Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
lokasi syuting


__ADS_3

Rian mengiring tubuh Arini menuju teras rumah di mana telah banyak gerombolan pemuda berkumpul salah satunya Zaldy penyanyi idola yang juga mendapatkan peran dalam film.


“Zal,” sapa Rian pada pemuda yang duduk di bangku dengan gitar di pangkuan.


“Hai Ian,” balas Zaldy  mendelik ke arah Rian dan Arini yang ada di belakangnya.


“Zal kenalin. Ini Arini sepupu Dilan,” ucap Rian membuat Arini mengembangkan senyuman.


Zaldy mengulas senyum pada Arini. “Hai Arini,” katanya dengan tangan melambai.


Seketika Arini terpaku dengan wajah yang merona mendapatkan sapaan dari idola.


“Hai kak. Saya fans kakak. Saya suka sekali dengan suara kakak,” ujar Arini tersipu malu.


“Oh, iya.”


“Kamu mau dengar dia menyanyi?” tanya Rian pada Rian yang diangguki dengan semangat oleh Arini.


“Kebetulan kami sedang latihan tentang lagu dalam cerita,” sela Zaldy.


“Saya tahu semua lagu geng pemuda tanpa masa depan dalam cerita itu,” seru Arini kembali antusias.


Zaldy baru memetik gitarnya beberapa nada namun terhenti saat Tirta datang bergabung bersama mereka.


“Lan,” sapa Zaldy dan di balas dengan senyum tipis.


Tirta berdiri di samping Arini. “Aku sudah bilang jangan norak. Jangan dekat dengan mereka,” bisik Tirta.


Arini hanya tersenyum memperlihatkan gigi ratanya dia memang sering lupa diri jika bertemu artis.


“Arini ingin mendengar Zaldy menyanyi Lan,” sela Rian melihat wajah tak suka Dilan dan sikapnya terlihat posesif pada Arini.


Zaldy kembali memetik gitarnya dan kembali jarinya diam saat kehadiran seorang lagi-lagi menghentikan.


“Wah ada Arini,” sapa pemuda berlesung pipi. Mereka kompak menoleh. Tirta menghela nafas berat lagi-lagi pengganggu datang.


“Kak Kenzi,” sapa Arini membingkai wajahnya dengan senyuman.


“Lama tidak bertemu, ternyata kamu juga melihat syuting pembuatan film ini,” kata Kenzi mendekat pada Arini.


“Iya kak. Saya suka banget ceritanya. Semua novel Adinda Adi  sudah saya baca semua,” ungkapnya.


“Wah hebat! Berarti  kamu tahu  banget dong ceritanya?”


“Iya kak.” Arini mengangguk.

__ADS_1


Mereka hanya diam mendengarkan Arini bercerita pada Kenzi sedangkan Tirta kini telah memasang wajah masam. Karena gadis itu sangat bersemangat melayani Kenzi yang merupakan idola Arini juga.


“Di antara ketiga lelaki dalam cerita itu karakter yang mana kamu suka?” tanya Kenzi.


“Kalau saya sangat suka sama Endy,” jelas Arini berbangga hati namun tertunduk saat manik matanya mengarah pada Tirta yang memicingkan mata padanya.


“Apa-apaan dia, dia tidak suka pada peranku,” batin Tirta.


“Wah peran kakak dong, kakak kan jadi Endy.”


Tirta semakin mendekat dan berbicara pelan. “Ingat dia itu playboy sama dengan peran Endy yang suka gonta-ganti perempuan,” bisiknya Arini mengangguk mengerti.


“Kalau kalian bicara terus kapan Zaldy menyanyi,” potong Rian.


Mereka pun mundur perlahan memberi jarak layaknya sedang menonton pertunjukan Tirta berdiri di tengah  antara Rian dan Arini sedangkan Kenzi juga di samping Arini.


“Nyanyin Lagu Akad Zal, salah satu lagu mereka, aku suka itu,” pinta Kenzi melirik ke arah Arini. Tirta terus melemparkan tatapan tajam pada Kenzi melihat pergerakan si pengganggu. Rian yang tahu isi hati sahabatnya melihat itu hanya tersenyum miring dia tahu Tirta sedang  cemburu.


