
Malam telah larut, seperti biasa Arini berada di ruang depan menunggu kepulangan Tirta. Malam ini adalah malam terakhirnya menunggu Tirta pulang karena besok dia sudah pergi, tidak akan tinggal serumah lagi dengan suami artisnya.
Deru mesin mobil terdengar pertanda Tirta telah pulang. Arini mempercepat gerakan menyambut kepulangan Tirta.
Arini membuka pintu.
“kak Dilan,” sapa Arini dengan senyum merekah menatap pemuda yang penampilannya acak-acakan namun masih sangat tampan walau raut lelah membingkainya.
Tirta hanya menatap Arini sekilas, tanpa kata masuk menerobos tubuh Arini menyodorkan kunci mobil tanda Arin harus menjalankan tugasnya. Arini pun sudah mengerti. Dia lalu berjalan keluar menuju mobil untuk mengambil barang-barang di mobil Tirta.
Arini telah berada di dalam kamar Tirta setelah menyiapkan barang-barang keperluan untuk syuting besok, kini tibalah saat yang dia tunggu dan paling di sukai Arini yaitu mengkepoin kado dari fans yang selalu membuatnya penasaran akan isi di balik bungkus kado itu.
Arini duduk di sofa manik matanya mulai menilik, bungkusan yang mana lebih dulu yang akan dia buka. “Wah hadiah dari fans kakak setiap hari semakin banyak saja ya kak,” ujar Arini ceria seperti anak kecil, arah pandangannya masih menatap bungkusan.
“Emmm,” jawab Tirta duduk bersandar di puncak tempat tidur menatap Arini yang selalu ceria saat membuka kado.
“Sayang sekali saya sudah tidak bisa membuka kado dari mereka lagi. Apalagi kado cemilan dari fans setia kakak yang bernama Tita,” tutur Arini tak bersemangat.
“Memangnya kenapa?” tanya Tirta melorotkan tubuhnya, hendak mengubah posisi menjadi berbaring.
“Nenek sudah kembali,” jelas Arini menarik sudut bibirnya menatap Tirta yang mengurungkan niat untuk meluruskan tubuhnya.
“Mereka sudah pulang?” tanya Tirta
“Ia.” Arini mengangguk.
__ADS_1
Tirta tidak tahu apa dia harus senang atau sedih dengan kabar kepulangan nenek dan orang tuanya. Mereka telah kembali itu pertanda tugas menjaga Arini telah selesai. Pemuda ini lalu berbaring menatap langit-langit kamar, entah mengapa tiba-tiba perasaannya menjadi tidak karuan.
Arini melangkah mendekat ke arah Tirta saat melihatnya telah berbaring itu berarti Arini harus menjalankan tugas untuk memberikan rangkaian perawatan wajah pada Tirta.
Arini meraih kotak skincare lalu menarik kursi, duduk di pinggir ranjang. Dia menatap wajah Tirta yang telah menutup mata, siap menerima sentuhan dari Arini.
“Kak Dilan, bolehkah saya meminta beberapa bantal dan boneka hadiah dari fans kakak?” pinta Arini mulai mengusap wajah Tirta dengan kapas.
“Ambil saja, semua yang kamu suka,” masih dengan mata tertutup.
“Terima kasih kak. Saya akan membawa beberapa bantal dan boneka yang ada nama Dilan Magika sebagai kenang-kenangan. Akan saya pajang di kamar nanti,”
Tirta membuka kelopak mata, saat mendengar ucapan Arini
“Oh ia kak. Saya sekalian pamit. Besok saya sudah harus pulang ke rumah. Menjaga nenek.”
“Ia, kak.” Arini menarik sudut bibirnya.
Sejenak Tirta terdiam lalu berkata. “Baguslah. Setelah ini kita akan kembali ke kehidupan kita masing-masing lagi,” ketus Tirta terdengar biasa saja namun ada rasa tidak rela di ujung hatinya mendengar perempuan polos yang baru beberapa bulan menemani harinya akan pergi besok.
“Kita akan jarang bertemu.” Arini tertunduk lesu dia sedih akan berpisah dengan idolanya kemudian mendongak menarik sudut bibirnya. “Tapi kalau kakak memanggil saya nonton orang syuting lagi saya pasti datang,” ujar Arini kembali bersemangat dan mengembangkan senyuman. Pengalaman tinggal bersama artis idola sangat menyenangkan bagi Arini, ia bisa mengetahui kehidupan si artis, bertemu dengan idola-idola lainnya. walau pun Tirta galak dan ketus padanya tapi pemuda itu sangat perhatian membuat Arini merasa nyaman.
Hening menguasai suasana, terdiam dengan pikiran masing-masing terutama Tirta yang tidak seperti biasanya, kali ini Tirta tidak bisa menutup kelopak matanya. Terjangan rasa kantuk dan lelah yang tadi menghampiri seketika hilang saat Arini mengucapkan kata pamit, entah mengapa perasaannya menjadi gundah, seakan tidak rela.
