Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
istri Dilan


__ADS_3

Arini telah menjalankan tugasnya dengan baik. Semua barang Tirta telah ia siapkan di mobil. Kini hanya tinggal sarapan lalu berangkat ke kampus.


Pasangan terpaksa menikah ini telah berada di ruang makan, menikmati sarapan tanpa satu kata pun.


Seperti biasa Arini menyantap makanannya dengan lahap, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar bersaut-sautan dari piringnya. Tirta hanya diam-diam mencuri pandang menatap Arini, yang selayaknya berada dalam sebuah adegan makan-makan di teve. Pemuda ini terkadang menggelengkan kepala pelan tak habis pikir dengan pola makan Arini. Seperti saat ini, dia menatap aneh. Ketika Arini memakan omelet dengan sepiring nasi putih, berbeda dengan piringnya yang hanya ada omelet. Sungguh menu sarapan yang berat dan pantang baginya. Namun ia juga suka melihat wajah Arini terutama pipinya yang menggembung, terlihat lucu ketika makan dengan lahap.


“Semalam kau tidur di kamarku,” sindir Tirta memecah kebisuan di antara mereka mengingatkan kejadian Arini yang tidur di kamarnya.


Mendengar itu, Arini mengalihkan pandangannya dari piring menatap wajah Tirta. “Maaf Kak saya ketiduran.” Gadis ini memaksakan senyuman.


“Badanmu itu sangat berat, sampai aku tidak bisa menggendongmu kembali ke kamarmu. Itu karena kau suka ngemil di tengah malam dan terus makan nasi yang banyak,” cibirnya menatap sinis.


“Masa sih kak saya berat, padahal timbangan saya normal,” elak gadis yang merasa memiliki tubuh ideal ini dengan wajah polosnya.


“Kau ini tidak bisa ya tidak makan nasi?” tanya Tirta dengan nada sinis.


“Ia, kak. Kalau saya ngak makan nasi sehari badan saya lemas, kalau  bukan nasi ngak nendang, ngak bertenaga,” jawab gadis kampung ini dengan senyum terkembang.


“Kamu ngak takut gemuk?” untuk ke sekian kalinya pertanya itu terlontar untuk Arini.


“Tidak kak.” Arini menggelengkan kepalanya.


Tirta hanya mendengus, Arini kembali melanjutkan suapannya.


Tak beberapa lama mereka telah selesai sarapan, kini siap untuk menjalankan kesibukan masing-masing.


Dret ... Dret ....


Getar telepon Arini yang berada di meja, membuat gadis yang masih merapikan meja makan meraihnya.

__ADS_1


“Ya mas.” Arini terdiam sejenak menyimak suara di seberang sana.


“Ia tunggu sebentar. Saya keluar.”


Alis Tirta berkerut dalam mendengar Arini seperti sedang akan bertemu seseorang. Ia pun menjadi penasaran.


“Siapa?”


Tanya Tirta yang belum beranjak dari meja makan menatap Arini yang mempercepat gerakannya.


“Saya pesan ojol mas, mau ke kampus,” ucap Arini yang telah menyelempang tasnya. karena kejadian kemarin saat mendengar pernyataan cinta Gio yang diketahui oleh orang-orang, pasti banyak yang akan jahil padanya, salah satunya seperti kejadian kemarin, ban motornya kempes. Arini  sudah tidak ingin mengendarai motor lagi ke kampus,  takut kejadian ban kempes terulang lagi dan merepotkan dirinya.


“Untuk apa? Kenapa tidak pakai motor?” tanya Tirta.


“Motornya agak bermasalah sedikit kak,” jawabnya sedikit berbohong di selingi senyuman kaku.


“Motor itu rusak,” ulang Tirta. “Aku akan pesankan yang lebih bagus, aku beli yang baru,” usul artis berbayaran tinggi ini, membeli sepeda motor hanya hal kecil baginya.


Arini yang terlihat buru-buru mendekat ke arah Tirta yang duduk tertegun menatapnya lekat, hingga gadis ini menarik tangan kanan Tirta lalu mencium punggung tangan suaminya.


