
Tirta kembali ke lokasi syuting setelah mengantarkan Arini pulang ke kediaman Abraham.
Andai saja dia tidak terburu-buru ingin membicarakan hal penting dengan Rian tentang kehilangan Andra. Dia pasti akan memutar akal untuk menahan Arini dengan berbagai modus.
Rian langsung masuk ke dalam mobil saat Tirta menepikan kendaraannya di parkirkan lokasi syuting. Kini mereka duduk berdampingan di dalam mobil, untuk mengobrol penting sambil menunggu giliran syuting.
“Ada kabar apa tentang Andra?” tanya Tirta duduk di kursi kemudi menyandarkan punggungnya, melepaskan sejenak lelah setelah mengantar Arini pulang.
“Ada kabar sedikit dari mereka,” ujarnya pelan.
Rian mengela napas berat sebelum mengungkap kebenaran lalu mulai menjelaskan. “Menurut orang yang aku perintahkan untuk menyelidiki kasus, tentang kecelakaan Andra Abraham dua tahun lalu. Menurut mereka, katanya mobil itu masuk ke dalam jurang.”
Tirta menegakkan badannya, bergeser sedikit untuk menatap Rian. “Masuk ke dalam jurang?” ulangnya dengan Alis bertaut dan di angguki Rian. “Lalu?” tanyanya terdengar mendesak dengan wajah penasaran.
“Menurut mereka ada yang anehnya Lan. Ada satu orang yang sudah di bayar mahal untuk memberi keterangan. Dia adalah saksi yang berada di sana saat kejadian itu terjadi. Katanya ada dua jasad di temukan di dalam mobil itu dan berhasil di evakuasi.”
“Maksudmu,” tanya dengar suara bergetar mendengar kata jasad. Apa Andra yang telah menjadi jasad.
“Ya, kecelakaan ini ada dua versi cerita. Satu mengatakan yakin, jika telah menemukan tubuh dua korban kecelakaan itu. Dan yang satu lagi mengatakan Andra belum di temukan, itulah cerita dari versi keluargamu. Entah mana yang benar? Tapi pada kenyataannya kan? hingga detik ini Andra menghilang tidak tahu apa dia masih hidup atau sudah ....” jelas Rian panjang lebar namun tidak melanjutkan kata terakhirnya.
Tirta menghempaskan tubuhnya bersandar di sandaran kursi tubuhnya serasa lemah dengan kemungkinan Andra telah tiada namun mencoba tenang dan tidak berpikiran buruk.
“Aku rasa keluargaku yang benar, jika memang Andra telah tiada, tidak mungkin mereka menyembunyikan fakta ini,” ucap Tirta mencoba menguatkan hati, walau pun sebenarnya dia juga tidak yakin telah dua tahun kakaknya tidak kembali.
__ADS_1
Rian mengela napas berat melihat Tirta memasang wajah sedih sebenarnya ia tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini lagi tapi, dia harus mengatakan walaupun kenyataan ini berat bagi Tirta.
“Kamu tahu Lan. Kasus kecelakaan ini sangat sulit terungkap dan seperti tertutup rapat. Sulit mendapatkan keterangan, sepertinya ada yang berkuasa di balik ini dan membayar orang menutup mulut,” kata Rian.
Pemuda ini kembali menegakkan tubuhnya.
“Maksudmu?” tanya dengan tatapan tajam.
“Ada misteri besar di balik kecelakaan Andra. Ada yang mencoba mengambil keuntungan di balik hilang Andra.”
Emosi Tirta seketika naik saat mendengar ucapan Rian, jika ada yang mencoba menyakiti kakaknya, Dia memukul stir dengan keras.
“Misteri! Aku tidak mau tahu. Berapa pun aku akan membayarnya. Aku harus tahu apa yang terjadi pada Andra!” sentak Tirta dengan tatapan menyalah marah.
“Sekarang mereka mencoba mengorek keterangan dari keluarga asisten Andra, yang bersama Andra saat itu, entahlah apa mereka mau memberi tahu sebenarnya apa yang telah terjadi. Atau hanya diam,” Rian mengusap pundak sahabatnya agar tenang. “Semoga saja mereka mau membuka mulut dan memberi keterangan.
“Tapi Lan jika melihat, dari tempat kejadiannya, sangat sulit mempercayai Andra selamat,” ucap Rian hati-hati.
Amarah Tirta seketika surut, berganti raut wajah sedih, memang benar harapan kakaknya kembali menang sangat kecil. Dan mungkin saja yang di katakan Rian itu benar jika kakaknya sudah. Ah ... dia tidak bisa menerimanya.
“Keluarlah aku ingin sendiri!” ucap Tirta tertunduk menyembunyikan wajahnya di stir mobil.
“Baiklah aku akan keluar.” Rian menepuk bahu Tirta setelahnya meninggalkan mobil membiarkan Tirta untuk menenangkan diri.
__ADS_1
Tirta berada di dalam mobil perasaannya menjadi kacau. Hatinya miris mendengar nasib menyedihkan kakaknya. Sekuat hati mempercayai Andra baik-baik saja namun di ujung hatinya juga berbicara lain jika dia telah kehilangan kakaknya itu untuk selamanya.
Tirta termenung mengingat kilas kedekatannya bersama dengan kakaknya. Andra adalah sosok kakak yang terbaik hanya saja dia terlalu bersinar untuknya, membuat orang menjadi tak memandangnya.
Sumpah demi apa-pun dia sungguh sangat menyesal. Mengapa dia marah selama ini pada kakaknya. Andai waktu bisa di ulang dia tidak akan menyalahkan semuanya pada kakaknya. Andai dulu dia pulang setiap kakaknya menemuinya untuk membujuknya kembali.
Ya kakaknya selalu menemuinya. Membujuknya untuk pulang namun dia selalu menolak. Akhirnya ke kerasan hati itu, hanya berakhir penyesalan. Dia tidak akan punya kesempatan lagi bersama kaknya. Menyesal dan kata Andai terus bergaung dalam hatinya. Andai dia sabar. Andaikan dia tidak meluapkan amarah pada kakaknya. Ah ... rasanya dia ingin berteriak.
****
Malam telah larut, setelah mendengar kabar tentang Andra. Perasaan Tirta benar-benar kacau. Bagaimana pun Andra adalah saudara satu-satunya kehilangannya sungguh membuatnya sedih.
Beberapa kali Tirta tidak fokus dalam melafalkan dialog dalam adegan. Hingga syuting menjadi tertunda dan memutuskan untuk melanjutkan besok.
Kini mereka memutuskan untuk pulang.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Rian mengendarai mobil Tirta.
“Emmm.” Tirta hanya berdehem menatap pemandangan gelap dan lampu-lampu kendaraan dari kaca mobil.
“Besok lebih baik kamu libur, aku akan mengosongkan jadwalmu. Tenangin diri kamu dulu.” ucap Rian.
Tirta hanya tidak diam menyahuti, kini pikiran tertuju pada Arini. Dia butuh dekapan istrinya untuk menenangkan hatinya. iya diakan menghabiskan waktu dengan Arini besok.
__ADS_1