
“Aaahhhh.” Teriak Rara “Di—’’ Suara gadis ini tertahan saat Arini berdiri dan mendekap mulutnya dengan kedua tangan agar tidak berteriak membuat orang heboh dan memancing fans lain datang.
“Ra sudah jangan berteriak!”
Sekuat tenaga Rara membuka bekapkan tangan Arini di mulutnya, lalu mengarahkan telunjuknya pada Tirta yang hanya diam tercengang menghadapi fans extream sahabat istrinya. “Arini idola kita Di—“ lagi-lagi Arini menutup mulut Rara.
“Iya. Ra dia Dilan Magika tapi kamu tenang ya. Kak Dilan bisa di kerumuni fans di sini jika kamu berteriak,” jelas Arini dan di angguki kepala oleh Rara yang telah mengerti.
Perlahan setelah Rara tenang, Arini melepaskan tangannya lalu kembali duduk di samping Rara setelah merasa semua aman.
Rara lalu merogoh tasnya, meraih buku dan pulpen memberikannya pada Arini agar bicara pada Tirta karena dia sudah begitu gugup. “Rini aku minta tanda tangannya,” bisik Rara terus menatap lekat wajah tampan artis idolanya. Jantungnya berdebar kencang berhadapan satu meja dengan sang artis. Mimpi apa dia semalam? gumamnya.
Arini menari sudut bibirnya melihat tingkah lucu Rara. Ia teringat kenang bagaimana dia juga saat bertemu pertama kalinya dengan Dilan Magika dia bahkan membatu tidak bisa bergerak.
“Kak Dilan, Rara minta tanda tangan,” pinta Arini menyodorkan buku dan pulpen.
“Baiklah.” Tirta mengangguk lalu menerima buku Rara dan mulai mencoretnya dengan tanda tangan.
“Ini.” Tirta mengembalikan buku Rara.
Bersamaan dengan pesanan mereka yang telah datang. Rara mengembangkan senyuman saat melihat kertas yang berhiaskanberhiaskan tanda tangan idolanya, sudah tidak peduli lagi dengan rasa lapar yang telah menguap entah ke mana?
Mereka pun menyantap hidangan pesanan mereka. Arini menolehkan pandangannya pada Rara yang hanya terdiam menggantung sendok.
“Ayo makan Ra,” ajak Arini.
“Aku mendadak ngak lapar, setelah ketemu dia,” ucap Rara hanya menatap wajah Tirta.
“Cuma mau lihat bagaimana gaya artis kalau lagi makan.”
Arini hanya tersenyum lalu kembali melanjutkan makannya.
__ADS_1
Tirta hanya diam menyantap makanannya sambil mencuri pandang pada Arini sama seperti yang sering dia lakukan. Pemuda ini menarik senyum saat melihat Arini telah terlihat kepayahan dengan makanan pedas yang dia makan. Bulir keringat bercucuran serta wajah yang telah memerah akibat menahan merasakan sensasi pedas.
“Gimana masih kuat?” tanya Tirta.
"Masih kak,” ucap Arini dengan keyakinan.
Tirta mengarahkan manik matanya pada perempuan di samping Arini. “Rara kenapa ngak makan? Katanya suka pedas?" tanya Tirta karena gadis ini hanya menatapnya. Rara seketika seakan berhenti bernapas saat idolanya menyapa.
“Dia udah kenyang lihat kakak,” sahut Arini membuat Tirta tersenyum lucu. “Kakak makan aja jangan pedulikan dia,” tambah Arini dia mengerti berada di posisi Rara dia juga begitu jika bertemu artis.
“Makan yang banyak.” Tirta menaruh beberapa lauk di piring Arini menunjukkan perhatiannya.
Sambil mengunyah Arini menatap apa yang di lakukan Tirta padanya. Kembali bingung. Dan semakin tercengang saat Tirta meraih tisu lalu mengusap keningnya di hadapan Rara.
“Kamu sampai keringatan,” ucap Tirta di hiasi senyum lembut dan menghanyutkan.
