Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
bertemu Dilan


__ADS_3

Arini dan Rara kompak berdiri saat melihat dosen lelaki telah keluar dari ruangan tanda kelas hari ini telah selesai.


Rara semakin mendekatkan badannya lalu merangkul pundak Arini. “Rin jalan-jalan yuk. Bosan nih temani aku belanja, kita makan-makan ke mall,” ajak Rara penuh dengan penuh  pengharapan pada sahabat yang selalu menolak ajakkannya.


“Maaf Ra. Tapi aku harus pulang, kasihan nenek,” tolak Arini dengan lembut sambil mengulas senyum.


“Ayolah Rin,” rengek Rara memasang wajah cemberut mendengar penolakan sahabatnya.


“Lain kali saja ya.” Arini merasa tak enak hati menolak ajakan Rara, apalagi menatap wajah manis yang sedang cemberut itu. “Atau gini, kamu saja yang main ke rumah aku,” tawar Arini.


Rara memutar manik matanya ke atas berpikir sejenak tentang ajakan Arini. “Baiklah aku ikut ke rumahmu. Lagi pula aku sudah lama tidak ke sana, dan bertemu dengan nenek.” Rara lalu merangkul lengan Arini untuk berjalan ke luar kelas.


“Oh iya nenek apa kabar?” tanya Rara.


“Kesehatannya sudah semakin membaik. Nenek pasti senang kamu datang,” ujar Arini.


“Ayo.” Rara menarik tangan Arini agar mempercepat langkahnya.


Arini melangkah perlahan saat ponselnya tiba-tiba berdering. Dia pun merogoh tasnya menatap sekilas benda pipih itu dengan alis berkerut saat membaca nama yang tertera.


“Kak Dilan,” gumamnya pelan mengarahkan ekor matanya pada Rara yang masih bergelayut dilengannya ia pun lalu menjawab panggilan itu. Arini menarik tangannya lalu berjalan pelan di belakang Rara. “Bentar Ra aku jawab telepon dulu.”


Arini lalu menempelkan ponselnya di telinga. “Kamu di mana?” Tirta.


“Saya di kampus kak. Udah mau pulang.” Arini berucap pelan agar Rara tidak curiga.


“Ayo cepat keluar.” Tirta.


“Keluar ke mana?” Arini tidak mengerti.


“Aku di depan kampusmu.”


Langkah kaki Arini yang mengikuti Rara seketika terhenti saat tahu jika Tirta sekarang berada di depan dan sedang menunggunya. Wajahnya seketika berubah panik, Jika dia keluar maka Rara akan tahu bahwa dia akan bertemu dengan artis idola Dilan Magika.


“Ada apa Ra?” tanya Rara saat Arini hanya terdiam.


“Be ... begini Ra ...” ucap Arini tergagap, bingung bagaimana ia menahan agar Rara tidak ikut bersamanya dan tidak bertemu dengan sang artis.


“Maaf, hari ini kamu ngak bisa main dulu ke rumah, aku lupa, hari ini aku sangat sibuk,” alibi Arini menggaruk tengkuknya.


Rara menatap tajam Arini dengan wajah memberengut.


“Kan kamu yang ajak aku,” tekan Rara sambil berdecak yang dibalas senyum kaku dari Arini.


“Maaf, lain kali saya ya.” Bujuk Arini.


“Ngak mau! Masa kamu yang ajak aku, kamu juga yang batalin. Lagian kamu sibuk apa? Aku bantu. Lagian aku juga akrab dengan mereka. Sudah jangan banyak alasan. Ayo pergi.” Rara menyentak tangan Arini membuat gadis ini terhuyung mengikuti tarikan tangan Rara.


Sedangkan Tirta berdiri telah di depan kampus memakai topi hitam serta kacamata hitam yang bertengger hidung mancungnya. Tidak lupa mengenakan masker untuk menutupi wajah tampannya, agar tidak ada yang mengenali. Pemuda tampan ini melipat tangan di dada sambil Menyandarkan tubuh tingginya di badan mobil, dengan  perasaan gugup meliputi karena akan bertemu lagi dengan perempuan yang telah sukses membuatnya merindu.


