
Pertemuan tadi siang, sungguh berkesan bagi Tirta. Rasanya dia selalu ingin mengulangnya. Entah mengapa dia selalu ingin dekat dengan Arini, hingga kelopak matanya sulit tertutup dan terlelap. Tapi karena tidak memiliki alasan untuk berkunjung selain alasan menjenguk neneknya, di karena kan telah larut malam. Akhirnya pemuda yang masih memiliki gengsi setinggi langit untuk mengungkapnya perasaan ini, memiliki alasan lain untuk bertemu Arini. Ya Tirta masih memiliki harga diri tinggi untuk mengakui cintanya pada Arini langsung jika hatinya telah berubah lebih tepatnya malu. Teringat bagaimana dia begitu menolak gadis ini dan sekarang memujanya sungguh itu adalah pengakuan yang sangat sulit ia ungkapkan apalagi di hadapan keluarga.
“Kak Dilan!” ulang Arini meyakinkan lagi, saat melihat pemuda yang mengenakan piyama abu-abu bercorak garis ini hanya diam dan menatapnya lekat dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
“Ada apa kakak malam-malam kemari?” tanya Arini mengerutkan alisnya. “Kakak mau bertemu nenek? Nenek sudah tidur jam segini,” tambahnya karena hanya itu alasan Tirta menginjakkan kaki ke rumah ini demi nenek tersayang.
Tirta menghela napas berat sambil memijit tengkuk lehernya dengan sebelah tangan.
“Aku sangat lelah. Aku hanya ingin kamu memakaikan skincareku ini, aku sudah sangat mengantuk,” alibi Tirta si jago akting dengan nada di buat datar seolah tidak membutuhkan Arini.
Ah dasar pria banyak modus. Hanya itu bisa dilakukan Tirta, memutar otak mencari akal untuk bertemu Arini. Dan pria jago akting ini sangat pandai menutupi expresinya seolah sedang mendalami peran.
Arini mendelik menatap kotak skincare yang berada di tangan sang artis.
“Baiklah.” Arini mengangguk atas permintaan si artis, akan membantu Tirta sama seperti yang dulu sering dia lakukan.
Tirta lalu menarik pergelangan tangan Arini yang masih berdiri di ambang pintu keluar dari kamar, mengikuti langkahnya.
“Kak Dilan mau ke mana?” tanyanya Arini tidak mengerti atas perlakuan Tirta.
“Ke kamarku,” ucap Tirta singkat dengan senyum seringai di wajahnya.
“Ke kamar kakak?”
“Sudah kamu ikut saja.”
Tirta tidak ingin masuk kembali ke dalam kamar Arini yang juga kamar Andra. hatinya terasa panas jika berada di dalam kamar itu, ia cemburu bila mengingat kenangan indah mereka.
Tirta telah berbaring di ranjangnya, di kamar yang sudah kosong selama beberapa tahun milik Tirta. Arini pun melakukan tugasnya duduk di pinggir kasur. Sepanjang mengoles krim jantung Arini berdetak kencang, bertalu-talu karena Tirta terus menatapnya lekat dengan sorot mata dan wajah yang sulit dia baca. Perempuan mana yang tidak gila jika di tatap oleh idolanya. Ya sekali menegaskan idola ...
Setelah menghabiskan waktu beberapa saat mengusap wajah mulus artis kini tugas itu telah selesai.
“Sudah kak,” lapor Arini namun belum beranjak Tirta menghentikan Arini untuk bangkit.
“Kamu akan tidur di sini,” ucap Tirta terdengar bukan permintaan namun perintah.
“Di sini!” Arini tersentak membulatkan matanya dengan perintah pemuda yang sedang memegang pergelangan tangannya.
“Ia. Mulai malam ini kau akan tidur di kamar ini.” Tirta menunjuk ruang kosong di sampingnya dengan ekor mata.
__ADS_1
“Ha ....”Arini tertegun menelan salivanya dengan susah payah, menatap ruang ranjang besar milik Tirta. Idolanya ini menawarkannya tidur bersama.
“Tidur di kamar ini!” ulang Arini memastikan.
“Iya, Karena kamu sudah menikah denganku jadi kau harus tidur di kamarku! Suami itu aku bukan Andra lagi,” ucap Tirta terdengar tegas.
"Saya tidur di kamar saya saja kak," tolak Arini.
"Mulai malam ini kamu harus tidur di kamarku, besok pindahkan barang-barangmu ke kamar ini," titah Tirta akan perlahan-lahan menghapus Andra dari hati Arini.
"Pindah kamar kak?"
"Iya, ingat aku suami, dan inilah kamar suamimu!"