“Uhuuuk.” Makanan di mulut Arini menolak untuk masuk karena perlakuan manis Tirta hingga membuatnya tersedak. Menepuk dadanya.
“Kamu kenapa?” pemuda ini panik lalu menyodorkan minum pada Arini.
“Ngak apa-apa kak” ucap Arini.
Rara mengerutkan alisnya sepanjang makan bersama ini. Ada yang aneh dengan interaksi keduanya yang membuatnya bertanya-tanya tentang hubungan mereka. Apalagi mengamati idolanya memandang Arini dengan tatapan mendamba serta diam-diam selalu mencuri pandang pada Arini dan terlihat sangat perhatian.
Mobil menepi tepat di depan kediaman Abraham. Mereka pun telah turun dari kendaraan mewah itu.
“Makasih kak, makan siangnya,” ucap Rara menghilangkan kegugupannya dengan kembali ceria dan dibalas anggukan dan senyuman manis Tirta.
“Makasih kak,” sahut Arini berdiri di hadapan Tirta. “Kakak ngak masuk? Sekalian jenguk nenek,” tawarnya.
__ADS_1
“Lain kali saja, aku harus kembali syuting.” Tirta memang meninggalkan syuting demi bertemu Arini.
“Kalau begitu saya masuk dulu,” pamit Arini berbalik namun suara Tirta menghentikan langkahnya.
“Kamu ngak lupa sesuatu?” tanya Tirta dengan tangan bersedekap di dada.
Arini kembali berbalik menatap Tirta.
“Apa kak?” Arini mengernyitkan alis, tidak mengerti ucapan Tirta.
Tirta menghembuskan napas berat, lalu mengulur tangan kanannya di hadapan Arini. “ Sebelum pergi! Kamu ngak salim dulu sama suami kamu.” Tekan Tirta mengingatkan kebiasaan Arini yang selalu mencium punggung tangannya dan ia merindukan hal itu dari Arini setelah beberapa hari.
Jeduar ...
Mata Arini seakan ingin jatuh keluar saking kagetnya untuk pertama kalinya Tirta mengatakan kata suami apalagi di hadapan Rara sahabatnya. Sama seperti Arini, Rara yang berdiri di sampingnya, rahangnya seakan ingin jatuh, dunia terasa berhenti saat mendengar pengakuan si artis idola telah menjadi suami Arini.
“Ayo cepat!” paksa Tirta masih mengulur tangannya dan menekuk pergelangan.
Arini menelan salivanya melirik Rara dengan ekor mata, yang masih mematung di sampingnya. Dengan ragu-ragu dan tubuh kaku bak robot Arini menerima uluran tangan suaminya lalu mencium punggung tangannya.
Tirta lalu menarik tubuh Arini masuk ke dalam pelukan, mendekapnya erat menghirup aroma parfum Arini yang begitu dia rindukan. “Jaga diri baik-baik,” ucap Tirta mengelus rambut panjang Arini membuat gadis ini seakan tidak bisa bernapas dengan perlakuan Tirta.
Pelukan terlepas Arini kembali hampir pingsan saat Tirta mengecup keningnya dengan lembut. “Aku akan menemuimu lagi.” Kata Tirta lalu berbalik dengan senyum puas dan penuh kebanggaan setelah menyalurkan perasaan Rindu pada Arini lalu masuk kembali ke mobil.
Tirta telah pergi meninggalkan Arini dan Rara yang masih diam berdiri mematung setelah sukses membuat dua gadis ini seakan terkena serangan jantung.
Arini menolehkan pelan wajahnya pada Rara yang telah menatap nya dengan tatapan menyelidik menunggu penjelasan.
“Arini Dilan Magika suami kamu?” tanya Rara dengan memicingkan mata.
Membuat Arini menjadi gugup, menelan salivanya. Entah dari mana Arini akan memulai untuk menjelaskan pada Rara yang kini menatapnya tajam.
__ADS_1