"Saya pergi dulu kak,” pamit Arini mempercepat langkahnya.


Tirta menatap punggung tangan yang di cium oleh Arini. Lagi jiwa orang tua sebagai bapak Arini kembali merasuk saat gadis itu mencium tangannya.


“Ya itu bocah, ntar hilang lagi, kalau ikut sama orang asing,” batin Tirta yang melihat Arini hanya gadis kecil yang polos. dia kembali teringat di kampung dulu saat akan berangkat ke sekolah pesan orang tua jangan ikut dengan orang asing.


“Hei batalkan pesananmu itu,” ujar Tirta membuat langkah Arini terhenti lalu berbalik menatap Tirta.


“Kenapa kak?” tanya Arini tak mengerti

__ADS_1


 “Biar aku yang mengantarmu.”


“Ngak perlu kak biar saya naik ojol aja,” tolak gadis ini tidak ingin membebankan Tirta.


“Nanti kamu di bawa kabur sama tuh tukang ojek, kaya anak kecil yang sering hilang itu, tahu-tahunya di culik, dimutilasi, dijadiin tumbal bikin jembatan,” jelas Tirta bergidik ngeri mengenang nasehat masa kecilnya dan kini ia terlihat seolah sebagai bapak Arini.


“Di bawa kabur. Tidak mungkin kak.” Arini terkekeh pelan dengan pikiran konyol Tirta.


“Sudah biar aku mengantarmu, kau urus dia, tunggu aku di mobil.” Tirta bangun dari duduknya ia bersikeras mengantarkan Arini ke kampus.


Arini pasrah, ia pun mengurus tukang ojol yang telah berada di depan rumah.


***


Arini dan Tirta telah berada di dalam mobil terdiam dengan pikiran masing-masing. Tak beberapa lama mobil menepi di depan gerbang kampus.


Tirta menatap suasana kampus tempatnya dulu juga menimbah ilmu.


“Makasih ka, sudah mengantar saya hari ini,” ucap Arini mengembangkan senyuman menatap pemuda tampan dengan kacamata hitam menutupi matanya terlihat bertambah keren, duduk memegang kemudi.


“Emm, masuklah, cepat turun nanti ada yang melihatku,” balasnya dengan nada datar.


Arini melepaskan seat beal yang melindungi tubuhnya, Membuka pintu mobil setelah itu berjalan cepat sambil. Tertunduk menyembunyikan wajahnya, karena setelah pengakuan cinta yang ia terima dari Gio, banyak orang semakin memandang sinis padanya.


Tirta menatap tatapan mahasiswa yang menatap Arini dan terlihat saling berbisik.


“Kenapa orang-orangnya menatapnya seperti itu.” Tirta mempertegas pandangannya dengan membuka kacamata yang bertengger di atas hidung mancungnya, mengamati orang yang memandang istrinya dan Arini juga berjalan tertunduk menyembunyikan wajahnya.


“Ini pasti karena, ia cupu. penampilannya bisa saja, ini kan kampus elit, banyak anak orang kaya belajar di sini. Sedangkan penampilannya biasa, pantas saja siswa di sini  memandang remeh padanya,” sungut Tirta. Arini gadis sederhana dan cara berpakaiannya juga biasa saja, karena itulah orang meremehkannya itu pikirnya padahal sebenarnya karena status Arini yang telah diketahui oleh semua mahasiswa.

__ADS_1


“Berani-beraninya mereka menatapnya seperti itu. Kalian pikir dia tidak bisa berpenampilan sama seperti kalian? Kalian telah salah besar meremehkan Istri dari Dilan Magika, kita lihat saja nanti,” gerutu Tirta berdecak kesal, tangannya mencengkeram stir mobil memasang wajah cemberut, tanpa sadar Tirta menyebut Arini istrinya. Hatinya terasa panas, seolah tak terima istrinya mendapatkan pandang miring dari mahasiswa kampus.


Setelah puas mengamati, tak beberapa lama Tirta pun kembali memacu kendaraannya meninggalkan kampus.


__ADS_2