Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
istriku


__ADS_3

Tirta dan Arini telah meninggalkan lokasi syuting, entah mengapa hati Tirta serasa tak rela, melihat keakraban Arini dan Kenzi, hingga memutuskan membawa Arini pergi saat itu juga, meninggalkan kewajiban yang belum terselesaikan. Kini mereka telah berada di dalam mobil. Tirta memegang stir kemudi dengan wajah dingin berbanding terbalik dengan Arini yang memasang wajah ceria menatap isi paperbag yang  dibawa dan telah berhasil di bubuhi tanda tangan oleh artis idolanya.


“Kakak sudah selesai syuting? Kita akan pulang?” tanya Arini menatap mug yang di beri tanda tangan oleh Marsya Ayunda.


“Emmm.” Pemuda ini hanya berdehem.


Sekilas Arini menatap rona keemasan yang melukis angkasa dari luar jendela mobil. Hari akan menjelang senja dan Tirta sudah akan pulang, ini bukan kebiasaan si artis yang selalu pulang larut malam. “Jadi kakak pulang lebih awal?” tanya Arini menatap Tirta dengan alis bertaut.


“Emmm.” Masih terlihat kesal mengingat kedekatan Arini dan Kenzi.


“Aku sudah bilang jangan terlalu dekat dengan Ken!” sungut Tirta.


“Kenapa kak? Kak Kenzi sangat baik dan ramah,” ucap Arini kembali tersenyum saat mengingat sisa barang di paperbag yang dia bawa telah di tanda semua oleh artis tampan berlesung pipi itu.


Tirta mendengus sambil merotasi bola matanya. “Dia itu playboy. Perayu ulung! Jadi jangan terlalu dekat dengannya, jangan sampai kau terbuai dengan rayuannya,” jelas Tirta dengan ketus.


“Kak Kenzi kan artis, ngak mungkin merayu saya, apalagi suka sama saya,” tutur Arini dengan santai kembali menatap isi paperbag yang telah membuat hatinya bahagia.


“Kau ini benar-benar polos atau bodoh. Kau tidak bisa membaca tatapan lelaki.” Tirta berdecak kesal saat melihat Arini tidak mengidahkan peringatannya dan hanya terus menatap isi paperbag yang ada di pangkuannya.


Tirta fokus menatap jalan seraya tangannya mencengkeram kuat stir kemudi mobil.


“Kak Dilan!” panggil Arini menatap pemuda yang sedang terlihat kesal.


“Emmm.” Jawabannya tanpa menoleh sedikit pun.


“Terima kasih karena sudah membantu saya mendapatkan tanda tangan mereka,” ucap Arini dengan tulus.


“Kamu senang?” tanyanya dengan nada sinis dan masih memasang wajah kesal.


“Ia. Mimpi saya bertemu dan mendapatkan tanda tangan artis tercapai karena kakak,” tuturnya.


Tirta menolehkan ke samping, menatap senyum indah merekah di wajah cantik Arini membuat hati Tirta menghangat, tanpa sadar ia pun menarik sudut bibirnya melihat Arini terlihat bahagia. Niatnya memanggil Arini ke lokasi syuting agar gadis itu melupakan kesedihannya akibat cibiran yang ia terima berhasil. Arini terlihat sangat bahagia seolah tidak peduli dengan masalah yang dihadapi.


Pasangan ini telah sampai di rumah saat langit senja masih menyapa. Sang artis telah pulang. Kali ini Arini tidak perlu lagi begadang menunggu suaminya.

__ADS_1


Arini berada di dapur menyiapkan menu makan malam untuk mereka berdua. Menu makan malam kali ini adalah tumis kangkung dan ayam goreng dan bakwan jagung tidak lupa sambal sebagai pelengkap untuk makanan sederhana bagi Arini sendiri, sedangkan untuk si artis yang menjaga berat badan Arini menyiapkan salad sayur. Tak membutuhkan waktu lama semua telah tersaji.


