
Mentari pagi telah menyambut sinar hangatnya masuk melalui celah jendela mengganggu tidur nyenyak pemuda yang bergelung nyaman di atas ranjang. Tirta menggeliat mengumpulkan separuh nyawanya. Membuka mata perlahan, sudah saatnya dia kembali menjalani rutinitas. Pemuda ini bangun menyibak selimut yang membungkus tubuhnya melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tirta telah berada di dalam kamar mandi berdiri di depan wastafel meraih sikat gigi. Setelah mengoles dengan pasta gigi pemuda ini mulai menyikat gigi. Dan Setelahnya berkumur sebagai langkah terakhir, pemuda ini tersenyum melihat deretan gigi rata dan putih bersihnya di kaca. Alis Tirta bertaut dalam saat melihat pantulan dirinya di cermin terutama bagian keningnya. Pemuda ini mengerjap memastikan penglihatannya tidak salah, tubuhnya semakin maju mendekat pada cermin, ternyata dia tidak salah sebuah titik berbintik merah menghiasi kulit putih halusnya.
“Jerawat,” gumam Tirta panik menyentuh keningnya dengan telunjuk.
“Ahhhhh, aku berjerawat!” teriak Tirta dengan suara menggelegar. Ia teringat semalam tidak melakukan satu pun perawatan wajah bahkan mencuci muka pun tidak.
Tirta melangkah cepat keluar kamar sambil menutupi keningnya dengan telapak tangan.
“Arini!” teriak Tirta melangkahkan kaki ke dapur tempat favorit Arini.
Arini yang sedang memasak tersentak saat suara tinggi Tirta, membuatnya cicit. Apa Tirta semakin marah padanya? Itu pikirnya.
Gadis ini menatap lekat pemuda yang tiba-tiba duduk di meja makan masih terlihat acak-acakan khas bangun tidur namun masih saja terlihat sangat tampan.
“Ada apa kak?” tanya Arini meninggalkan kompor mendekat ke arah Tirta.
“Lihat ini, di jidatku tumbuh jerawat. Wajah mulusku berjerawat,” keluh Tirta mengarahkan jari telunjuknya di jidat terdengar prustrasi.
“Kenapa jadi begini?” Arini yang melihat bintik kemerahan itu seketika juga ikut panik bagaimana tidak Tirta adalah seorang artis wajah mulus adalah salah satu modal baginya. Apalagi Tirta tipe artis yang begitu menjaga penampilannya. “Tunggu saya akan mengompresnya. Biar kempes.” Arini bergegas menyiapkan kompresan.
Tak beberapa lama Arini telah siap dengan wadah berisi kain basah yang di letakkan di meja, Arini mendekat pada Tirta yang menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
“Semalam kak pakai skincare tidak?” tanya Arini berdiri di samping Tirta.
“Lupa,” jawab Tirta dengan ketus menutup jidatnya dengan telapak tangan.
Tirta menatap tajam Arini, mengarahkan telunjuknya. “Ini semua karenamu! Semalam kau membuatku makan makanan mengandung kacang! Kau juga tidak memakaikan perawatan wajah padaku, dan parahnya lagi kau membuatku stress dan kesal!” sembur Tirta mengeluarkan isi hatinya pada Arini membuat Arini tertunduk mengingat kesalahannya semalam.
__ADS_1
“Maaf kak. Saya tidak sengaja,” lirih Arini.
“Emmm.” Tirta berdehem ia tidak tega melihat Arini bersedih dan merasa bersalah.
“Cepat kompres,” titah Tirta menadahkan wajahnya ke atas dan menutup matanya.
Arini mendongak menatap Tirta kemudian melangkah semakin mendekat, menempelkan sedikit kain di kening Tirta yang ditumbuhi jerawat dengan ujung jari telunjuk.
“Untuk semalam saya benar-benar minta maaf. Saya tidak bermaksud menyamakan kakak dengan mas Andra,” lirih Arini tangannya masih berada di wajah Tirta membahas kejadian semalam.
“Sudah! Jangan sebut namanya lagi di hadapanku,” ucap Tirta dengan nada dingin.
Arini pun terdiam fokus pada kening Tirta. Hening tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Mata Tirta masih tertutup menikmati sentuhan lembut tangan Arini yang menenangkan hatinya. Tubuh Arini yang semakin mendekat hingga merapat membuat Tirta dapat menghirup aroma parfum lembut yang menguar dari tubuh Arini, yang entah mengapa membuat sisi kelaki-lakian dalam diri seketika bangkit Tirta. Hantam gairah seketika menerjangnya. Tirta membuka kelopak matanya saat merasakan sesuatu sudah tidak nyaman mendesak dari balik celana yang ia kenakan.
Deg ... Deg ....
Jantung Tirta bergemuruh saat menatap wajah cantik Arini, yang menatap kening berjerawat miliknya. Jarak wajah mereka hanya beberapa senti. Mata Tirta melirik turun ke arah leher putih mulus Arini. Ah sial itu membuatnya semakin terbakar oleh hasrat.
“Sudah hentikan!” Tirta menepis tangan Arini, dengan cepat menegakkan kembali tubuhnya. Ia takut tidak bisa menahan diri dan menyerang Arini saat ini juga.
“Kenapa kak?” tanya Arini dengan wajah polos tak mengerti.
“Aku ingin ke dokterku saja untuk perawatan wajah,” ucap Tirta lalu segera bangkit dari duduknya menerobos tubuh Arini dengan wajah memerah menahan gairah.
“Kau siap-siap temani aku, ke dokter!” ucap Tirta melangkah cepat membuat Arini tertegun tak mengerti dengan apa yang terjadi pada Tirta.
__ADS_1
Nah loh apa yang terjadi jeng-jeng .......
__ADS_1