“Ayo tidur!” Tirta memicingkan mata semakin menarik tangan Arini agar berbaring di sampingnya.
“Kenapa, kau tidak mau!” sentak Tirta saat melihat Arini hanya diam saja.
“Bukan, saya pasti tidak bisa tidur nyenyak tidur di samping idola seperti kakak!” kata Arini dengan gemas dan malu-malu di mata Arini Tirta hanyalah bintang yang tidak mungkin bisa ia gapai.
“Dia menggilaiku, mengagumiku namun hanya sebagai idola, tidak lebih. Dia matanya aku hanyalah idola, dia tidak pernah menganggapku suaminya,” batinnya miris.
“Iya, baiklah cepat naik, ini kesempatan emas bagimu! Tidur di samping artis idolamu,” Tirta mengucap bangga lalu menggeser badannya memberikan ruang untuk Arini, istrinya ini lebih nyaman berdekatan dengannya sebagai idola dari pada suami. Tak masalah bagi Tirta ia hanya ingin Arini terbiasa dulu dekat dengannya.
Dengan ragu-ragu Arini menyibak selimut lalu naik ke ranjang dengan perasaan gugup, meluruskan punggungnya di kasur.
Sumpah demi apa-pun tubuh Arini serasa kaku ia bahkan sulit bernapas karena tidur bersama dengan Tirta, apalagi pemuda ini berbaring miring menatapnya. Dia serasa mimpi seraya bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi ini.
“Kamu belum tidur.” tanya Tirta saat beberapa menit yang mereka lewati namun belum juga terlelap karena detak jantung yang berisik menguasai perasaan mereka.
“Belum kak.”
Tirta tersenyum miring tahu apa yang membuat Arini sulit terlelap, ia pun mengulur tangannya mengelus puncak kepala Arini dengan lembut. “Cepatlah tidur! Kamu harus terbiasa, karena selamanya kita akan tidur bersama seperti ini,” ujarnya dengan nada datar.
“Ha!” Arini menolehkan pandangannya pada Tirta. Kata selamanya membuatnya merasa aneh.
“Lain kali, kau harus menginap di rumahku,” tambahnya.
“Menginap kakak!” semakin tercengang.
__ADS_1
“Emmm.” Tirta berdehem.
Blus ... pipi Arini seketika memerah merona malu, kemudian berbalik memunggungi Tirta, sungguh rasanya dia sudah tidak kuat seranjang dengan idolanya, tak lama pertahanan hatinya bisa runtuh, jika mendapatkan perlakuan hangat dari sang bintang. Dia sama sekali tidak berharap hubungan ini akan bertahan selamanya, Tirta tidak mungkin jatuh hati pada gadis biasa seperti dirinya apalagi kehangatan itu, masih di selingi ucapan ketus khas Tirta semakin menjauhkan pikirannya itu dari cinta.
Tirta menatap nanar punggung Arini yang berbaring miring memunggunginya.
“Perlahan aku akan menggantikan Andra di hatimu. Aku akan membuatmu terbiasa dengan kehadiranku, pelan-pelan kamu akan jatuh dalam pesonaku, dan menganggapku suamimu bukan idolamu lagi,” batin pemuda ini dengan kepercayaan diri tinggi jika ia bisa menaklukkan Arini.
Arini merasakan kasur bergejolak dan tak lama.
Deg ....
Kembali jantung Arini seakan terjun bebas saat tangan Tirta terulur melingkar di pinggangnya, mendekapnya dari belakang dan menempel padanya. Dia bisa merasakan aroma tubuh yang menguar dari tubuh Tirta. Deru napas yang terasa menyapu tengkuk lehernya membuat tubuh Arini meremang. Sepertinya malam ini ia tidak akan bisa terlelap memikirkan semua yang terjadi.
Hai maaf baru up lagi dan cuma dua... lagi sibuk banget ngejar harta lain biar cepat kaya, soalnya regulasi level nt/mt sekarang susah! kagak dapat apa-apa, ngak bisa bikin kaya. jadi aku nyambi ngambil jalan pintas gitu... kalian nyadar ngak sih? kalau aku akan selalu hilangnya di awalin di malam jumat. Jadi setiap malam jumat banyak-banyak baca doa biar author kalian ini, ngak berubah? Dan fokus tulis. (hihihihiihi) suara cekikikan khas jeng kunti. Memang jadi kunti bikin kaya yah?🤔🤔 bukanya ngepet sama tuyul yang dapat uang🙄. Uupss salah yah ..wah gila 😱😱 pantas sudah berapa jumat aku ngak kaya-kaya salah daftar yah ...😭😭
sekali lagi maaf kan daku .....
__ADS_1