Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
menjemput


__ADS_3

Sudah berjam-jam Arini menghabiskannya waktu dengan membersihkan rumah. Ini adalah akhir pekan, waktu yang memang selalu di susun Arini untuk membersihkan rumah karena dia juga tidak punya kegiatan lain di hari libur itu.


Arini berada di ruang depan, kedua tangannya memegang gagang vacuum cleaner, menyedot debu yang menempel di sofa dan tirai. Wajah cantiknya telah di hiasi oleh bulir keringat yang bercucuran membasahi kening dan baju yang Arini kenakan. Bagaimana tidak sudah sejak tadi dia membersihkan rumah mewah berlantai dua ini. Hingga tanpa Arini sadari jika waktu telah menjelang sore.


Ting .... Tong ....


Suara bel pintu membuat Arini tersentak lalu menghentikan aksinya, berdiri menoleh ke arah pintu. Siapa yang datang  karena Dilan saat ini menjalani syuting hingga larut malam dan tidak akan mungkin pulang sesore ini. Mungkinkah Rian? Gadis ini semakin bertanya-tanya hingga akhirnya bergegas melangkah membuka pintu.


Arini membelalak saat kedua tangannya telah menarik gagang pintu. Sesosok perempuan paruh bayah berdiri di hadapan melengkungkan garis senyum pada Arini.


“Ibu! Ibu sudah pulang?” Arini maju menghambur memeluk tubuh ibu mertuanya.


“Ia. Sayang baru saja.” Ana membalas pelukan itu sambil mengusap lembut punggung Arini.


“Apa kabar?” tanya Ana.


Setelah saling melepas rindu pelukan itu terhenti.


“Baik bu,” jawab Arini dengan ceria. “Kenapa ibu tidak memberi kabar jika akan pulang? Arini kan bisa menjemput kalian,” sosor Arini.


"Nenek bagaimana?” tambahnya.


“Nenek sudah berada di rumah bersama Ayah. Ibu kemari untuk menjemput kamu. Nenek sudah tidak sabar bertemu kamu dan Tirta,” jelas Ana hanya datang sendiri karena hubungan ayah dan anak ini belum membaik. Hasan menolak menemani Ana menjemput Arini di rumah Tirta.


Arini mengulum senyuman kemudian menarik tangan ibu mertuanya. “Ayo masuk dulu bu,” ajak Arini mengarahkan Ana untuk duduk di sofa.


Ana mengikuti Arini mendudukkan tubuhnya di sofa, manik mata hitam milik Ana berputar menatap isi di dalam rumah mewah Tirta. Ada keharuan di hati Ana saat menatap rumah mewah putranya Ana telah menyadari jika Tirta telah membuktikan ucapannya jika kelak dia akan menjadi pemuda yang sukses. Selain rasa bangga, kesedihan juga terselip dihati terasa rasa perih, baru kali ini dia sebagai seorang ibu menginjakkan kaki di rumah putranya setelah sekian lama tidak bertemu.


“Ibu duduk saja dulu di sini, Rini akan membuatkan ibu minum. Ibu pasti lelah,” kata Arini kemudian berlalu meninggalkan Ana yang masih mengamati rumah Tirta.


Alis Ana bertaut dalam saat menatap vacuum cleaner yang masih berada di dekat sofa. Ia mulai menyadari ada hal aneh dalam rumah besar nan mewah ini.

__ADS_1


Ana bangun mencari keberadaan Arini. Setelah menyusuri ruangan, ia melihat Arini sedang berada di dapur mengaduk minuman dalam cangkir.


“Kamu sendirian di rumah ini?” tanya Ana menatap Arini lekat dengan sorot mata menyelidik.


“Iya, bu. Mas Tirta lagi syuting dan akan pulang tengah malam,” jelas Arini dengan secangkir teh telah siap lalu membawanya ke meja.


“Ibu di minum dulu tehnya,” tawar Arini.


Mereka duduk berdampingan di kursi makan.