Tirta tidak menghiraukan  banyak para gadis memperhatikannya. Walau sedang melakukan penyamaran Tirta tetap menjadi pusat perhatian, bentuk tubuhnya serta gayanya yang selalu keren. Siapa pun bisa menilai jika wajah tampan yang berada di balik masker itu.

__ADS_1


Jantung Tirta memacu cepat saat melihat Arini telah keluar, hatinya berdesir hebat, terasa berbunga-bunga, tanpa sadar ke dua sudut bibirnya tertarik dan benar Arini adalah jawaban dari keresahannya selama ini.


Sedangkan Arini mulai bergetar saat melihat Tirta yang malah berdiri menunggunya dan telah menjadi pusat perhatian jika mereka bertemu saat ini.


“Aduh kenapa kak  Dilan tidak menunggu di mobil saja. Bagaimana ini? Rara ngak boleh tahu, bisa bahaya,” batin Arini menghentikan langkahnya. Tapi Rara mengeluarkan seluruh tenaganya menarik gadis ini.


“Kak Dilan,” ucap Arini pelan saat Tirta malah semakin mendekat padanya membuat Rara menghentikan tarikannya menatap ke depan.


“Siapa Ra?” tanya Rara saat menatap tubuh tinggi tidak di kenali akan menghampiri mereka. “Gebetan kamu ya?” tambah Rara lagi saat tidak mendapati jawaban dari Arini.


“Hus ... Dia ... Dia sepupu,” sangkal Arini terbata.


“Kayanya ganteng banget Rin, kenalin dong.” Rara menatap kagum penampilan Tirta.


“Kak Di ...” Arini menggantung ucapannya tidak mau Rara mendengar jika yang di hadapannya adalah idolanya. “Ada apa kak?” tanya Arini menatap aneh kedatangan Tirta yang tumben mencarinya.


“Kamu sudah mau pulang? Aku akan mengantarmu,”


Arini tertegun mendengar ucapan Tirta yang kemari hanya untuk mengantarnya pulang. Apa dia tidak salah dengar? Itu pikirnya.


“Tidak perlu kak, saya akan pulang dengan Rara,” tolak Arini dengan cepat apalagi ada Rara yang akan ikut pulang bersamanya bisa-bisa rahasianya terbongkar.


“Ayo naik, aku akan mengatar kalian.”


“Jangan kak! Kakak ada teman saya nanti ketahuan.” Arini mengingatkan.


“Biarkan saja! Sudah ayo masuk,” paksa Tirta mengarahkan tubuh Arini masuk ke dalam mobil mewahnya bersama dengan Rara yang tidak menolak kesempatan. Tirta tidak peduli jika teman Arini ini akan tahu siapa dia. Dia hanya ingin dekat dengan Arini, meluapkan rindunya dengan berada sejenak di samping Arini yang tidak bertemu beberapa hari.


Rara yang duduk di kursi belakang mencondongkan tubuhnya, mencolek lengah Arini memberi kode jika ia ingin berkenalan.


Membuat Arini menghela napas berat. “Kak kenali, Rara sahabat saya,” ucap Arini.


“Ini teman yang kamu maksud, selalu sama kamu?” ujar Tirta dan diangguki oleh Arini.


“Hai, Ra. Namaku Dilan,” Sapa Tirta dengan lembut menatap dari kaca yang ada di dalam mobil, kini dia bertemu gadis tulus yang selalu membela Arini. Sedangkan Arini Rahangnya seakan ingin jatuh ketika Tirta mengakui nama panggungnya di hadapan Rara.


“Hai kak Dilan. Nama kakak, sama kaya nama idola saya,” Balas Rara melambaikan tangannya tidak curiga sedikit pun, bagaimana mungkin sahabat polosnya ini memiliki sepupu Dilan Magika.


“Kalian sudah makan belum?” tanyanya agar suasana mencair sambil fokus mengemudi.


“Belum kak,” sambar Rara yang memang ramah apalagi dia tahu pemuda ini sepupu Arini.


“Baiklah, sebelum kalian pulang kita makan dulu.”


Arini terbelalak dengan tawaran Tirta. Rara bisa menggila jika Tirta membuka maskernya dan tahu itu idolanya.


“Jangan kak. Ngak perlu!” tolak Arini dengan gelagapan.


