
Tirta berada di dalam kamar, menatap bayi mungil yang tertidur dalam box bayi. Sungguh menggemaskan.
“Sayang anak papa sudah mandi, cantik dan ganteng banget sih.” Tirta menoel-noel pipi putrinya. Namun ada sesuatu yang janggal menurut Tirta.
“Sayang!” panggil Tirta.
Mendengar Tirta sedang memanggilnya, Arini yang duduk di meja rias menghampiri suaminya.
“Ada apa mas?” tanya Arini.
“Kenapa warna selimut mereka berbeda? Adi kenapa mengenakan warna biru dan dinda mengenakan warna Pink,”
Arini menarik napas berat suaminya mulai lagi.
“Tadi dia gumoh mas setelah menyusu. Jadi kotor. Lagi pula mas mereka ini kembar cewek dan cowok nggak bisa dong semua sama terutama warna,” protes Arini.
“Aku hanya tidak mau, mereka kelak nanti berpikir kita membedakan kasih sayang kita, sama seperti aku dulu,” jelas Tirta tersenyum getir ternyata dia punya trauma tentang hubungan saudara, dia yang di besarkan dalam perhatian dan kasih sayang yang berbeda membuatnya tidak ingin anaknya juga merasakan hal yang sama, hingga membiasakan anaknya mendapatkan barang yang sama dan memakai pakaian yang sama. Arini hanya mencoba memaklumi akan tetapi jenis kelamin si kembar ini berbeda. Tentu saja ada barang tertentu yang identik dengan perempuan warna pink contohnya, tentu saja akan aneh jika seorang lelaki memakai warna pink.
Tirta mendekap tubuh Arini.
“Terima kasih sayang karena telah melengkapi hidupku, memberikan kebahagiaan tiada tara. Menjadi ibu dari anak-anakku,” katanya dengan keharuan mengingat bagaimana hubungan mereka di mulai.
“Saya juga mas, terima kasih karena telah menerimaku.” Dekapan itu semakin erat.
“Sayang sudah bisa belum tanda cintanya,” bisik Tirta membuat pelukan itu terurai. Si artis modus mulai lagi.
“Kan baru dua minggu.”
“Lama banget sih. Aku sudah nggak tahan ini!” keluh Tirta memasang wajah cemberut.
Arini mengecup bibir Tirta sekilas. “Tanda bibir saja dulu.”
“Tapi itu ngak berasa.” Tirta lalu menarik pinggang Arini kembali menempelkan bibirnya, mellumatnya dengan gelora. Tangan Arini melingkar di leher Tirta ciuman itu semakin dalam, saling menyesap, mengullum.
“Arini, Tirta ayo turun acara akan segera di mulai!” teriak dari balik pintu.
Tautan itu terlepas wajah mereka memerah dengan napas terengah-engah.
“Ganggu saja.” Tirta berdecak kesal.
“Ibu pasti sudah menunggu kita. Ayo saya akan menggendong Dinda. Mas genggong Adi.
Mereka pun menggendong si kembar untuk acara syukuran kelahiran yang akan dia adakan di kediaman Abraham.
***
Acara ritual syukuran kelahiran si kembar telah selesai kini giliran mereka menyambut tamu undangan. Ana dan Arini masing-masing berbincang-bincang santai menggendong si kembar, di samping mereka ada nenek Nani dan Rian yang dari tadi juga mengobrol dengan Tirta.
Arini melengkungkan senyuman saat melihat Ara sahabatnya telah datang.
“Selama ya. Anak kamu sangat lucu,” tutur Rara gemas menoel pipi anak perempuan yang di tangan Arini dan Ana secara bergantian.
“Ibu!” Rara menempelkan pipinya di pipi Ana.
“Terima kasih Ra sudah datang,” kata Ana dan Arini bergantian.
“Nenek sehat?” tanya Rara beralih pada nenek Nani.
“Sehat sayang.”
__ADS_1
“Lan, mereka telah datang,” sela Rian.
Arini dan Rara pun mengarahkan pandangan pada arah yang di tunjuk Rian. Mata Arini seketika terbelalak, rasanya ia ingin berteriak kencang ketika teman sesama Artis Dilan Magika datang. Pemain jodoh pilihan kakakku serta pemain Ceo jutek Julio kaisar yang berperan sebagai Bian, mereka semua masih tertahan dengan riuhnya tamu undangan yang meminta foto bersama. Sumpah demi apa-pun Arini belum mendapatkan tanda tangan artis itu. jiwa norak artis itu kini meronta-ronta.
“Ahhhhh.” Teriak Rara gemas membuat mereka tersentak kaget Rian yang melihat jiwa norak Rara telah bangkit saat melihat Artis, seperti biasa membekap mulut gadis itu agar aman.
Arini mendekat pada suaminya lalu mengarahkan tubuh Tirta untuk duduk, setelahnya menaruh bayi di lengan kiri Tirta. “Mas titip anak kita saya mau minta tanda tangan dan foto dulu sama Julio Kaisar.” Arini sudah hendak lari.
“Sayang ini kan pesta kita! Kamu ratunya, mereka datang untuk kita, jadi untuk apa tanda tangan,” jelas Tirta berdecak kesal jiwa norak itu tidak pudar sedikit pun padahal Arini menikah dengan artis papan atas yang juga di gilai.
“Sebentar saja.” Arini berlalu.
“Sayang! Sayang!” panggilnya namun Arini tidak berbalik.
Belum berhenti Tirta tercengang dengan tingkah istrinya kini ibunya yang dari tadi menggendong bayi lelaki, ikut meletakkan di lengan kanan Tirta.
“Ibu!” protes Tirta.
“Titip dulu! Ibu juga mau minta foto bareng sama mereka semua, ibu Cuma bisa melihat mereka di teve sekarang mau lihat lebih dekat.”
