Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
tanda cinta


__ADS_3

Ana dan Hasan baru saja masuk ke dalam pintu di antar oleh bi Mina.


“Ibu.” Suara Arini bergetar linangan air mata kembali merembes membasahi pipi saat pandangan ke arah ibu mertuanya. Pasti perempuan paruh baya itu juga sama sedihnya dengannya. Ya ... Ana seorang ibu tentu saja perih mengetahui putra telah tiada.


Ana berjalan mendekat ke ranjang kemudian duduk di pinggir tempat tidur. Tirta mundur memberi ibunya dan Arini ruang  untuk melepas rindu.


“Arini, kamu ngak apa-apa sayang?” tanya Ana cemas melihat wajah pucat Arini.


“Ibu.” Arini semakin mendekap tubuh mertuanya meluapkan kesedihannya.


“Ibu, mas Andra,” adunya dengan sesugukan.


Ana mengelus punggung Arini memberi kekuatan, karena inilah dia datang untuk menenangkan Arini yang telah tahu segalanya.


“Iya, sayang. Sama seperti kamu ibu juga sangat kecewa, sedih, hancur. Kita tidak melihat Andra untuk yang terakhir kalinya.” Ana mencoba memupuk air mata yang seakan ingin jatuh juga namun dia harus terlihat tegar di hadapan Arini.


“Tapi semua sudah terjadi. Tidak akan kembali lagi dan tidak gunanya lagi di tangisi.” Tambahnya mendekap tubuh Arini.


“Arini maafkan ayah Nak,” sela Hasan yang berdiri di samping Tirta sejak tadi mengamati dua perempuan itu. Hasan tidak akan pernah tenang jika tidak mendapatkan maaf Arini dan Tirta walau pun sadar kesalahannya sungguh besar pada Arini.


Pelukan terlerai, Ana beralih menggenggam tangan Arini. “Ibu mohon. Tolong maafkan ayah. Ayah memang salah tapi itu semua demi nenek,” pinta Ana sebenarnya juga iba melihat suaminya di derai rasa bersalah.


Arini menatap sendu ayah mertuanya yang membingkai wajah dengan rasa bersalah lalu mengangguk perlahan. Mencoba untuk menerima semua berdamai.


“Terima kasih Arini.” Suara Hasan terdengar menahan tangis akan maaf Arini.


Hasan mengarahkan pupil matanya ke arah Tirta.


“Tirta sekali ayah minta maaf, atas semua perlakuan ayah,” sesal Hasan.

__ADS_1


Tirta menghela napas mencoba bersikap sama seperti Arini untuk berlapang dada memberikan maaf. Menyikapi dengan bijak. Lagi pula dia ingin memulai semua dari awal.


“Sudahlah ayah lupakan semuanya. Lihat baiknya saja, ambil hikmahnya, Mungkin jika semua ini tidak terjadi aku tidak akan mendapatkan istri sebaik Arini.” Tirta menatap Arini mengulas senyum manis.


“Dan di balik duka akan ada kebahagiaan. Ada kabar gembira yang akan aku beritahukan, semalam dokter yang memeriksa Arini mengatakan jika saat ini Arini sedang mengandung,” kata Tirta tatapannya tidak lepas dari istrinya.


“Hamil.” Kompak Ana dan Hasan girang.


Sedangkan Arini terkesiap dengan ucapan Tirta jantungnya seakan jatuh terjun bebas ke perut saat mendengar dia sedang hamil.


“Hamil ... kamu hamil nak.” Ana memegang pundak Arini.


“Hamil ...” batin Arini seakan tak percaya manik matanya menatap kosong.


“Selamat nak kamu akan menjadi ibu.” Ana memberikan Arini pelukan.


“Ayah kita akan menjadi kakek dan nenek.” Perempuan paruh baya ini sangat antusias.


“Tirta mohon pulanglah. Tinggallah bersama kami Nak. Biar kami juga bisa menjaga Arini. Dia sedang mengandung cucu pertama kami. Nenekmu pasti sangat senang mendengarnya.”


Tirta terdiam akan permintaan ayahnya.


“Ayah biarkan mereka menjalani rumah tangga mereka!” sela Ana. Hasan diam, jujur semenjak Arini tidak tinggal bersama mereka, suasana rumah terasa sepi. Dia berpikir jika Arini pulang bersama Tirta kebahagiaan akan menyelimut rumah lagi, sibuk mempersiapkan kelahiran cucu pertamanya. Duh memikirkannya membuat hati Hasan menjadi hangat.


Mereka pun mengobrol sejenak setelahnya Hasan dan Ana pamit pulang karena telah meninggalkan nenek Nani bersama pelayan.


“Kak Dilan! Apa benar saya hamil,” sosor Arini seketika saat Tirta telah kembali mengantar ayah dan ibunya keluar dari kamar.


Tirta naik ke ranjang ikut bersandar di puncak tempat tidur, mengulas senyum. Wajahnya bersinar sangat bahagia. “Ia sayang kita akan menjadi orang tua. Di dalam sini ada anak kita,” ucapnya mengelus lembut perut Arini.

__ADS_1


“Saya hamil?” tanya lagi memastikan.


Tirta lalu menangkup wajah Arini tatapan mereka bertemu. “Iya sayang,” ucapnya dengan senyuman. “Kamu akan menjadi ibu. Kita akan memiliki anak.” Tirta mengecup kening Arini sekilas.


Lagi-lagi tangis Arini kembali pecah membuat Tirta gelagapan. mengira Arini tidak suka mendengar kehamilannya.


“Kenapa? Kamu ngak senang dengan kabar ini?” Arini hanya semakin terisak. “Kamu belum siap?” tebak Tirta mengingat usia Arini dan dia masih kuliah menimbang itu semua Rasa bersalah merasuk. Tirta lalu mendekap tubuh Arini. “Sudah jangan sedih. Aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian.” Tirta mengusap punggung Arini.


“Saya bukan tidak siap atau sedih kak. Tapi, Saya terharu! Saya akan menjadi ibu,” ucap Arini sesugukan lalu membalas memeluk erat tubuh Tirta, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya, dia sangat bahagia akan anugerah ini.


Tirta mengembangkan senyuman. Ternyata Arini sama seperti dirinya sangat bahagia


“Jangan bersedih lagi. Kita akan mulai semua lagi dari awal. Lupakan semua kesedihan. Kita akan hidup bahagia bersama anak-anak kita kelak.”


Pelukan terlerai Tirta mengusap derai air mata yang membasahi pipi istrinya.


“Aku sangat mencintaimu Arini,” ungkap Tirta membuat tubuh Arini seketika membatu mendengar pernyataan cinta suaminya melihat itu membuat senyum mesum dari Tirta terbit. Arini terlupa lagi jika itu adalah suaminya bukan Dilan Magika. Kali ini dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal dari suaminya.


Tanpa kata lagi Tirta langsung menyambar bibir istrinya memberi kecupan-kecupan kecil yang turun ke ceruk lehernya.


“Kali ini kamu tidak akan mendapatkan tanda bibir lagi, tapi tanda cinta,” bisik Tirta membuat wajah Arini merona kini Arini pasrah menerima tanda cinta dari suaminya.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2