
Setelah mengantar Arini pulang dan mendapatkan perintah untuk menjauhi cintanya. Hati Tirta semakin resah. Menjauhi Arini tentu saja dia tidak bisa.
Tirta mengendarai mobilnya meluncur menuju rumah sahabatnya Rian yang sedari tadi terus menghubunginya meminta penjelasan, tentang kabar mengenai hubungannya dengan Arini.
Tirta baru saja memarkirkan mobil mewahnya menatap Rian yang telah berdiri di samping kendaraan.
“Lan sebenarnya apa yang telah terjadi?” tanya Rian menyambut Tirta yang baru saja turun dari mobil.
Tirta hanya diam berjalan masuk ke dalam rumah mewah beraksen putih milik Rian. Ya menjadi asisten dan maneger seorang Dilan Magika membuatnya juga bisa hidup mencicipi kehidupan mewah. Itu semua berkat kekompakan mereka dalam bekerja keras.
Tirta menghempaskan tubuhnya di punggung sofa ruang tamu. Memijat pangkal hidungnya sungguh hari yang sangat berat. Rian pun duduk di samping sahabatnya.
“Lan apa yang terjadi? Seluruh media memberitakan bahwa kamu ke kampus dan mengakui Arini sebagai istrimu, bahkan desas-desus di tv mengatakan Arini janda?” cecar Rian.
“Arini menang istriku,” jawab Tirta santai.
Rian tercengang dengan rahang terbuka. “What!” sentaknya memasang wajah tak percaya.
“Kami menikah beberapa bulan lalu.”
Rian memukul bahu sahabatnya tak terima membuat Tirta meringis, mengelus tangannya.
“Bagaimana kau menikah diam-diam tanpa memberi tahukan aku!” bentaknya, dia dan Tirta memiliki hubungan melebihi saudara. Dan pemuda di sampingnya ini menikah tak memberitahukannya.
“Sorry Ian. Kejadiannya begitu cepat. Saat itu ayah dan ibuku datang dan mengatakan nenek sakit, mereka menyuruhku pulang menjenguk nenek. Tapi saat aku berada di sana mereka malah menyuruhku menikah dengan Arini,” jelas Tirta.
“Kamu menerima menikahi Arini?” Alis Rian bertaut menatap lekat sahabatnya, Tirta bukanlah pemuda yang gampang diatur.
“Demi kesehatan nenekku.”
__ADS_1
“Lalu mengapa kau menyembunyikannya dariku!” bentak Rian.
“Aku pikir pernikahan ini hanya sementara, setelah nenek sembuh, aku akan menceraikannya. Tapi aku salah, aku jatuh cinta padanya,” ucap Tirta pelan tidak menyangka malah tidak bisa melepaskan Arini.
“Awalnya aku tidak bisa menerimanya karena dia.” kalimat Tirta tertahan Rian pasti akan sangat terkejut dengan apa yang akan dia ucapkan. “Arini adalah istri Andra!”
Dan benar saja Rian tertegun mendengarnya. Terus menatap intens Tirta. Mulutnya terkunci entah apa yang harus ia katakan. Tirta lagi-lagi mendapatkan bekas kakaknya. Oh itu yang sangat di benci Tirta.
“Keluargaku sangat menyayangi Arini, karena Andra tidak pernah kembali, mereka juga tidak ingin melepaskannya sebagai menantu. Karena itulah aku yang menikahi Arini agar dia tetap berada di rumah itu,” jelas Tirta.
Rian menghela napas berat entah apa yang harus dia lakukan.
“Lalu kita harus berbuat apa? Jika kamu mengakui Arini sebagai istrimu. Karier yang selama ini kau bangun akan hancur, fans akan meninggalkanmu.” Rian mengingatkan langkah yang akan di tempuh Tirta.
Tirta memasang wajah tak bersemangat. “Aku tidak peduli Ian, lagi pula berhenti menjadi artis juga tidak akan membuat kita bangkrut, kita punya banyak bisnis,” kata Tirta saat ini yang ada di pikirannya hanya Arini.
“Apa-pun keputusanmu, aku akan mendukungmu.” Rian menepuk bahu sahabatnya memberi semangat
“Upss kita ....” ralat Rian. “Sepertinya hanya aku saja yang akan menggembel, karena kau kan anak orang kaya, kau tinggal pulang dan menangis di hadapan ayahmu, maka kau akan mendapatkan warisan. seperti ini Ayah maafkan anakmu ini,” ledek Rian menirukan adegan menangis seperti anak kecil membuat Tirta mendengkus memutar bola mata jengah.
“Sialan kau!” Tirta melangkah tinju pelan ke perut Rian yang sedang merangkulnya. “Aku lebih baik menemanimu melarat lagi, dari pada harus pulang dan menangis di depan ayahku.” Membalas rangkulan sahabatnya.
“Makasih Ian, selama ini kau selalu menemaniku, di titik terendahku, bahkan kau membawa menuju puncak! Kau memang sahabat terbaik.” Kalimat tulus terucap untuk Rian sahabatnya yang selalu berada di saat apa-pun. Saat di melangkah keluar dari rumah Abraham Rianlah yang menampungnya.
“Itu gunanya sahabat! Kau juga sudah membuatku mendapatkan semua ini! Kita sudah seperti saudara,”
Rangkulan mereka terlepas setelah saling mengucapkan terima kasih.
“Pergilah berkencan. Kau sudah tua,” ejek Tirta dengan bangga.
__ADS_1
Rian merotasi matanya mendengar ejekan Tirta. “Kencan! Bagaimana kencan! Kau sudah menikahi Arini,” balas Rian menaik-naikkan alisnya.
“Mau ku benturkan kepalamu itu, kau masih memikirkan istriku,” hardik Tirta yang tahu Rian memiliki perasaan pada Arini.
“Dia sangat manis,” goda Rian gemas menangkup pipinya sendiri.
“Berhenti... dia istriku.” Tirta lalu mengapit leher Rian dengan lengannya.
“Lan lepaskan!” keluh Rian menepuk lengah Tirta untuk di lepaskan.
“Tidak!”
“Hebat juga Arini dia bisa menaklukkanmu! Dia bisa meruntuhkan gengsimu yang tinggi itu! Kau mengakuinya kalau kau mencintainya. Lihatlah kau bucin sekarang,” ledek Rian.
“Aku tidak peduli!” Tirta semakin menekan lengannya.
“Aduh lepaskan kau ingin membunuhku! Aku belum menikah!”
“Biarkan saja!”
Seketika keresahan Tirta sedikit berkurang karena sahabatnya. Dia memang beruntung memiliki sahabat seperti Rian yang akan menemaninya menghadapi apa-pun.
__ADS_1