sadar, ini pemakaman,” ucap Arini dengan napas terengah-engah.
“Maaf, aku lupa.”
Tirta tersenyum kaku, hampir saja dia menerkam istrinya di pemakaman. Di depan makam Andra pula.
“Ayo pulang.” Tirta menyelipkan lengannya di belakang lutut Arini mengendong tubuh istrinya.
“Kak Dilan, Saya bisa jalan.” Arini melingkarkan tangannya di leher suaminya.
“Kamu tenang aja suamimu yang tercinta ini akan menggendongmu pulang,” kata Tirta dengan bangga.
Arini lalu mendaratkan ciuman di pipi Tirta. Ah ... yang membuat wajah sang artis bersemu, seakan ingin melayang.
Selain melihat makan Andra. Tujuan Arini adalah untuk melepaskan hubungan masa lalu bersama Andra dan ingin melangkah maju ke depan bersama suaminya dengan tenang, menyongsong masa depan bahagia yang akan mengiringi rumah tangganya.
__ADS_1