
Hari demi hari berlalu dengan cepat. Arini telah terbiasa dengan kehidupan Tirta yang notabene sebagai artis dengan sejuta kesibukan. Walau Rian telah mengatur untuk mengurangi kegiatannya, tetap saja dia masih menjadi pemuda yang sangat sibuk.
Seperti kegiatan rutinnya di pagi hari ini. Arini berada di dalam mobil meletakkan satu persatu barang yang akan di bawah Tirta ke lokasi syuting sesuai petunjuk yang di berikan oleh Rian. Selama ini Rian juga sangat banyak membantunya.
Arini keluar dari mobil mewah milik Tirta sebelum menutup pintu, sekali lagi dia berdiri memastikan, hingga tepukan pelan di bahunya membuatnya berbalik.
“Pagi Arini!” sapa Rian mengembangkan senyuman pada gadis cantik yang ada di hadapannya.
“Pagi kak Rian.” Arini menutup pintu mobil.
“Apa semua sudah siap?” tanya Rian memastikan semuanya sempurna.
“Ia. Kak. Ngak ada lagi yang ketinggalan.” Arini menaikkan jempolnya.
“Bagus,” puji pemuda ini.
Rian kembali membuka pintu mobil Tirta, mengambil sebuah buku lalu memberikannya pada Arini
“Ini untuk kamu.” Rian menyodorkan buku pada Arini.
Arini mengembangkan senyumannya. ia tahu apa yang di berikan oleh Rian dengan tak sabar ia membuka lembarnya. “Wah tanda tangan penyanyi terkenal Zaldy. Ada nama saya lagi.” Arini berdecak kagum buku koleksi tanda tangan artisnya bertambah.
“Iya, dong. Spesial untuk kamu.” Rian menepuk dadanya dengan rasa bangga karena telah membuat gadis ini senang.
“Terima kasih banyak ya kak.”
“Sama-sama.”
Arini dan Rian berdiri di samping mobil menunggu Tirta keluar.
“Oh ia, aku belum mendapat tanda tangan Ricard Sebastian soalnya kami ngak pernah ketemu, dia sangat sibuk. Kamu tahu kan di juga setenar Dilan. Sepertinya memiliki tanda tangannya akan sangat sulit,” jelas Rian.
Rian semakin mendekatkan tubuhnya pada Arini, “Emm hubungannya dengan Dilan tidak terlalu baik,” ujarnya.
__ADS_1
“Mereka musuhan?” tanya Arini penasaran.
Pemuda ini mengendikan bahunya. “Seperti itulah.”
“Karena apa?” Arini juga semakin mendekat.
Rian memutar bola matanya untuk melihat situasi lalu menarik tangan Arini ke belakang mobil untuk obrolan yang lebih dalam tentang Tirta.
“Kamu ngak dengar rumor tentang cinta segitiga mereka,” Rian semakin mendekatkan badannya pada Arini hingga bahu mereka menempel.
Arini menggelengkan kepala. “Tidak kak.”
“Ricard menyukai Marsya Ayunda sementara. Marsya menyukai Dilan,” jelas Rian.
“Memang seperti itu? lalu kak Dilan menyukai Marsya juga? mereka pacaran?” Alis Arini bertaut semakin penasaran dengan obrolan mereka.
“Dilan tidak suka pada Marsya.”
“Masa sih kak Dilan ngak suka perempuan secantik Marsya. Lalu kak Dilan suka sama siapa? Kak Dilan punya pacar belum?” tanya seakan tak percaya akan informasi dari Rian, siapa yang bisa menolak pesona artis cantik sekelas Marsya Ayunda.
“Jadi kak Dilan ngak pernah pacaran?” obolan ini semakin panas dan heboh menguak kehidupan si artis bak infotaiment di pagi hari.