Arini dan Tirta berada di meja makan duduk berhadapan. Seperti biasa, manik mata Tirta secara diam-diam akan menyorot Arini yang makan dengan lahap hanya fokus pada makanan yang ada di piring. Seolah hari yang dijalani baik-baik saja, tak ada beban dalam hidupnya. Sedangkan dia seharian ini sangat khawatir jika gadis ini bersedih karena ulahnya mendandaninya. Ya entah mengapa dia tidak ingin melihat Arini bersedih, ada sisi lain dalam hatinya yang juga ikut terluka.


“Emmm. Soal tadi pagi,” ucap Tirta memecah kebisuan menatap Arini. “Bagaimana di kampus tadi? apa orang semakin mencibirmu?” tanya Tirta menghentikan sejenak suapannya.


Arini mendongak menatap Tirta. “Tidak, mereka hanya berbisik,” jawabnya sekilas lalu kembali fokus pada makanannya.


“Apa sudah sejak lama mereka mengejekmu?”


“Lumayan.” Arini menyuapkan lagi makanan ke mulut sedangkan Tirta yang mendengar itu emosinya menjadi tersulut.


“Kenapa kau hanya diam membiarkan orang menghinamu! Kenapa kau tidak membungkam mulut mereka!” geram Tirta.


“Karena saya tidak punya jawaban tentang status saya. Saya sudah menikah tapi suami pergi hingga kini belum kembali,” ujar Arini santai tanpa beban dengan mulut penuh makanan.


“Kenapa kau tidak pindah kampus saja?”


“Tidak mau, saya tidak masalah mereka mau berkata apa, niat saya hanya ingin belajar.”


“Apa orang tuaku tahu?” tanyanya dengan tatapan tajam dan mengintimidasi gadis yang makan di hadapannya.


“Tidak, lagi pula itu tidak penting.”


“Mereka memang egois, bisa-bisanya mereka tidak tahu masalah yang terjadi pada menantunya,” batin Tirta berdecak kesal.


“Aku akan mengatur agar kau bisa pindah kampus,” ucap Tirta dengan tegas.


Arini seketika menghentikan suapannya, saat mendengar obrolan Tirta terdengar serius. Ia menatap Tirta yang terlihat kesal.


“Tidak perlu kak. Saya sudah nyaman belajar di sana, lagi pula saya punya sahabat yang bernama Rara yang akan terus membela saya,” tolak Arini melambaikan kedua tangannya.


“Kalau begitu, Aku yang akan membungkam mulut mereka semua.”


“Sudah kak. Biarkan saja mereka mau bicara apa-pun sepuasnya, niat saya hanya ingin belajar.”

__ADS_1


“Tapi, Kau bukan janda. Kau istriku!” sentak Tirta dengan penekanan dan amarah tak sadar dengan baru saja yang diucapkannya jika dia menyebut Arini sebagai istrinya.


Arini terpaku menatap lekat Tirta, begitu pun dengan pemuda ini. Sejenak manik mata mereka bertemu, kehening menguasai terdiam dengan pikiran masing-masing, hingga detik-detik berlalu mereka mulai  tersadar dan suasana seketika menjadi canggung. Tirta membuang pandangannya kembali memegang sendok yang ada di piring sungguh ia mengutuki dirinya dengan apa yang diucapkannya pada Arini. Begitu pun dengan Arini tertunduk menatap piring makannya lekat setelah mendengar ucap istri dari Tirta, rasanya ia telah kehilangan nafsu makan namun tidak bisa keluar dari situasi canggung ini.


Ting ... tong ....


Suara bel pintu menyelamatkan suasana kikuk itu. Seketika Tirta bangun dari duduknya.


“Lanjutkan makanmu. Aku akan membuka pintu,” ucapnya tanpa menatap Arini, berjalan cepat meninggalkan meja makan.


Arini merosotkan tubuhnya, menarik napas lega saat melihat suaminya telah meninggalkan ruang makan.


Pemuda tampan ini telah berada di depan pintu, mengatur napas setelah keluar dari suasana canggung dengan Arini. Selepas itu perlahan membuka pintu dengan banyak pertanyaan siapa yang datang ke rumahnya.


Mata Tirta membulat saat melihat, siapa yang datang.


“Rian!”


 


 


 


 


Jeng .... jeng ...... maaf ya, membuat kalian menunggu. Penyakit lama up ku kambuh lagi. akibat kesibukan di dunia nyata. Tapi setelah ini semoga lancar kembali.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2