“Kayanya ada saingan tuh," bisik Rian di telinga Tirta membuat pemuda ini berdecak, merotasi mata jengah dengan ucapan Rian.


“Oke.”


Zaldy mulai memetik gitar melantunkan lagu.


Bila nanti saatnya telah tiba kuingin kau menjadi istriku berjalan bersamaku dalam teriak dan hujan.


“Lagu si playboy, ngarap banget kayanya akad,” bisik Tirta sinis pada Rian.


“Kode keras ngajak nikahi tuh,” bisik Rian yang langsung mendapatkan sikutan dari Tirta.


Petikan gitar terhenti di iringan tepuk tangan dari Arini.


“Diam-diam suka Zal, tentang seorang suka tapi gengsi ungkapin,” sela Rian mengarahkan sorot matanya pada Tirta yang langsung terbalas tatapan tajam dari si artis.


“Duh siapa tuh?” kelakar Zaldy lalu memetik senar. Melantunkan nada.


Aku diam-diam suka kamu kucoba mendekat kucoba mendekati hatimu.


“Makanya ngaku Lan, jangan diam-diam nanti ketikung.” Bisik Rian.


Perhatian beralih pada Arini.


“Kamu Arini, lagu apa yang kamu suka dari  geng itu?” pancing Rian.


Sejenak Arini memutar bola matanya ke atas berpikir.

__ADS_1


“Lagu baik-baik sayang kak.”


“Kamu suka lagu itu? Kamu kangen seseorang ya?” goda  Zaldy.


Membuat Arini hanya tersipu malu.


“Sepertinya kamu bertepuk sebelah tangan,” bisik Rian tiada hentinya memanas-manasi sahabatnya.


“Diam kau!” bentak Tirta.


Zaldy pun memulai menyanyi.


Hanya satu pintaku di siang dan malamku baik-baik sayang karna aku untukmu


“Lagu itu pasti mengingatkannya dengan Andra,” batin Tirta dengan wajah masam serta rasa panas di hati akibat cemburu.


Lagu terhenti kini giliran Tirta yang belum menyebutkan lagu yang ia inginkan.


“Kamu Lan suka yang mana?” tanya Rian menatap sahabatnya dengan alis naik turun.


“Kekasih tak dianggap,” ketus Tirta dengan nada sinis sama seperti dirinya hanya dianggap idola buka suami.


“Nyesek banget lagunya,” sahut Rian yang mendapatkan pelototan dari Tirta.


“Sudah ayo kita pergi dari sini, kamu jangan ganggu Zaldy latihan.” Tirta menarik tangan Arini untuk pergi.


“Kami ke sana dulu,” pamit Tirta berlalu menggiring tubuh Arini mengikuti langkahnya.


Tirta berdecak kesal waktu yang seharusnya dia pakai untuk berduaan dengan Arini harus terpakai hanya untuk berkumpul dengan artis lain.


Kini mereka telah berada di sebuah ruangan tempat Tirta mempersiapkan diri, Untuk syuting. Arini duduk merotasi pandangannya hingga teringat sesuatu melihat pergelangan tangannya.


“Kak saya harus pulang. Nenek pasti mencari saya. Saya juga lupa pamit,” tutur Arini karena senang bertemu dengan artis hingga terlupa jika dia belum memberi kabar.


Raut wajah Tirta terlihat tak rela. “Jangan pulang dulu, temani aku syuting. Setelah selesai aku akan mengantarmu,” pinta Tirta terdengar membujuk masih ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama Arini.


“Tapi mereka akan mencari saya.”


“Lebih baik kamu telepon nenek, katakan kalau kamu lagi sama aku menonton proses syuting,” saran Tirta.


“Kamu ngak mau lihat proses syuting.” Bujuknya agar istrinya tetap tinggal.


Arini berpikir sejenak lalu mengangguk.


“Saya akan menunggu kakak selesai syuting,” ucap Arini dengan anggukan membuat senyum terkembang di wajah Tirta. Mengambil peran tiang listrik memang adalah keputusan benar membawanya untuk dekat dengan pujaan hatinya. Sepanjang hari ini Arini akan bersamanya.

__ADS_1


hahaha nyesek deh kaya tiang listrik ngak dianggap ....


__ADS_2