“Kamu jangan salah, dia itu dulu suka mainin cewek, mantannya banyak, dulu sebelum jadi artis, waktu ia masih jadi anak bandel banget, hanya untuk mendapatkan pengakuan dari orang tuanya, sampai dia pergi dari rumah,” papar Rian tentang kehidupan yang di jalani Tirta.
“Masa sih kak? Memangnya alasan Kak Dilan pergi dari rumah itu apa?” tanya Arini lagi, kepergian Tirta dari rumah masih menjadi misteri baginya. Dia bahkan tidak tahu keluarga Abraham memiliki anak artis top. Seingatnya Andra memiliki adik yang entah ke mana.
“Kamu ngak tahu? Kamu kan sepupunya,” tanya Rian menatap Arini sekilas, tubuh mereka semakin menempel Rian berbisik di telinga Arini. “Karena Kakaknya Andra?”
Gadis ini menarik kepalanya menatap lekat wajah Rian, seakan ragu akan penjelasan Rian. “Mas Andra kan Baik, penyayang jadi dia pasti sayang sama adiknya kak Dilan,” ungkap Arini yang ia tahu mantan suaminya memiliki sikap lembut dan dewasa.
“Ya, Karena dia baik, Dilan selalu di banding-bandingkan dengannya.” bisik Rian lagi di telinga Arini
“Mas Andra,” gumam Arini hatinya miris mendengar hubungan kakak adik ini.
__ADS_1
“Kalian sedang apa!” suara tinggi terdengar nyaring membuat mereka tersentak kaget bak terciduk, menghetikan bisik-bisik heboh itu, mereka kompak menggeser menjauh.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Tirta dengan tatapan menyelidik dan tidak suka melihat kedekatan Arini dan Rian.
“Tidak apa-apa.” Rian menggelengkan kepalanya, dia tahu Tirta pasti murka jika mendengar nama kakaknya. “Nanti kalau ketemu Ricahd. Langsung. aku minta tanda padanya,” tekan Rian kembali ke topik awal pembahas mereka yang telah merembet ke mana-mana hingga kakak Tirta, Andra.
“Ia, kak. Ngak apa-apa. Punya tanda tangan Zaldy saja saya sudah bersyukur. Makasih kak,” ucap Arini dengan tulus.
Tirta melipat tangan di dada. “Ngapain kamu kemari lagi!” ketus Tirta tahu jika Rian sedang mendekati Arini.
“Memangnya kenapa kalau aku kemari?”
“Ayo pergi.” Tirta berjalan ke arah pintu mobil di ikuti oleh Rian.
“Jadwal kamu hari ini hanya sampai sore dan hari ini aku ada meeting penting bersama dengan manager artis.” Rian berbalik menatap Arini yang masih berdiri mematung memikirkan Andra sambil menunggu kepergian mereka.
“Oh, ia Arini. Hari kakak ada janji ketemuan dengan pemilik ph untuk membahas masalah tawaran film, bersama dengan beberapa manager artis, siapa tahu di sana kakak bertemu artis. kakak akan kumpulin tanda tangannya untuk kamu,” ucap Rian membuat senyum Arini mengembang wajah cantiknya semakin bersinar.
“Makasih kak.”
“Jangan norak, jangan bikin aku malu, ntar di kira aku lagi yang kumpuli tanda tangan. Apa kata orang artis sekelas Dilan Magika meminta tanda tangan artis,” protes si artis dari dalam mobil.
“Ngak apa-apa kali Lan, buat Arini katanya kenang-kenang sebelum ia pulang ke kampung. Katanya dia juga tidak akan tinggal lama lagi di rumah kamu. Dia akan pulang.”
“Pulang,” gumamnya hati Tirta seketika dilanda keresahan mengingat jika Arini telah tinggal di rumahnya sudah lebih satu bulan. Tidak lama lagi nenek akan kembali dan Arini pun akan keluar dari rumahnya. Ahhh mengingat ini kenapa ia menjadi tidak rela.
__ADS_1