Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
Dandan


__ADS_3

Mentari pagi telah bersinar hangat. Arini berada di ruang depan sedang menunggu Dilan yang sedang bersiap, karena hari ini pemuda itu akan kembali memberi tumpangan padanya ke kampus.


Gadis cantik ini bangun dari duduknya saat manik matanya telah melihat pemuda tampan dengan tubuh tinggi, telah menampakkan diri.


“Saya sudah siap kak.” Arini membenahi tas selempangnya.


Dilan menghentikan langkahnya tepat di hadapan Arini. “Apa yang kau pakai ini?” tanyanya dengan tatapan menilai penampilan Arini secara keseluruhan, hanya mengenakan baju kaos berwarna pink dan celana jens dengan rambut panjang sepinggang di kuncir satu sama seperti penampilan yang biasa gadis ini tampilkan Arini tidak ada yang spesial.


Gadis ini terdiam tak mengerti, menatap Dilan.


“Kenapa kau tidak memakai barang pemberian dari fansku? Ke kampus!” ujarnya melipat tangan di dada.


“Ha.” Arini tercengang dengan ucap artis yang ada di hadapannya mengingat apa hadiah fans Dilan semalam. “Tidak mungkin saya pakai seperti itu ke kampus kak. Terlalu berlebihan kak,” ucap Arini dengan cengiran merasa lucu.


Flas back


Saat semalam Arini membuka kado dari fans, Ia berdecak kagum sekaligus merasa aneh pada isi kado.


“Kak Di, ada kado dari fans yang bernama Tita lagi. Ngasih Jam tangan sama tas, bagus banget. Ini pasti mahal,” ucap Arini manik matanya berbinar membolak-balikan dua benda dari brand ternama.


“Tapi modelnya seperti punya anak perempuan, kayanya dia ngak ngerti memilih model deh,” gumam Arini dalam hati.


“Kak itu fans kakak pasti suka banget sama kakak dan sepertinya bukan orang sembarangan,” Ocehnya mengamati setiap kali fans bernama Tita itu selalu memberi banyak barang dan makanan.


“Kalau kau suka ambil saja,” sahut Dilan menyenderkan tubuhnya di puncak ranjang sambil fokus pada ponselnya.


“Untuk saya juga kak?” ujar Arini yang biasanya hanya mendapatkan camilan dan bantal dari fans.


“Sudah kau pakai saja!” ucapnya santai tanpa menatap Arini sedikit pun.


“Beneran kak ini mahal loh?” tanya memastikan.


Dilan mengalihkan  netra hitam matanya ke Arini. “Kau pikir aku ngak mampu beli,” ketusnya.


“Tidak kak.” Arini menggeleng cepat lalu mengembangkan senyuman. “Terima kasih kak.”


Gadis ini kemudian beralih ke kado selanjutnya. Sebuah kotak tak kalah besar dari yang pertama.


"Ini juga ada dari sebuah brand ternama isinya. Alat make up dan skincare lengkap lagi.” Arini semakin berdecak kagum


“Pokoknya. semua untukmu.”


“Untuk saya lagi.” Wajah Arini berbinar seperti orang telah menang undian malam ini. ia mendapatkan barang-barang mahal. “Terima kasih kak lumayan buat di pake kondangan,” celetuknya membuat Dilan yang mendengarkannya memutar bola mata malas.


Fash back off.

__ADS_1


“Ambil semua hadiah itu!” titah Dilan.


“Untuk apa kak? Itu hanya di pakai kalau mau pergi kondangan,” jelas Arini tentang hadiah mewah yang ia terima. “Saya ini mau ke kampus.”


“Bawel cepat ambil dan pakai!” tegas Dilan.


Arini menyeret langkah menuju kamar mengambil semua kado  pemberian untuknya. Jam tangan, Tas serta, alat make up.


Gadis ini telah kembali dengan semua barang dalam dekapan lalu menaruhnya di meja yang ada di hadapan Tirta.


“Pakai semuanya,” perintah Dilan menunjuk alat make up.


“Saya ngak bisa pakai Ka,” ujarnya dengan cengiran. Arini tidak terlalu menguasai menggunakan make up. Ia hanya mengenakan bedak tipis dan pelembab bibir itu sudah cukup baginya.


Tirta menghembuskan napas berat, menatap malas gadis polos yang menjadi istrinya.


“Kau ini perempuan bukan! Masa ngak bisa pakai alat make up,” ketus Dilan.


“Duduk di sini aku akan memakaikankah untukmu,” perintah pemuda yang dunia mengenai penampilan sempurna.


“Kak tidak perlu.” Tolak Arini.


“Sudah aku akan membuatmu berubah.” Dilan mendudukkan paksa Arini.


Dilan pun duduk berhadapan mengangkat wajah Arini yang tertunduk masih tidak ingin memakai itu semua ke kampus.


Pemuda yang seketika menjadi penata gaya dadakan ini hampir selesai mendandani Arini. Tinggal sentuhan terakhir di rambut Arini. Dilan menarik lembut ikat rambut itu, menyisir rambut lurus nan lembut dan panjang sepinggang lalu meraih catokan rambut membuat ujungnya bergelombang.


