Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
menemui Arini


__ADS_3

Malam menjelang di kediaman Abraham, Perbincangan hangat terjadi di meja makan mereka sedang  menikmati makan malam bersama. Dentingan sendok  terhenti saat manik mata mereka kompak menangkap bayangan pemuda tampan nan tinggi berdiri baru saja datang.


“Kak Dilan!” sapa Arini melengkungkan senyuman pada pemuda yang baru beberapa hari tidak bertemu.


Tirta hanya berdiri di tempat menatap lekat Arini. Hatinya berdesir hebat saat kembali menatap wajah cantik yang selama ini bermain-main di pikirannya. Seakan keresahan yang di rasakannya beberapa hari ini menghilang saat melihat wajah cantik itu lagi.


“Tirta,” sapa Ana mengembangkan senyuman. Ia sangat senang putranya datang. Ana kemudian bangkit dari duduknya. Mendekat ke arah Tirta. “Ibu sangat senang kamu datang,” ucap Ana kemudian memeluk rindu tubuh putranya. Tirta hanya diam manik matanya terus menatap ke arah Arini.


“Ayo ikut makan bersama kami.” Ana menarik tangan Tirta menggiring tubuh tinggi itu duduk di meja makan bergabung bersama mereka, duduk di samping ayahnya. Mereka hanya saling diam tanpa menyapa.


“Kak Dilan, apa kabar?” sapa Arini mengulas senyum, menatap Tirta yang duduk di hadapannya.


Jantung Tirta seketika berdebar kencang saat mendengar panggilan itu lagi dari Arini. Dan benar. ternyata bertemu dengan gadis ini bisa membuat kegalauannya selama berhari-hari menguap, menghilang seketika.


“Aku kemari untuk bertemu nenek. Apa dia baik-baik saja,” tekan Tirta memutar pandangannya pada Ayah, ibu dan Arini masih saja dengan harga diri yang tinggi tidak mau orang tahu, jika dia ke rumah ini karena mencari Arini. Mau di taruh di mana mukanya jika mereka tahu alasannya berkunjung karena ingin bertemu Arini perempuan yang ia tolak mati-matian dan kini menjadi boomerang baginya.


"Nenek kamu baik-baik saja. Dia ada di kamar,” sahut Ana. “Setelah makan ibu akan mengantarkanmu padanya,” tambahnya.


Tirta mengangguk pelan. Mereka melanjutkan makannya. Sepanjang santap malam itu Tirta menatap Arini yang sedang menyuapkan makanan. Seperti Arini biasa makan dengan lahap. Inilah moment yang sangat dia rindukan yaitu mencuri pandang saat di meja makan.


Makan malam telah usai. Tirta tinggal menunggu waktu yang pas untuk bicara dengan Arini.


“Ayah ke kamar dulu,” pamit Hasan berdiri dari duduknya. Dia tidak ingin duduk bersama Tirta karena tak mau jika hanya akan mematik perdebatan. “Arini tolong bawakan susu ayah ke kamar,” titah Hasan kemudian berlalu.


Tirta berdecak kesal saat Arini juga berdiri meninggalkan ruang makan dengan susu di tangan. Sedangkan dia masih tertahan dengan ibunya padahal Tirta masih ingin di satu ruang bersama Arini.


“Ahhh. Kenapa harus menyuruh Arini! Kan di rumah ini banyak pelayan, kenapa tidak menyuruh pelayan saja,” gerutu Tirta saat melihat Arini telah pergi meninggalkannya.


“Kamu ingin bertemu nenek kan? Nenek pasti sangat senang kamu datang,” Ana kemudian menggiring Tirta untuk bertemu nenek Nani.


Di sinilah Tirta berada  di kamar nenek Nani berbincang hangat dengan perempuan tua yang Sepanjang obrolan terus tersenyum,. sangat bahagia akan kedatangan cucunya.

__ADS_1


“Nenek senang kamu datang, sering-seringlah kemari,” ucap nenek Nani mengelus punggung  tangan cucunya.


“Iya, nek.”


Tirta menarik garis bibirnya, saat melihat Arini juga masuk ke dalam kamar dengan nampan yang diatasinya cangkir yang berisikan teh untuk Tirta.


“Di minum kak,” ucap Arini saat meletakkan minum di meja menjamu selayaknya tamu. Kembali Tirta terbius akan kehadiran Arini. Ini adalah kesempatannya untuk bicara banyak dengan Arini


“Bagaimana kuliah kamu?” tanya Tirta basa-basi mengawali obrolan.


“Baik kak,” jawab Arini.


Suara Tirta tertahan saat melihat pintu kamar terbuka. Pemuda ini membuang napas kasar saat Ana masuk, bergabung ke dalam kamar.


“Arini tolong bantu ibu, catat belanjaan keperluan rumah,” pinta Ana.


“Baik. Bu,” jawab Arini berbalik kemudian berlalu meninggalkan kamar setelah pamit.