Arini sedikit gugup mengusap wajah Tirta karena artis tampan itu membuka mata dan terus memandanginya, hingga wajah tampan ini terpampang nyata dari dekat, membuat fans seperti Arini menjadi terbius akan tatapan sang idola. Arini tidak tahu apa yang sedang di pikirkan pemuda ini.
__ADS_1
“Sudah selesai,” ucap Arini menarik napas lega saat semua skincare telah teramplikasi di wajah Tirta, ini adalah tugas terakhirnya. Dia pun merapikan kembali tempat skincare Tirta. Sebelum beranjak meninggalkan kamar Tirta. Namun sekali Arini akan mengucapkan terima kasih pada Tirta yang belum juga terpejam dan masih menatapnya. Ini adalah malam terakhirnya menjalani tugas dari Tirta dan mungkin mereka tidak akan melewatkan malam seperti ini lagi.
“Terima kasih kak, karena selama ini menjaga saya dengan baik dan maaf juga selama ini saya selalu menyusahkan kakak,” tutur Arini dengan tulus melengkungkan senyuman menatap wajah datar Tirta.
“Terima kasih karena kakak juga saya bisa bertemu dan mendapatkan tanda tangan beberapa artis terkenal,” tambah Arini merasa sangat beruntung
Tirta hanya menjawabnya dengan anggukan pelan dan wajah datar tanpa ekspresi yang bisa di baca.
Arini bangkit dari duduknya, berbalik namun baru dua langkah Tirta bangun lalu menarik tangan Arini seakan tidak ingin gadis ini pergi meninggalkannya.
Tubuh Arini terhuyung akibat sentak tangan Tirta hingga jatuh di pelukan Tirta.
Tirta menarik tengkuk leher Arini mendekat, melingkarkan sebelah tangannya di pinggang gadis ini menguncinya. Setelah itu menempelkan bibirnya di bibir ranum Arini. Mata Arini terbelalak, saat Tirta menyambar bibirnya. Mengecup singkat bibir Arini merasakan kenyal dan manis bibir ranum itu. Awalnya hanya kecupan singkat namun tak lama seakan menjadi candu bagi Tirta dia tidak bisa menghentikannya. Kecupan-kecupan kecil pun mulai Tirta lakukan, dengan lembut Tirta mellumat bibir Arini meluapkan perasaannya. Tubuh Arini menegang, jantungnya berdetak kencang, dia hanya bisa diam tanpa membalas saat Tirta terus menyesap, mengulum meneguk manis bibirnya. Arini menutup matanya saat Tirta semakin mellumat bibir bawahnya, membuat mulutnya, sedikit terbuka memberi celah untuk Tirta semakin mengexplore kehangatan rongga mulut Arini dengan sapuan lidah. Ciuman Tirta semakin dalam mengulum dan menyesap terasa semakin menuntut. Membuat Tirta terbakar gairah, dengan deru napas yang telah memburu.
Tirta tersentak menghentikan pangutannya saat bayangan Andra terlintas di kepalanya, seketika akal sehatnya kembali. Gadis ini mantan istri kakaknya batinnya.
Tautan itu terlepas Tirta menempelkan keningnya di kening Arini, bahu mereka terlihat naik-turun napas kedua terengah-engah mencoba berlomba meraup udara sebanyak-banyaknya terutama Arini seakan tidak bisa bernapas akan serangan mendadak yang di terima dari Tirta membuat tubuhnya serasa lemah tak bertulang.
Tirta menatap wajah Arini yang merona merah lalu mengecup sekilas kening Arini dengan lembut.
“Anggap saja ini ciuman perpisahan untukmu,” alibi Tirta masih dengan gengsi yang tinggi, tidak rela mengakui jika ia menginginkan Arini. dengan napasnya masih tersengal Tirta lalu melepaskan tangannya di tengkuk Arini.
Arini bergegas bangkit. dari ranjang setelah merasa telah terbebas. Arini menutup mulutnya dengan punggung tangan tanpa kata melangkah cepat keluar kamar Tirta.
Setelah Arini keluar kamar Tirta mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Mengapa beberapa hari ini selalu menginginkan tubuh itu dan tidak bisa menahan diri, seolah tubuhnya bergerak sendiri untuk selalu menyentuh Arini ditambah gadis itu akan pergi membuat perasannya semakin tak karuan.
__ADS_1
Waktu telah menunjukkan dini hari namun Tirta belum juga bisa terlelap memikirkan Arini, apalagi mengingat ciumannya bersama Arini. dia pun tidak mengerti ada apa dengan dirinya bukankah seharusnya dia senang karena gadis itu akan menjauh dari hidupnya mengapa sekarang dia merasa resah.