Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
terbongkar


__ADS_3

Karena kejadian cemburunya semalam, Arini sangat malu berhadapan langsung dengan suaminya, sebab itu dia berpura-pura masih terlelap. Namun suara pintu terketuk dan saat Tirta membukanya, dia mendengar percakapan asisten rumah tangga, jika ayah mertuanya datang berkunjung, tentu saja dia juga ingin menemuinya. Akan tetapi alangkah terkejutnya dia, saat mendengar pembicaraan mereka malah membahas tentang rahasia kematian Andra.


“Arini!” Tirta terkejut melepaskan pelukan ayahnya. Kini tatapan mereka terpusat pada Arini.


Dengan linangan air mata membasahi pipi Arini mendekati ayah dan anak itu.


“Jadi selama ini mas Andra telah tiada! Dia tidak hilang dalam kecelakaan itu tapi ....” Satu kata itu tertahan, sungguh Arini tidak sanggup mengucapkannya, hanya isakkan yang semakin lirih menyayat hati.


“Maafkan ayah Arini,” lirih Hasan tertunduk merasa bersalah.


“Ayah berbohong pada kami semua!” bentak Arini, suaranya menggema membuat Tirta dan ayah Hasan tertegun tak percaya. Baru kali ini mereka melihat Arini murka, hingga meninggikan suara. Terlihat jelas kekecewaan, kepedihan berbaur menjadi satu.


Arini menghunuskan tatapan tajam pada mertuanya.


“Ayah tidak tahu bagaimana perasaan saya!” Arini menepuk dadanya yang terasa sesak, bulir kristal semakin deras saja turun tanpa bisa terbendung. “Selalu gelisah memikirkan mas Andra! Selama dua tahun tanpa kabar, bertanya-tanya bagaimana keadaannya? Berharap dia baik-baik saja di sana dan segera kembali! Apa ayah pikir seorang istri bisa tidur dengan nyenyak saat suami tidak pulang!”


Hasan hanya diam tertunduk menerima semua ucapan Arini.


“Ayah tidak tahu bagaimana kalutnya? pikiran buruk seorang istri menunggu suaminya pulang! Bagaimana gelisahnya? Saya setiap malam berdiri di balkon kamar, menatap gerbang menunggu kepulangan mas Andra!” raung Arini akan perasaan yang selama ini dia pendam sendiri. Hati Tirta yang mendengarkan juga ikut terenyuh akan kepedihan hati istrinya.


Ya siapa tidak hancur saat tahu suami yang telah di tunggu sekian lama ternyata telah terkubur damai sekian tahun tanpa dia tahu.


“Maafkan keegoisan ayah. Ayah melakukan ini demi nenekmu,” ungkap Hasan dengan perasaan bersalah melumuri jiwa.


“Aku tidak melihatnya! untuk terakhir kalinya!” tangan Arini bergetar saat melihat dua telapak yang tak sempat mendekap tubuh suaminya. “Aku tidak menyentuhnya untuk terakhir kalinya!” raung Arini mengeraskan tangisannya bajunya telah basah karena linangan air mata sungguh ia sangat kecewa sebagai istri, dia tidak mengantarkan suaminya ke peristirahatan terakhirnya.

__ADS_1


Tirta mendekat ke arah Arini mencoba mendekapnya agar gadis ini tenang. “Arini tenanglah!”


Arini malah menepis tangan Tirta, mengarahkan manik mata yang berkabut karena cairan bening itu ke arah suaminya. “Kak Dilan sama saja!” bentak Arini kini menyerang suaminya. “Kakak tahu! Kakak juga ikut merahasiakan ini!”


“Lepaskan!” berontak Arini akan tetapi Tirta terus berusaha mendekap tubuhnya agar tenang.


“Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kamu bersedih seperti ini. Aku ingin kamu melupakan Andra dan hidup bahagia bersamaku,” ucap Tirta.


“Kalian membohongi kami!”


Sekuat tenaga Arini mendorong tubuh Tirta untuk keluar dari dekapan suaminya. Dia juga kecewa pada lelaki ini karena ikut merahasiakan kematian Andra.


Arini sudah tidak bisa sanggup lagi mendengar penjelasan mereka, yang semakin membuat hatinya hancur. Memutuskan melangkah cepat meninggalkan ruangan.


“Arini!” panggil Tirta menatap nanar punggung istrinya namun tak di hiraukan oleh Arini.


Arini masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu dengan keras lalu menguncinya hingga membuat Tirta tersentak berdiri di depan pintu.


“Sayang tolong buka pintunya!” Kepalan tangan Tirta menggedor pintu namun tak terbuka hanya terdengar isakan di baliknya.


Arini bersandar di balik pintu meluapkan seluruh perasaannya menangis sejadi-jadinya. Dia bukan tidak terima dengan kepergian Andra, hanya saja seharusnya ia melihat wajah itu untuk terakhir kalinya, andai dia tahu dia tidak berharap terlalu jauh.


“Sayang! Biakan aku menjelaskan semuanya!” mengeluarkan suara membujuk.


“Tolong pergi! Biarkan saya sendiri!” jawab Arini dengan isakkan kali ini tidak ingin di ganggu.

__ADS_1


Tirta menghela napas berat mendengar permintaan Arini lalu memutuskan memberikan waktu kepada istrinya untuk menenangkan diri.


 


 


 


hai aku kembali, maaf telat banget up datenya, author habis jaga emak di rumah sakit, jadi maaf ya kalau ceritanya sedikit oleng soalnya aku juga ngak fokus tapi dari pada kepikiran di todong up akhirnya di coba. oh iya kalau kalian nemu ngak nyambung koment yah biar aku perbaiki.


 


Dinda: auw jeng kok di pojokkan. sini bantu koreksi! jeng lagi salfok apa?


Jeng kunti: kagak ada! jeng lagi kesel banyak coment yang suusdon katanya jeng ngumpetin kamu!


Dinda: yaelah jeng kan lagi jaga emak. jangan ngambek dong. kan mereka kangen sama jeng


Jeng kunti: pokoknya Aku minta vote bunga sama kopi.


Dinda: wah ngelunjak nih jeng kunti. minta sajen lagi.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2