
Malam telah berganti pagi Arini mulai tersadar membuka mata perlahan. Kepalanya berdentum nyeri, kenangan akan kejadian kemarin kembali teringat, menangis seharian telah membuatnya kepalanya terasa berat. Arini meraba kain yang menempel di keningnya, menyingkirkannya lalu menoleh kepalanya menatap Tirta yang terlelap berbaring miring memeluknya erat.
Arini tersenyum miring mempertanyakan perasaan Tirta untuknya. Tulus itulah pertanyaan mengudara dalam fikiran Arini, setelah semua terungkap. “Dia hanya kasihan pada saya. Baru menikah seminggu telah menjadi janda, dua tahun menanti dalam penantian semu. Idola seperti kak Dilan tidak mungkin mencintai saya,” batin Arini kini meragukan ketulusan Tirta padanya, setelah merunut semua kejadian yang dia alami bersama Tirta, dari pemuda ketus dingin berubah menjadi perhatian.
Tirta meliuk, mengumpulkan separuh nyawanya membuka perlahan kelopak matanya.
“Kamu sudah bangun!” kata Tirta tangannya lalu memegang kening Arini. Menarik napas lega saat suhu tubuh Arini telah normal. “Syukurlah kamu sudah ngak demam,” seulas senyum terbit dari wajah Tirta semakin mempererat pelukannya menyelipkan wajahnya di ceruk leher Arini. Sungguh mengetahui Arini hamil dia sangat bahagia cinta itu semakin berlipat.
Arini hanya diam membuang pandangannya, bersikap dingin kekecewaan masih tertanam dalam dirinya.
***
Sekuat hati Arini menahan linangan air mata saat Tirta dari tadi memberikan perhatian mulai menggendongnya ke kamar mandi hingga sekarang dengan telaten Tirta menyuapinya, padahal ia tidak memiliki nafsu makan.
“Sudah kak. Saya kenyang!”
“Satu kali lagi. kamu harus makan yang banyak,” katanya membujuk.
Arini hanya menjawabnya dengan gelengan kepala pelan.
Tirta menghela napas. “Baiklah. Sekarang kamu istirahat,” ucapnya kemudian menaruh mangkok bubur di nampan hendak membawanya keluar kamar.
Tak beberapa lama Tirta kembali duduk di pinggir tempat tidur, setelah mengurus keperluan Arini kini Tirta ingin dia akan bicara dari hati ke hati memberi tahu kabar baik tentang hadirnya buah cinta mereka di rahim Arini.
Tirta memegang telapak tangan Arini seraya menatapnya dalam wajah yang sembab itu.
“Kak Dilan!” sapa Arini membuka pembicaraan lebih dulu.
__ADS_1
“Iya.”
“Saya ingin pulang,” ucap Arini dengan suara bergetar menahan tangis.
“Pulang.” Alis Tirta bertaut mendengar permintaan Arini, dia pasti mencemaskan nasib nenek Nani tebaknya yang sempat di bahas oleh ayahnya kemarin. “Sayang Kamu belum pulih!” tambah Tirta menyelipkan anak rambut Arini ke belakang telinga.
“Saya akan pulang ke rumah orang tua saya! Saya akan kembali pada mereka.”
Deg ...
Darah Tirta seakan berhenti mengalir saat Arini meminta untuk pulang ke rumah orang tuanya. tanda jika istrinya akan meninggalkannya.
“Untuk apa pulang?” tanyanya.
“Kak Dilan tidak perlu lagi terikat dengan pernikahan ini. Kakak bisa bebas mengejar karier.” Arini tertunduk meremas ujung bajunya.
“Kamu pasti mengira aku mempermainkanmu!”
Tirta mendesah kasar mengungkapkan perasaan adalah hal yang paling sulit baginya. Bahkan terhitung baru satu kali dia mengatakan cinta pada Arini, itu pun karena istrinya itu yang menantangnya. Entah dia harus memulai dari mana meyakinkan Arini jika idola sepertinya juga bisa jatuh cinta.
“Aku sudah mencintaimu sejak dulu, jauh sebelum aku tahu Andra telah tiada.” Arini mendongak menatap Tirta lekat dengan semua penjelasan itu seakan tak percaya.
“Aku tidak pernah mengungkapnya, karena kamu tahu aku, aku tidak pandai menunjukkan perasaanku. Lagi pula jika sejak dulu aku dulu mengatakan perasaanku yang sebenarnya apa kamu percaya? Idola aku seperti bisa jatuh cinta padamu? yah dan nyata benar setelah mengatakannya sampai saat ini kamu tidak percayakan?” ungkap Tirta memasang wajah tak bersemangat.
Arini hanya diam meremas ujung bajunya, dadanya terasa sesak akan pengakuan Tirta.
“Selama ini aku hanya bisa menunjukkan cinta dan perhatianku dari fans bernama Tita.”
__ADS_1
Deg ... jantung Arini seakan terpompa cepat.
“Tita?” memori Arini berputar mengingat semuanya. Camilan sehat, alat make up, barang mewah, bunga, perhiasan serta banyak lagi.
Tirta mengangguk seraya tersenyum getir.
“Ya, kamu juga pasti heran kan! Mengapa fans bernama Tita memberikan begitu banyak barang spesial. Aku lah yang memberi semua hadiah itu untukmu tanda cintaku. Aku mengambil peran tiang listrik agar kita bisa dekat, semua aku lakukan demi kamu.”
Tanpa kata lagi Arini seketika mendekap tubuh Tirta penuh keharuan ternyata cinta suaminya begitu sangat dalam padanya.
Tirta mengusap lembut punggung Arini. “Maaf aku bukan Andra yang bisa merayu mengatakan jika kau adalah wanita yang paling cantik yang pernah aku temui. Itu namanya berbohong, Karena masih banyak artis jauh lebih cantik darimu,” tutur Tirta mengingat akan alasan Arini mencintai Andra hanya karena dia begitu di puja.
Arini menepuk dada Tirta pelan akan ucapannya, tersenyum lucu Andra dan Tirta memang berbeda. Tirta mencintai dengan caranya sendiri.
“Tapi aku bisa mengatakan jika kamu adalah ratu dihatiku, pemilik hatiku selamanya,” ungkap Tirta, entah sudah seperti apa wajah Arini, sepasang jantung berdetak dengan kencang pelukan itu semakin erat saling meluapkan perasaan jujur Arini juga telah jatuh cinta pada pesona Tirta hanya saat rasa bersalahnya pada Andra yang selalu membuatnya mencoba menekan semua perasaan itu.
__ADS_1