Lagi-lagi Tirta berdecak kesal. Saat Arini telah pergi bersama ibunya.


“Ahhhh. Kenapa semua orang di rumah ini bergantung padanya. Memangnya di rumah ini tidak punya pelayan, semua Arini,” gerutu Tirta dalam hati.


Pemuda ini telah menyadari jika keluarganya sangat bergantung pada Arini, pantas saja mereka sangat sedih jika gadis itu harus pergi dari rumah dan jika tidak lagi menjadi menantu Abraham.


Telah satu jam lebih Tirta berada di dalam kamar, bertukar cerita bersama neneknya.


“Tirta kamu tidak memiliki hubungan kan dengan Marsya Ayunda?” tanya nenek Nani menatap cucu yang duduk di sampingnya tentang kabar yang beredar di teve. “Apa kalian pacaran?” tanya nenek Nani.


Tirta tersenyum miring dengan gosip yang di dengar neneknya. “Ya, enggaklah nek, dia itu hanya lawan main di sinetron,” bantah pemuda ini.


“Nenek juga berharap begitu. Nenek lebih suka kamu sama Arini. Walau pun dia Cuma gadis biasa bukan kalangan artis tapi dia juga tidak kalah cantik dengan artis, baik lagi,” puji nenek Nani dengan perempuan pilihannya.

__ADS_1


Tirta hanya menarik sudut bibirnya mendengar puji nenek Nani tentang Arini dan mengakui itu semua benar adanya.


“Hanya saja gadis sebaik dia kurang beruntung. Nenek selalu bersedih jika melihat senyumannya, nenek terkadang merasa bersalah akan keegoisan nenek.” nenek Nani tertunduk sedih. “Seharusnya dia mendapatkan kebahagiaan cinta. Namun nasibnya malang, Andra menghilang saat mereka baru saja menikah seminggu dengannya. Setelah itu kami menikahmu denganmu hanya agar dia tidak kembali pada orang tuannya dan menjadi menantu orang lain. Tapi sekarang kamu pun tidak bisa menerimanya.” Suara nenek Nani bergetar akan getirnya hidup yang di jalani Arini.


“Dia bagai pelita di rumah ini, rumah menjadi terasa hangat dengan perhatiannya, tawanya membuat kami sangat menyayanginya dan tidak bisa berpisah dengannya,” ujarnya dengan derai air mata sungguh nenek Nani di lemah di satu sisi kebahagiaan Arini di satu sisi kasih sayangnya.


Tirta hanya terdiam mendengar isi hati neneknya dan dia pun telah merasakan hal yang sama setelah tinggal bersama Arini suasana rumah menjadi lebih berwarna akan kehadiran Arini .


“Sudah nenek jangan menangis lagi,” Tirta menarik tubuh neneknya untuk bersandar padanya, sambil mengelus lembut punggung neneknya mencoba menenangkan.


Suara isakan nenek Nani tidak terdengar lagi. Berarti neneknya telah tenang.


Tirta lalu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya menarik napas berat waktunya telah habis, dia harus pergi. “Sudah malam nenek harus banyak istirahat,” ucap Tirta. “Sini Tirta gendong.” Tirta berdiri lalu menggendong tubuh lemah neneknya naik ke ranjang, membaringkannya, lalu menarik selimut hingga ke dada.


“Nenek Tidur ya.” Tirta mengecup pipi neneknya dengan sayang. “Tirta pulang dulu,” pamit pemuda ini dan di balas dengan anggukan.


“Kamu baik-baik, sering-sering ke sini jenguk nenek.”


“Baiklah,” ucapnya dengan senyuman, lalu berbalik. melangkah menjauh dari ranjang dengan kepala tertunduk, memasang wajah tak bersemangat hari ini dia gagal untuk bicara dengan Arini. Sungguh sangat sulit untuk dekat dengan Arini di rumah ini, gadis itu begitu sibuk mengurusi semuanya. Namun di balik itu ia sedikit lega telah bertemu dengan Arini, setidaknya hatinya terasa sedikit tenang telah menatap wajah cantik itu. Dan benar ternyata rasa yang ia rasakan selama ini bernama rindu.


Tirta baru berjalan beberapa langkah,  lalu terdengar suara neneknya.


“Tirta menginaplah di sini!” pinta nenek Nani.


Tirta yang berjalan  menuju pintu seketika tersentak, menghentikan langkahnya saat mendengar permintaan neneknya untuk menginap.


Suara itu bak angin surga menyapa Tirta, saat mendengar permintaan neneknya. Seketika senyum seringai terbit di wajah tampannya. Menginap itu artinya dia akan tidur sekamar dengan istrinya dan dia bebas bicara dengan Arini untuk mengetahui perasaannya. sungguh kesempatan baik baginya. Tentu saja kali ini Tirta tidak akan menolak permintaan neneknya. Tanpa pikir panjang lagi Tirta mengiyakan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2