“Mantan istri Andra ini benar-benar sangat cantik, hanya sedikit polesan sudah terlihat bersinar,” batin Dilan menatap lekat wajah Arini yang matanya masih tertutup. hatinya miris andai dia yang lebih dulu bersama gadis ini. Bukan menjadi lelaki yang kedua.


Arini membuka mata perlahan saat ia merasa telah lama Dilan sudah tidak melakukan gerak apa-pun di wajah serta kepala dan tidak ada bersuara lagi.


Gadis ini tersentak saat matanya menangkap wajah Dilan yang begitu dekat hanya berjarak beberapa senti. Pemuda ini terperangah seakan  terpukau dengan hasil karyanya menatap wajah cantik Arini ia seakan tersihir oleh kecantikan istrinya.


“Kak Dilan.” 


“Kak Dilan!” Suara Arini sedikit meninggi membuatnya tersadar.


“Sudah selesai, lumayan juga,” ucapnya gelagapan mengalihkan pandangannya.


“Pakai tas dan jam itu!”


“Jangan pakai ini kak ini terlalu mahal untuk ukuran mahasiswa, nanti orang curiga.”


“Pakai.”

__ADS_1


Arini menarik napas pasrah mengikuti semua keinginan Dilan.


“Orang tidak akan menatapmu aneh lagi dan meremehkanmu,” batin Dilan dengan senyum seringai.


*****


Mobil Dilan menepi di depan gerbang kampus. Saatnya Arini untuk turun namun gadis cantik yang kecantikan kanya semakin bersinar ini hanya diam di tempat tertunduk menarik-narik ujung kaosnya.


“Kak ini berlebih, saya tidak mau seperti ini.” Arini hendak mengikat kembali rambutnya yang tergerai namun mendapatkan pelototan mata dari Dilan.


“Awas saja kau menghapus make up, mengikat rambutmu.” Ancamnya.


“Ayo turun. Kamu sudah terlambat.” Nadanya terdengar mengusir.


“Saya mau pulang saja kak,” lirih Arini ia bukan tidak percaya diri dengan penampilannya tapi orang akan semakin mencibirnya, dianggap akan mencoba menggoda dan menarik perhatian cowok kampus apalagi setelah Gio mengungkapkan perasaannya semakin banyak juga yang membencinya.


“Pulang!” Dilan memicingkan mata pada Arini, ia telah bekerja keras menyulap penampilan itu dan sekarang Arini tidak berani berjalan melenggang memperlihatkan pesonanya menghadapi mahasiswa kampus. Dilan teringat saat ia mengantar Arini ke kampus tatapan siswa kampus terlihat meremehkan Arini dan ia tidak suka. Karena itulah ia ingin merubah Arini agar orang menatap kagum pada kecantikan tersembunyi Arini. “Ngak boleh kamu harus masuk!” tekan Dilan.


“Saya malu kak,” ucap Arini pelan.


“Turun atau aku akan menyeretmu masuk," paksanya.


“Kamu ngak ngerasa setiap kamu ke kampus, tatapan orang meremehkanmu!” cibir Dilan dengan wajah ketus.


“Kakak tahu?” Arini menolehkan kepala menatap lekat Dilan  yang duduk di kursi kemudi.


Dilan tersenyum miring menatap remeh. “Siapa pun juga tahu! Kalau mereka menatap kamu itu aneh. Aku juga lulusan kampus ini dan aku tahu siswa di sini sangat memedulikan penampilan.”


“Pandangan mereka pada saya tidak akan berubah sedikit pun walau saya memakai apa-pun,” jelas Arini bukan karena penampilannya tapi statusnya.


Dilan mulai tak sabaran menghadapi Arini yang tidak ingin beranjak dari mobilnya dan menolak turun dari mobil. “Itu karena penampilan kamu biasa aja! terkesan Kampungan! ngak menarik! terlihat cupu dan norak. Siapa pun yang melihat pasti memandang remeh pada ....”


“Bukan itu,” bentak Arini menundukkan kepalanya.


Membuat Dilan bungkam baru kali ini Arini meninggikan suara padanya namun kepalanya tertunduk.


“Ini semua karena mereka tahu kalau saya ini janda.” Suara Arini bergetar terdengar sedang menahan luapan air mata yang ingin meluap.


“Sampai kapan pun. Mereka tidak akan pernah menghargai apa-pun yang saya pakai atau perbuat. Mereka tidak menghina penampilan saya tapi status saya,” ungkap Arini dengan mata berkaca-kaca.


Arini keluar dari mobil berjalan cepat masuk ke dalam kampus seperti biasa menundukkan kepalanya.


“Ah sial. Ternyata ia mendapatkan hinaan karena statusnya.” Dilan berdecak kesal memukul stir mobil. Mendengar ungkapan perasaan Arini membuat hati Dilan menjadi miris dan ikut terenyuh ternyata sesulit inikah yang di hadapi gadis polos itu menjalani harinya.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2