Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
permintaan


__ADS_3

Mentari pagi telah menyambut. Tirta masih bergelung nyaman di balik selimut lembut. Rasanya ia sangat sulit membuka mata, masih ingin tinggal memeluk tubuh istrinya lebih lama lagi. Dengan kesadaran belum sempurna, tangannya meraba sisi ruang di sampingnya dan ternyata kosong. Ia pun terkesiap, membuka mata lebar lalu duduk karena Arini sudah tidak berada di sampingnya.


“Ke mana dia?” batin Tirta mencemaskan istri yang sedang mengandung buah cintanya itu.


Tanpa menunggu lama lagi Tirta turun dari tempat tidur, akan tetapi terlebih dahulu membersihkan diri setelahnya mencari keberadaan Arini.


Dapur adalah ruangan favorit tempat Arini selalu mengawali pagi, menyiapkan sarapan untuk suaminya. Kedua sudut bibir Tirta tertarik saat menatap Arini sedang berkutak dengan perlatan masak.


“Kak Dilan!” Arini tersentak kaget saat merasakan sebuah lengan kokoh melingkar di pinggangnya. Menaruh wajahnya di perpotongan leher Arini.


“Sayang kamu di sini. Ayo kembali ke kamar. Kamu belum pulih.”


Telah tiga hari drama terungkapnya kematian Andra berlalu, membuat Arini bersedih hingga jatuh sakit. Akan tetapi Ketegangan sudah tidak terasa lagi. Kondisi Arini mulai membaik.


“Saya sudah tidak apa-apa. Bosan di kamar terus.” Arini memindahkan nasi goreng yang telah matang ke piring saji.


“Kalau bosan kenapa memasak? Biar bibi yang mengerjakan semua. Kamu kan lagi hamil ngak boleh lelah,” kata Tirta terdengar khawatir semakin mengendus aroma tubuh istrinya.


“Kak Dilan, Sudah!” Arini menggeliat geli. “Ayo sarapan.” Arini memegang piring yang terisi makanan.


Dekapan Tirta terlepas, lalu mengambil alih piring dari tangan istrinya, meletakkannya di meja makan.


“Duduklah. Aku akan menyiapkannya untukmu.” Tirta menarik kursi untuk Arini.


Arini menghela napas panjang duduk di kursi, merasa perhatian suaminya sangat berlebihan.


Tirta duduk di samping Arini dengan sepiring nasi goreng di hadapannya.


Arini menautkan Alisnya saat mendengar. Aaaa, aba-aba membuka untuk membuka mulut, serta sendok yang terisi makanan telah berada di hadapan bibirnya. “Aku akan menyuapimu,” ucap Tirta.


Duh manisnya si artis gengsian ini, menjadi suami perhatian.


“Tidak perlu kak. Saya akan makan sendiri saja, lebih baik kakak makan juga. Saya sudah membuat salad sayur untuk kakak.”


“Aku nanti saja. Aku harus memastikan istri dan anakku makan lebih dulu,” ucap Tirta dengan bangga. “Makan yang banyak untuk anak kita juga,” tambahnya dengan senyum tertanam di wajah tampannya. Arini terkekeh lucu akan ucapan Tirta lalu membuka mulut. Ia pun makan dari suapan cinta suaminya.

__ADS_1


Manik mata Tirta memperhatikan Arini  menyantap makanannya. Pemandangan yang sangat dia sukai. Cara perempuan ini menguyah makanan bak pembawa acara kuliner yang sukses membuat orang yang melihatnya ikut tergugah. Tangan Tirta menggantung di mulut Arini saat istrinya tidak membuka mulut lagi.


“Ayo makan lagi. Makan yang banyak. Untuk anak kita.” Arah sendok terisi makanan semakin dekat.


Arini menggeleng ada sesuatu yang harus ia katakan pada suaminya.


“Kak Dilan saya punya permintaan,” ucapnya dengan ragu-ragu.


Sendok yang menggantung di depan mulut Arini terpaksa malah berbelok ke mulutnya. “Kamu ngidam ya. Katakan, apa-pun yang kamu inginkan, aku akan berusaha mengabulkannya,” ucap Tirta antusias seraya mengunyah.


“Saya hanya ingin ke makan mas Andra,” lirih Arini meremas ujung bajunya.


Tirta terdengar mengela napas. “Kamu sedang hamil. Aku ngak mau kamu lelah,” tolaknya sambil menyendok kembali makanan di piring malah ke mulutnya. Ia tidak mau Arini bertambah sedih jika mengenang kematian Andra.


“Hati saya ngak tenang. Kalau belum melihat makan kak Andra.” Mata Arini mulai berkaca-kaca.


Melihat itu Tirta bingung dan menjadi tak tega sejenak merenung sambil makan untuk mengambil keputusan.


Setelah beberapa saat.


“Baiklah kita akan pergi.” Akhirnya mengiyakan. “Tapi, tidak dalam waktu dekat ini. Karena aku harus promosi film jodoh pilihan kakakku yang akan tayang perdana dalam minggu ini. Setelah film itu selesai waktuku telah luang. Kita akan pergi ke makan kak Andra.”


“Makasih kak.”


“Sudah habiskan makannya.”


“Sudah habis,” sahut Arini.


Alis Tirta bertaut mendengar ucapan Arini. “Sudah habis!” ulangnya lalu melihat piring yang telah tandas akibat ulahnya.


“Aku yang menghabiskannya?” tanyanya gelagapan karena memikirkan keinginan Arini dia sampai tidak sadar menghabiskan makanan di piring.


Arini mengangguk tersenyum lucu pada suami khilafnya.


“Ya ampun, aku menghabiskan makanan istri dan anakku.”

__ADS_1


ckck, ya ampun baru saja dia ingin menjadi suami perhatian malah dia yang menghabiskan makan untuk istri dan anaknya.


Melihat Tirta yang panik sendiri Arini hanya terkekeh lucu. Manik matanya menatap bangga suaminya yang berbesar hati mengizinkannya untuk melihat makam Andra mantan suaminya.


 


Stop ... skip ...  dulu ya elah jeng kunti ada lagi.


Jeng kunti: aku salfok thor.


Dinda: yaelah salfok mulu.


Jeng kunti: Arini ngak ada masakan lain selain nasi goreng thor.


Dinda: husss, diam napa, Cuma itu aja yang author tahu.


Jeng kunti: ngak ada ilmu banget sih thor.


Dinda: ngak lama aku sambelin level mampus tuh mulut.


Jeng kunti: jangan dong thor! Orang yang bantuin tadi bang Dilan makan itu aku.


Dinda: pantas aja dia ngak sadar ngabisin, rupanya selama ini, dia makan di bantu setan.


Jen Kunti: tega banget bilangin aku setan.


Dinda: ya emang benar ...


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2