Arini mendekatkan tubuhnya pada Tirta. “Kakak bisa ketahuan. Jika kita makan bersama,” bisik Arini.


Tirta hanya cuek tidak peduli jika sahabat Arini ini tahu siapa dirinya, baginya yang penting dia bisa mengulur waktu untuk lebih lama lagi bersama Arini.

__ADS_1


“Kalian mau makan di mana?”


“Restoran padang aja kak, soalnya lidah Arini ngak sembarang makan,” celetuk Rara sangat tahu selera sahabatnya membuat Arini membulatkan mata dengan pilihan Rara, makan nasi saja sang artis ini sudah blingsatan olahraga apalagi makan-makanan berlemak.


“Jangan!” sentak Arini lagi-lagi protes. Itu adalah kumpulan makan lezat berlemak yang sangat di hindari oleh si artis.


“Baiklah,” sahut Tirta fokus menatap jalan.


“Tapi kak itu berlemak.” Arini mengingatkan.


“Ngak apa sekali-sekali.” Ucapnya santai.


Andai Rara tidak ada di antara mereka mungkin Arini sudah menyentuh kening Tirta apakah pemuda ini sakit atau sedang kerasukan roh halus di lokasi syuting, beberapa hari tidak bertemu seketika berubah menjadi hangat dan perhatian membuatnya bertanya-tanya apa yang terjadi dengan pemuda yang ada di sampingnya.


“Kalau begitu kita ke tempat yang dulu saja, kakak suka di sana kan,” saran Arini lebih baik sesuai dengan selera Tirta dari pada mengikuti saran Rara.


“Kamu ingin ke sana?” tanya Tirta menatap Arini sekilas.


“Iya, di sana saja.”


“Rara kamu suka makan pedas ngak?” tanya Rara.


“Suka kak. Aku ngak milih-milih makanan kaya Arini,” sahut Rara.


“Terserah kalian saya,” ucap Tirta dengan sebelah Tangan terulur mengelus puncak kepala Arini. Lagi-lagi membuat gadis ini kebingungan dengan sikap hangat Tirta.


***


Mereka telah sampai di tempat makan yang dulu pernah mereka singgahi, tempat yang menyajikan menu pedas sesuai kesukaan Tirta.


Mereka pun masuk lalu duduk di tempat  yang letaknya paling belakang dan pojok seperti dulu agar tidak menarik perhatian. Arini duduk disampang Rara dan berhadapan dengan Tirta.


Mereka mulai memesan menu. Rara terlihat antusias saat Tirta memesan makanan, sesekali ia tambahkan, semakin bersemangat saja saat Tirta menyuruhnya memesan apa-pun.


“Ra,” protes Arini saat Rara terus menimpali dengan menambahkan banyak makanan.


“Ngak apa-apa Rini. Aku lapar, mumpung di traktir sepupu kamu, dia baik ya,” Bisik Rara.


Tak beberapa lama sebelum makanan pesanan mereka datang, minuman merekalah yang tertata lebih dulu.


Arini langsung meminum es jeruk pesanannya untuk menghilangkan rasa dahaga. Tirta pun melakukan hal yang sama sambil menatap Arini lekat.


“Bagaimana kabar nenek?” tanya Tirta santai, seraya meraih gelas minuman, membuka masker penutup wajahnya lalu mulai mengarahkan sedotan ke mulut seraya menatap Arini.


“Nenek ba—’’ suara Arini tercekat, ia tersentak kaget saat mendengar teriakan dari gadis di sampingnya.


“Ahhhhhhhh!” teriak Rara gemas sambil menangkup pipinya sendiri dengan kedua telapak tangan seraya menatap Tirta.


Tirta sampai tersedak minuman hingga terbatuk-batuk dan menepuk dadanya.


Arini tersadar jika dia sudah tidak bisa menyembunyikan rahasia lagi. Rara akhirnya melihat dengan jelas wajah Tirta dan tahu bahwa yang bersamanya adalah idolanya Dilan Magika. kali ini ia cuma berharap jika rahasianya memiliki suami ke dua artis juga tidak ketahuan dengan sikap Tirta hari ini yang menurutnya sangat aneh.

__ADS_1


__ADS_2