Tirta semakin berdecak.
“Ibu! Anakmu inikah juga artis!” panggil Tirta kini dia telah kepayahan menggendong dua anak kembarnya.
Tirta mengarahkan pandangannya pada nenek Nani berharap, perempuan tua itu menolongnya. Dan menggendong salah satunya namun tersentak saat melihat iris mata neneknya mengarah pada kerumunan seperti terpukau.
“Nenek!”
“Nenek juga mau minta foto bareng Kenzi Anggara, nenek ngefans banget,” sambar perempuan tua itu bahkan Tirta belum meminta tolong. “Ayo bawa aku ke sana,” titah nenek Nani pada pelayan yang akan mendorong kursi rodanya.
Jeduar ....
“Nenek!” panggilnya namun sudah tak berbalik.
Bola mata Tirta kemudian mencari keberadaan dua orang yang ia harap bisa membantunya yang tak lain adalah mertuanya. Ya, tadi ia melihat mertuanya sedang berbincang bersama dengan ayah Hasan.
Namun pemuda tampan yang sedang kepayahan ini malah menarik napas berat saat melihat mertuanya telah bergabung dengan kumpulan peminta tanda tangan artis idola. oh astaga sama saja, seharusnya Tirta tidak perlu merasa kaget. kan, sama saja dengan Arini putri mereka yang norak saat melihat artis.
Manik mata Tirta lalu berpaling mengarah pada Rian yang masih sibuk dengan Rara yang selalu ingin berteriak.
“Ian bantu aku menggendong satu,” pinta Tirta.
“Kamu ngak liat ini, jika aku lepas dia bisa membuat heboh,” balas Rian sembari terus menutup mulut Ara dengan telapak tangan.
“Ahhhhh!” teriak Rara saat Rian melepaskan sesaat dekapan tangannya.
Tirta mendesah kasar. “Ahhhh dasar semuanya norak bahkan, bahkan nenek pun sama. Rasanya Aku menyesal mengundang mereka semua,” gerutu Dilan seraya menggendong si kembar di kedua tangannya.
Kini Kebahagiaan terus melikupi keluarga kecil mereka. pernikahan ke dua Arini telah membawa berkah dan kebahagiaan bagi semuanya.
The End .....
Dilan Magika\ Tirta Abraham
Arini Larasti.
Andra Abraham
Komentator salfok jeng kunti.
__ADS_1
Penulis Adinda Adi.
Hai semua pecinta Dilan dan Arini akhirnya cerita ini telah selesai. terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan atas dukungan kalian akan novel ke tiga aku.
Terima kasih untuk coment yang baik, like yang kencang, vote yang banyak.
Maaf jika karya saya masih banyak kekurangan mulai dari typo yang menyakitkan mata, tulisan berantakan, bahasa yang tidak sesuai, maaf up date yang berantakan dan membuat gemas, apalagi suka hilang di malam jum'at bersama jeng kunti.
Maaf jika jeng kunti selalu mengganggu, jeng kunti tercipta saat aku lagi ingin mengoceh agar bebanku menjadi ringan. Sebenarnya aku ngak punya teman ngobrol. Akhir-akhir ini aku banyak masalah.
Judul selanjutnya di novel ke empat.
Jeng kunti: terpaksa menikahi jeng kunti.
Dinda: huss! Bacot! Main sambar aja ngapain kamu masuk cerita.
Jeng kunti: yaelah thor pasti meledak ada judul terpaksanya di depan.
Dinda: tapi kagak jeng kunti juga kali! Siapa yang mau!
Dinda: Novel ke empat judulnya Istri mesumku
Jeng kunti: huss thor mau bulan puasa ini jangan, entar puasa eke batal bikin cerita mesum-mesum.
Dinda: jadi apa? kemaren itu sudah di serobot sama Arini masa mundur lagi.
Jeng kunti: yang ini aja tuanku suamiku sama manisnya dengan percintaan Arini.
Dinda: kagak tahu deh pantengin saja ya.
Di novel ke empat nanti, kita sudah seperti saudara ya selain membalas koment kalian satu persatu, kalian juga harus siap dengar curhatku.
Jeng kunti: ogah beban loe banyak. Entar tahu-tahunya mau ngutang.
Dinda: buset!
Jeng kunti: aku ikut lagi ngak thor di novel ke empat?
Dinda: tergantung reques.
Dinda: grup chat author ngak pakai lagi, maaf yang minta masuk ngak di terima, kalau mau tanya-tanya atau mau tahu info follow ig author adindaadi_ insya allah saya balas kalau ngak sibuk.
Jeng kunti: ya elah thor igmu kan fotonya baru tiga, kemarin info mak sakit aja sibuk nyusain tetangga bagaimana caranya. Gaptek aja sok-sok minta di follow.
Dinda: ih gemas banget ini kunti nyinyir, siapa tahu saja ada yang dm ngasih tahu tempat ngilmu yang bagus, jadi ngak perlu hilang lagi setiap malam jumat. Siapa tahu ada info ngepet ngak pakai jaga lilin lagi, tapi pakai senter biar nyalanya lama, atau ada yang info di tempanya ngilmu tumbalnya boleh tetangga yang kagak mau bagi kode wifi.
Jeng kunti: atau tumbalnya tetangga nggak tahu diri suka bobol wifi, Kaya kagak gila iya.
Dinda: buset aku dong!
Oh baca juga karyaku
JODOH PILIHAN KAKAKKU
CEO JUTEK ITU SUAMIKU
Ya kita berpisah dengan artis modus dan Arini yang polos, seperti biasa tolong coment terakhirnya untuk cerita ini ...
Terima kasih see you next story ....
__ADS_1