
Malam menyambut seperti biasa Arini berada di dapur menyiapkan hidangan makan malam untuk mereka berdua, karena kali ini Tirta pulang lebih awal. Cerita Rian tentang hubungan Andra dan Tirta sedikit mempengaruhi moodnya, bagaimana Andra yang sangat baik dan tulus bisa menjadi penyebab perginya Tirta dari rumah. Seharian ini bayangan Andra terus terniang di pikirannya, bagaimana nasib mantan suaminya yang tidak pernah kembali itu? Apa dia masih hidup atau mati? Setiap mengenang Andra hanya kesedihan yang memenuhi relung hatinya.
Gadis kampung ini mengulek kacang goreng dengan cobek sambil sesekali termenung. Arini sedang malas memasak masakan berbeda, hingga dia memutuskan hanya membuat makanan simpel yaitu pecel yang bisa dinikmati bersama Tirta. Dari pada harus memakan salad sayur ala menu diet Tirta lebih baik, ia menyiram sayur dengan bumbu kacang, menyesuai dengan lidahnya. Toh sama saja itu pikirnya.
“Apa sudah siap?” tanya Tirta yang masuk ke dalam dapur membuyarkan lamunan Arini.
Arini tersentak menatap Tirta sekilas. “Sedikit lagi kak,” ujar Arini mempercepat gerakannya.
Tirta duduk di kursi makan menunggu Arini menghidangkan makanannya sambil bermain ponsel.
Saat mereka sibuk masing-masing. seketika Perhatian mereka kompak tertuju pada suara langkah kaki, yang mendekat ke arah mereka. Tirta mendengkus memutar bola mata malas melihat pemuda akan bergabung.
“Kak Rian,” sapa Arini lebih dulu.
“Ngapain lagi kamu kemari? Pagi datang, malam datang kenapa kau tidak tinggal saja di rumah ini,” ketus Tirta membuat Rian hanya memaksakan senyuman menatap Arini.
“Hai Arini,” sapa Rian setelahnya menarik kursi di samping Tirta mendaratkan tubuhnya.
“Aku lagi mau bahas kerjaan, ini tawaran menggiurkan,” ucap Rian menatap Tirta.
“Kerjaan apa?” tanyanya dengan tak bersemangat.
“Aku ingin memberitahumu jika aku baru saja bicara dengan produser yang terkenal dia menawarkanmu peran utama dalam film,” jelas Rian.
“Film?” ulang Tirta.
“Iya, sesuai keinginanmu, aku sudah melonggarkan jadwalmu selama sebulan terakhir. Menolak banyak tawaran, kali ini kita harus mengambil beberapa tawaran yang sudah begitu banyak menunggumu. Kau harus bekerja keras,” tutur Rian.
“Film apa?” tanyanya.
“Film adaptasi dari novel milik Adinda Adi, yang judulnya jodoh pilihan kakakku,” jelas Rian. Arini yang mendengarkan penjelasan Rian seketika maju mendekat meninggalkan masakannya.
“Wah benarkah kak?” tanya Arini kegirangan membuat Tirta dan Rian kompak menatapnya.
“Ia, Arini.” Rian masih terpaku bingung dengan keceriaan Arini begitu pun Tirta.
“Saya sudah baca semua novelnya Adinda Adi,” ungkapannya dengan menggebu. “Kak Dilan di tawari memerankan siapa?” tanya dengan antusias.
“Peran utama sebagai Aska,” ujar Rian terus menatap senyum manis Arini.
“Jadi tiang listrik!” ucap Arini semakin kegirangan. “Wah mau ya kak,” pinta Arini membungkukkan badannya, memegang lengan Tirta merengek seperti anak kecil.
“Tiang listrik!” ulang Tirta ia belum mengerti apa maksud Arini, dia tidak tahu isi cerita tentang novel yang di maksud Arini.
__ADS_1
“Ia, kak. Di cerita Aska memiliki badan tinggi yang menjulang, sama seperti kakak dan karakter itu memang cocok sama kakak. ”
“Ia, Lan benar kata Arini, karena tinggi badanmu yang membuat menawarkan peran utama ini,” jelas Rian.
“Jadi maksudmu tubuhku ini seperti tiang listrik! Tinggiku seperti tiang!” sembur Tirta bersedekap tangan di dada, memicingkan mata pada Arini.
“Bukan itu.” tampik Arini tersenyum kaku.
“Ian Tolak tawaran film itu. aku tidak mau setelah bermain di film itu, aku juga akan bergelar tiang listrik,” titah Tirta pada asistennya dengan tegas.
“Ya kak sayang banget.” Arini memasang wajah kecewa.
“Ia, sayang banget Lan. Film Ini bertabur bintang besar, bayarannya juga gede,” bujuk Rian.
“Ia, kak tolong terima. Saya sangat suka novel itu.” Arini masih berdiri di samping Tirta yang hanya diam. Mendengar Arini merengek dia menjadi tak tega menolak permintaan gadis yang sangat antusias ini.
“Dan ada satu lagi yang spesial Ricahd Sebatian juga akan ambil bagian dalam film ini, sebagai kakak Bule Jerman. Dan dia tidak mungkin menolak peran itu karena Marsya ayunda akan menjadi Nayla,” tambahnya membuat Arini semakin menggila mendengarnya.