“Kamu di tinggal sendirian sama Tirta di rumah sebesar ini?” tanya Ana lagi memastikan.


“Ia, bu,” jawab Arini dengan santai, tidak tahu jika mertuanya telah menangkap sesuatu yang janggal dan mulai kesal.


“Ke mana semua pembantu di rumah ini? Tidak mungkinkan rumah sebesar ini tidak punya pembantu? Bahkan tidak punya penjaga?” tanya Ana dengan penekanan, terdengar sedang menahan kesal.


Arini mulai terpaku dengan pertanyaan sang mertua.


“Jadi selama ini kamu mengurus rumah ini sendirian?" tebak Ana dia sangat tahu sifat menantunya yang rajin, sabar, penurut hingga mau saja melakukan perintah Tirta.


Arini hanya bisa mengangguk pelan membuat Ana berdecak kesal dengan jawaban Arini.


“Dasar anak itu, jadi dia membuat mengurus rumah seperti pembantu!” Ana meluapkan kekecewaannya tidak terima menantu kesayangannya mendapatkan perlakuan yang tidak baik.


“Bu, jangan marah.” Arini mengenggan tangan ibu mertuanya agar tenang.


“Kami menitipkan kamu padanya agar ia menjagamu. Bukan malah membuatmu menjadi pembantu!” hardik Ana tatapannya penuh amarah. Keputusan menitipkan Arini pada Tirta adalah keputusan yang salah.


“Bu. Mas Tirta tidak bersalah. Dia meliburkan pembantunya, karena tidak ingin mereka nanti bergosip tentang kehidupan pribadinya. Mas Tirta kan artis Bu. Pamornya bisa turun jika ketahuan menikah dengan perempuan biasa seperti saya,” jelas Arini panjang lebar memberi pengertian agar mertuanya tidak marah lagi.


“Tetap saja, seharusnya dia tidak menyuruhmu mengerjakan semua ini  sendiri. Ibu ngak rela. Walau pun dia anak ibu, tetap saja dia salah. Dia memperlakukanmu seperti ini.”

__ADS_1


“Saya tidak keberatan kok Bu.”


“Pokoknya ibu ngak suka! Ayah dan nenekmu juga pasti akan marah jika mereka tahu. Sekarang juga kemasi barang-barang kamu. Ikut ibu pulang!” sentak Ana bangkit dari duduknya menarik lengah Arini untuk ikut bersamanya.


“Bu! Saya tidak bisa pergi dari rumah ini,” tolak Arini hanya berdiri di tempat.


Ana mengarahkan pandangannya. "Memangnya kenapa?”


“Saya harus pamit sama mas Tirta, selama ini dia sudah menjaga saya, saya dengan baik.” Arini tidak akan pergi tanpa bertemu dengan Tirta, walau bagaimana pun Tirta yang selama ini menjaganya terlepas sikapnya Tirta yang ketus tapi Arini menilai Tirta pemuda yang sangat baik.


“Sudah. kamu telepon saja dia!”


Arini menggeleng. “Saya ingin pamit secara langsung dan mengucapkan terima kasih.”


“Tapi sayang!” protes Ana.


“Arini janji. Besok Arini pulang ke rumah.” Arini menggenggam ke dua tangan Ana memasang wajah memelas.


Ana menghembuskan napas kasar. "Baiklah, malam ini kamu boleh menginap lagi. Besok kamu harus pulang,” ucap Ana pasrah mengikuti keinginan Arini.


Arini dan Ana kembali duduk menghabiskan waktu untuk mengobrol ringan saling bertukar cerita.


 


 


Ya ...Arini pulang besok ...  gimana dong  Tirta? Siapa yang rawat wajah mulus tuh artis. Ada yang mau daftar untuk pakaikan skincare Tirta?


Uhhhh saya juga mau! Peranku jadi penulis ngak jadi deh. Aku mau nyempil aja gantiin Arini. Biar bisa ngusap wajah kinclong Tirta tiap malam.


Lagi-lagi halu ....

__ADS_1


__ADS_2