Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
hamil


__ADS_3

Arini masih mengurung diri di kamar, Tirta telah berulang kali membujuknya untuk membuka pintu, namun Arini tak bergeming tidak ingin di ganggu. Cahaya jingga telah menghiasi langit sore, hingga saat ini Arini belum menampakkan batang hidungnya, dari tadi perempuan yang sedang bersedih ini belum memakan sesuatu sejak pagi membuat Tirta menjadi cemas.


Dengan membawa nampan di tangan, sekali lagi Tirta berdiri memanggil Arini dari balik pintu. Ia cemas Arini akan sakit karena memikirkan Andra


Stop ... batas toleransi Tirta untuk membiarkan Arini sendiri di kamar telah habis. Dia harus bertemu istrinya, takut akan terjadi sesuatu pada Arini. Dia pun telah menyiapkan kunci cadangan untuk menerobos masuk ke dalam kamar.


Setelah berkutat dengan kunci cadangan kini dia berhasil membuka pintu, masuk secara perlahan. Tirta memutar bola mata mencari keberadaan istrinya. Manik mata Tirta menangkap sesosok tubuh meringkuk di ranjang. Ia pun mendekat menyimpan nampan berisi makanan di atas nakas, lalu duduk di pinggir tempat tidur menatap wajah sendu istrinya yang terlelap dalam tangis. Hati Tirta terenyuh melihat Arini masih sesugukan dalam tidur dengan bekas air mata membasahi bantal.


“Inilah yang aku takutkan, jika kamu tahu kenyataan sebenarnya, kamu akan sangat sedih,” ucap Tirta mengusap pipi Arini.


Tirta mengecup lembut kening Arini lalu merebahkan tubuhnya, niatnya untuk membangunkan Arini untuk makan dia tunda, membiarkan istrinya terlelap. Tidak tega mengganggunya berharap setelah bangun perasaan Arini akan menjadi lebih baik. Tirta melingkarkan tangannya di pinggang istrinya mendekapnya dengan sayang. Tanpa sadar dia pun ikut terlelap.


“Mas Andra ... Mas Andra ....!


Tirta yang baru saja masuk ke dalam mimpi tersentak kaget saat Arini berteriak meraung dalam dekapannya. Menyebut nama Andra. Tirta pun bangun melihat keadaan Arini, alisnya mengerut menatap kelopak Arini masih tertutup dengan bulir keringat membasahi keningnya, wajahnya terlihat pucat.


Ternyata Arini sedang mengingau memanggil nama Andra. Wajah Tirta berubah panik saat tangannya terulur memegang kening Arini dan merasakan suhu tubuhnya panas. Ya Arini sampai sakit karena memikirkan Andra.


“Kamu deman,” ucapnya dengan panik.


Dengan cepat Tirta melesak keluar kamar untuk menelepon dokter sekaligus menyiapkan kompres untuk Arini.


Tak beberapa lama, Tirta telah kembali dengan wadah berisi air dan kain berwarna putih. Setelah memeras kain lalu menempelkannya pada kening Arini.

__ADS_1


Sambil menunggu dokter datang Tirta terus memegang tangan Arini menatap wajah pucat itu.


“Kamu sangat terpukul dengan kepergian Andra. Sedalam ini cintamu untuknya. Andra sangat beruntung memiliki cintamu,” Tirta tersenyum getir, sebelah tangannya mengelus pipi Arini.


Pintu terketuk Bibi datang bersama dengan dokter pribadi yang seumur dengan Tirta bernama dokter Adit.


“Tolong periksa dia Dit, dia demam,” kata Tirta raut cemas membingkai wajahnya saat mempersilahkan dokter.


Melihat Tirta yang cemas membuat dokter itu hanya mengulas senyum. “Jangan panik! Kalian kan baru menikah, Biasalah pengantin baru mungkin dia kelelahan karenamu, atau mungkin sudah hamil,” canda Dokter Adit tahu pernikahan artis Dilan Magika.


“Hamil ...” Tirta tertegun mendengar candaan sang dokter.


Dokter Adit mulai memeriksa Arini secara menyeluruh mulai. Tirta hanya memperhatikan. Tak beberapa lama dokter Adit berbalik menatap Tirta.


“Oh iya beberapa hari ini dia tidak nafsu makan dan semalam dia muntah,” jawabnya langsung.


Dokter Adit semakin mengembangkan senyumannya telah mengerti pemeriksaannya. “Aku akan memberikan obat dan vitamin untuknya.”


“Jangan buat di stress dan banyak pikiran. Kalau sembuh kamu harus membawanya ke dokter kandungan, karena dia hamil,” jelas dokter Adit membuat Tirta bak tersambar petir mendengarnya.


“Hamil ....” ulang Tirta terkesiap.


“Iya. Untuk memastikan berapa minggu aku tidak bisa.”

__ADS_1


Tirta mengembangkan senyuman. Ah rasanya dia ingin terbang mendengar Arini sedang mengandung buah cintanya. Di balik kesedihan kini ada anugerah kebahagiaan yang besar. Dia akan menjadi seorang ayah.


“Selamat ya! Kalau begitu aku pulang dulu.” Adit menepuk pelan bahu Tirta.


“Makasih Dit,” ucap Tirta dengan senyuman tertanam.


“Bibi tolong Antarkan dokter Adit.”


Dokter Adit pun keluar dari kamar di antar oleh pelayan. Setelah bayangan sang dokter menghilang.


Tirta melangkah mendekat ke arah Arini yang berbaring, mengecup seluruh bagian wajah istrinya meluapkan perasaan harunya ada setitik air mata bahagia menetes di pipi.


“Terima kasih Arini ... Ini awal baru bagi kita, masa depan indah menantimu sayang. Kita akan saling mendampingi membesarkan anak kita.” Tirta mengecup punggung tangan istrinya.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2