“Jadi Ricadh akan menjadi kakak ipar, kak Dilan nanti.”
“Kalau dia mengambil peran ini,” ujar Rian dengan melirik Tirta.
“Sudah jangan bahas itu aku sudah lapar. Aku ingin makan,”
Arini tertunduk lemah, memutar badannya berjalan dengan tak bersemangat untuk menyajikan masakannya. Tirta menarik napas berat, melihat keceriaan Arini hilang. Ia berfikir akan menimbang apakah dia akan mengambil peran karakter tiang listrik, untuk menyenangkan gadis itu.
“Ngomong-ngomong kamu benar-benar sangat tahu cerita ini?” tanya Rian.
“Ia kak, Cerita itu seru ada geng yang fenomenal yang namanya geng pemuda tanpa masa depan mereka lucu suka bernyanyi, pokoknya heboh,” jelas Arini.
“Yang akan nyanyi dan menjadi ketua geng itu siapa kak?” tanya Arini lagi.
“Zaldy penyanyi idola kamu. Dia sedang mencoba sesuatu yang baru, ini film pertamanya dan ia hanya berakting sebentar menjadi penyanyi, menurut cerita nanti dia akan meninggal.”
“Ia, kak. Itu sedih banget. Saya sampai nangis. Saya suka persahabatan mereka bertiga, tiga cowok ganteng dan sangat suka terutama karakter Endy, Oh ia Kak Rian yang memerankan karakter Endy aktor siapa?” tanya Arini penasaran.
“Kenzi anggara.”
“Wah kak Kenzi.” Arini kembali berdecak kagum.
Mendengar nama Kenzi ambil bagian dalam film itu membuat Tirta semakin yakin untuk menolaknya. Ia tidak ingin Arini bertemu dengan Kenzi apalagi setelah melihat keakraban mereka.
“Tolak tawaran itu!” sambar Tirta dengan cepat.
__ADS_1
“Aku tidak mau main jadi lelaki tiang listrik, di film itu,” Alibi Tirta melengos.
“Lan pikirkan lagi.”
“Kak tolong terima.”
“Sudah pokoknya aku tidak mau bermain di film itu. sudah jangan bahas ini lagi. aku ingin makan,” ucapnya dengan penekanan.
Rian dan Arini kompak menghela napas berat, gagal membujuk Tirta untuk mengambil peran karakter tiang listrik. Mereka hanya bisa pasrah. Dan mulai menyantap menu makanan sederhana Arini.
“Makanan ini enak kalau pedas, Kenapa rasanya tidak terasa pedas sama sekali?” tanya Tirta sambil mengunyah.
“Kakak suka makan pedas?” tanya Arini mengernyitkan alis, ia tidak tahu jika artis pemilih makanan ini menyukai makanan pedas. Selama ini menu makanan mereka berbeda.
“Dia jagonya makanan pedas,” tambah Rian.
“Saya memang tidak memasukkan cabe.”
“Memangnya kenapa?” tanya Rian.
“Saya kira kak Dilan tidak suka pedas sama seperti Mas Andra,” celetuk Arini singkat. ia tidak tahu jika ucapannya telah membuat hati pemuda yang ada di hadapannya menjadi panas.
Tirta yang tadi masih asyik menyuapkan makanan ke mulut tiba-tiba melepaskan kasar sendok yang ia pengang, hingga berdeting keras. Ia lalu bangkit dari duduknya membuat Rian dan Arini tersentak dan ikut berdiri menatap wajah marah Tirta.
“Lan,” Rian tahu sahabatnya ini pasti marah karena Arin mengucapkan nama Andra.
“Aku bukan Andra! Dan jangan pernah samakan aku dengannya!” ucapnya dengan nada dingin terlihat sekali jika pemuda ini sangat marah. Tirta berlalu meninggalkan mereka.
“Lan Arini ngak sengaja. Dia ngak tahu!” bela Rian namun Tidak idahkan oleh Tirta.
“Dia memang senisitif jika mengenai Andra,” ungkap Rian.
Arini yang memang seharian ini memikirkan Andra semakin merasa bersalah. “Kak Dilan!” panggil Arini dengan rasa bersalah. “Saya minta maaf!”
“Kak Dilan!” Arini hendak mengikuti Tirta namun langkahnya terhenti saat Rian mencekal tangannya.
“Biarkan saja, nanti juga baik sendiri.”
Arini menatap punggung Tirta yang telah menghilang. Sungguh dia tidak punya maksud untuk menyakiti hati Tirta.
Hahahaha lagi-lagi aku menyempil dalam adegan, ngambil bagian sebagai penulis yang novelnya mau di filmkan dasar halu. Dasar ya memang menghayalku sudah kelewatan, sok-sok lagi ceritanya mau di filmkan. ( itu harapan author) ini karena author pusing tentang informasi dunia artis dan mikir tentang nama film, nama artis . tercetuslah ini biar saya gampang pakai cerita bule jerman saja.
Bwt Si dilan nanti ngambil peran jadi Aska si tiang listrik ganteng ngak ya?
__ADS_1
Mau dong bang dilan biar bisa nostalgia......sama geng pemuda tanpa masa depan.
Tapi bagaimana ini babang Dilan ngambek?