
Arini berdiri dengan tubuh bergetar saat Ana semakin mendekat padanya, kini semua rahasia yang telah dia simpan bertahun-tahun akhirnya terbongkar. Sedangkan Rara yang berdiri di samping Arini, menelan salivanya kelat, juga tak kalah cemasnya melihat mertua Arini yang menatap mereka tajam dengan wajah dingin.
Arini melirik Rara dengan ekor matanya. “Ra, bisa tinggalkan kami,” bisik Arini saat suasana butuh untuk bicara dari hati ke hati.
Rara menatap Arini sekilas lalu memaksakan senyumannya pada Arini dan Ana secara bergantian.
“Baiklah aku harus pulang, aku ada urusan,” ucap Rara dengan cengiran lalu mengambil tas yang terletak di ranjang kemudian melangkah cepat.
“Ibu. Rara pulang dulu,” pamit Rara saat melewati perempuan paruh baya itu.
Ana menjawabnya dengan anggukan samar, sorot matanya hanya pada Arini.
Ana kini telah berada di hadapan Arini dengan pipi masih basah akibat derai air mata.
“Ibu.” Suara Arini terdengar menahan tangis.
Ana mengulur sebelah tangannya, menangkup pipi menantunya dengan sorot mata sendu. “Kenapa seperti ini. bahkan Andra,” lirih Ana semakin terisak akan nasib menantunya. “Betapa tidak adilnya kami padamu. Kami begitu egois menahanmu untuk tetap tinggal bersama kami.”
Arini memegang tangan Ana yang masih mengelus pipinya, lalu mengiring tubuh perempuan itu untuk duduk di tepi kasur. “Ibu Arini baik-baik saja. Arini sayang dengan keluarga ini,” kata Arini dengan senyum tulus menghiasi wajahnya.
__ADS_1
“Tapi kamu tidak bahagia Nak. Dua putraku benar tidak berguna. Ibu mengerti jika itu Tirta tapi Andra juga ....” Suara kekecewaan Ana tertahan hanya tangisan meledak yang mampu keluar saat ini. Arini pun mengusap punggung Ana yang membungkuk terlihat jelas bahunya bergetar.
“Bu jangan bicara seperti itu. Mereka berdua baik sama Arini,” bela Arini.
Ana seketika bangkit dari duduknya, berdiri menjulang di hadapan Arini. “Ibu akan bicara pada ayah agar mereka membebaskanmu. Kamu berhak bahagia dengan pemuda lain. Kamu pasti akan menemukan pemuda yang akan mencintaimu dengan tulus.”
Arini mencekal pergelangan tangan Ana untuk menghentikan niatnya. “Tidak Bu, jangan beritahu ayah dan nenek. Saya senang jadi bagian dari keluarga ini. Saya bahagia menjadi menantu ibu.”
“Tapi, Arini.” Ana menatap Arini dengan manik mata putus asa, bagaimana gadis ini bisa bahagia? Tirta saja sulit untuk menerimanya sebagai istri, apakah dia akan selamanya menjadi menantu yang tidak akan memiliki cinta suaminya.
“Saya tidak apa Bu,” sela Arini. meyakinkan dengan senyum yang terus terbingkai dari wajahnya, jika ia baik-baik saja agar mertuanya menjadi tenang.
Ana menghambur memeluk tubuh Arini penuh cinta.
Pelukan terlepas. “Ibu akan bicara dan membujuk Tirta untuk belajar menerima kamu,” ujar Ana hanya itu jalan satu-satunya untuk Arini.
“Tidak perlu Bu,” tolaknya.
“Kenapa sayang dia suamimu.”
__ADS_1
“Ibu dia adalah idola semua orang, kami tidak mungkin bersama. Dia berhak mendapatkan perempuan yang baik. Yang sepantas dengannya bukan gadis biasa seperti Arini,” ucap Arini menyadari dirinya siapalah dirinya bisa bersama artis sekelas Dilan Magika.
Ana kembali memeluk Arini, ia pun tidak tahu apa dia bisa membujuk Tirta untuk menerima. Secara Tirta memiliki pendirian yang teguh dan keras
*****
Bintang di langit telah menghiasi langit, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam kini waktunya terlelap setelah melalui hari yang panjang. Arini berbaring di ranjang, mendekap bantal gulingnya erat. Hingga sebuah Kilasan mengenai Dilan yang tiba-tiba menjemputnya dan sikapnya berubah mengudara di kepalanya, bahkan pemuda itu terang-terangan mengaku suami di hadapan Rara.
“Kak Dilan kenapa ya hari? tiba-tiba aneh,” rancau Arini sebelum tidur seraya telunjuk tangannya memilin pembungkus bantal menatap langit-langit kamar.
Ada banyak opsi dari bermonolognya mulai pemuda itu demam, ketempelan jin penunggu lokasi syuting, hingga itu bukan Dilan tapi jelmaan jin. Setelahnya pikirannya berlarian Arini masuk ke dalam dunia mimpi, terlelap dengan nyaman.
Rasanya Arini baru saja terlelap, masuk dalam mimpi indah namun suara ketukan di pintu membuat tidur lelapnya menjadi terganggu. Arini membuka mata, mengerjap perlahan. Suara ketukan pintu semakin terdengar mendesak membuat Arini bangun, duduk dipinggir kasur, menatap pintu dengan perasaan was-was apalagi saat manik matanya mengarah pada jam dinding yang menempel, menandakan pukul 1 malam. Seketika bayangan kesehatan neneknya terlintas, pelayan pasti sedang memberi tahukan keadaan nenek. Dengan cepat Arini bergegas melangkah untuk membuka benda kayu itu.
Krek ...
Arini berdiri mematung mempertegas pandangannya sambil mengusap matanya yang buram akibat baru bangun tidur. Apa benar yang dia lihat, di hadapannya bukan pelayan rumah, melainkan pemuda tinggi yang tidak mungkin datang di jam seperti ini.
“Kak Dilan,” sentak Arini menatapnya dengan bergidik ngeri apakah ini jelmaan jin itu gumamnya.
__ADS_1