Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
ngambek


__ADS_3

Arini dan Rian masih berada di ruang makan. Duduk berhadapan dengan meja menjadi sekat pemisah. Keduanya termenung memikirkan kemarahan Tirta.  Arini tidak menyangka jika hanya menyebut nama Andra bisa membuat Tirta sangat murka. Rasa bersalah menyelimuti relung hati.


Manik mata Rian menatap Arini lekat saat terdengar sebuah isakan keluar dari gadis yang sedang tertunduk menyembunyikan wajahnya. Ya Arini menangisi kesalahannya.


Rian bangkit dari duduknya, mencoba melangkah mendekat pada Arini lalu menarik kursi, mendudukkan tubuhnya di samping Arini.


“Sudah jangan menangis,” Rian mengelus lembut pundak Arini yang terlihat bergetar.


“Saya benar-benar tidak tahu. Saya kira karena mereka saudara jadi mereka memiliki kesukaan yang sama,” ucap Arini mendongak ke arah Rian dan semakin terisak akan ketidaktahuannya.


Melihat lelehan air mata membasahi pipi mulus itu membuat Rian menjadi iba pada gadis polos yang tidak tahu apa-apa ini.


Rian menghela napas. “Dilan memang tidak suka jika nama kakaknya itu disebut di hadapannya,” ungkap Rian.


“Kenapa dia bisa membenci mas Andra begitu sangat dalam? padahal kakaknya sangat baik?” tanya Arini tidak habis pikir karena selama menjadi istri Andra yang dia tahu pemuda itu sangat baik lembut dan sayang pada orang tua.


Rian menghembuskan napas kasar mencoba menjelaskan apa yang diketahuinya. “Andra memang baik, penurut, cerdas, karena itulah dia menjadi kebanggaan keluarga. Sejak dulu Dilan merasa perhatian keluarganya hanya untuk Andra dan dia merasa tak dianggap, dan selalu di banding-bandingkan dengan kakaknya, karena itulah dia pergi dari rumah,” jelas Rian akan selama ini yang di rasakan sahabatnya.


Arini mematung mendengar penjelasan Rian hatinya menjadi miris, serumit ini kah hubungan kakak beradik ini. Menurut penilaiannya selama mengenal kakak adik ini, karakter mereka memang bersimpangan Andra yang lembut dan Tirta yang tegas. Namun keduanya sangat baik. Benarkah Tirta telah mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya? Seribu pertanyaan di hati masih mengganjal di hati Arini. Apalagi memori lamanya mengingat jika Andra dan Tirta sangat kompak dulu dan saling menyayangi.


“Sudah jangan di pikirkan lagi. biarkan dia tenang dulu. Dia juga kalau marah Cuma sebentar, setelah di bawa tidur, Dia pasti sudah baikkan lagi,” saran Rian menepuk pundak Arini mencoba menenangkan hati Arini agar tidak bersedih lagi.


Arini hanya membalasnya dengan anggukan pelan, tak bersemangat. Ucapan Rian sedikit membuatnya tenang dan berharap semoga Tirta tidak menyimpan kemarahan yang lama padanya, semoga ucapan Rian benar jika setelah tidur perasaan pemuda itu akan menjadi membaik.

__ADS_1


Rian menatap jam yang melingkar di tangannya sudah saatnya dia pulang.


“Sudah malam. Aku harus pulang.” Rian bangun dari duduknya di ikuti oleh Arini yang juga bangkit.


“Kamu juga harus istirahat, pergilah tidur. Sudah jangan di pikirkan lagi. besok dia pasti juga sudah baikkan.”


Arini mengangguk pelan. “Makasih kak,” ucap Arini dengan tulus.


“Aku pergi dulu,” pamit Rian menepuk pundak Arini pelan.


“Hati-hati kak.”


“Iya.” Rian pun pergi meninggalkan Arini yang masih termenung.


Tok ... Tok ...


Arini mengutuk pintu kamar Tirta, namun setelah beberapa kali mencoba tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka.


“Kak Dilan!” panggil Arini seraya tangannya masih mengetuk benda kayu berbentuk persegi itu.


“Kak Dilan tolong buka pintunya. Saya minta maaf. Saya tidak bermaksud menyamakan kakak dengan mas Andra.” Arini mengeraskan suaranya yang terdengar bergetar menahan tangis, manik matanya menatap putus asa pintu yang tidak jua kunjung terbuka.


“Kak Dilan! Buka pintunya, Jangan marah. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi!”  gadis ini tertunduk, bulir air mata kembali lolos membasahi pipi, namun pemuda tampan itu tak kunjung menemui Arini membuat gadis cantik ini semakin menyadari jika kesalahannya sangat besar pada Tirta.

__ADS_1


Setelah berdiri lama di depan pintu kamar Tirta dan tidak mendapatkan respon, Arini akhirnya memutuskan untuk menyeret langkah kaki kembali ke kamarnya. Hanya berharap jika yang dikata Rian itu benar Tirta hanya butuh waktu dan akan kembali membaik setelah tidur.


“Semoga saja besok pagi suasana hati kak Dilan sudah kembali seperti sedia kala,” batin Arini tak bersemangat.


 


 


 


 


Ke mana sih nih orang gemes banget ngak buka pintu? Yelah Tirta kalau ngambek kaca cewek pms. Susah banget di bujuk.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2