Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
kenangan Andra


__ADS_3

Tirta telah berdiri di depan kamar Arini, Setelah nenek Nani memintannya menginap dan mengarahkannya tidur di kamar Arini. tentu saja dia tidak menolak kesempatan untuk dekat dengan Arini.


Pemuda tampan ini menatap pintu kayu berwarna putih, dengan perasaan gugup. Ini adalah tempat yang dulu begitu berkesan untuknya, kamar orang yang sangat menyayanginya dan juga memberikannya kegetiran hidup yaitu Andra kakaknya, begitu banyak kenangan di dalam kamar ini bersama Andra. Ya Arini masih menempati kamar suami pertamanya itu.


Tirta mulai menggantung tangannya mengarahkan ke daun pintu.


Tok ...Tok ....


Debaran jantung Tirta semakin berdetak kencang ketika mengetuk pintu. Entah karena akan bertemu dengan Arini atau karena kenangan bersama kakaknya.


Berkali-kali Tirta mengetuk benda kayu itu, namun tidak mendapatkan jawaban dan tidak ada tanda akan terbuka. Tak sabar menunggu lagi, tangan Tirta lalu memegang handle pintu, perlahan memutarnya dan ternyata tidak terkunci. Kepala Tirta mengintip di balik pintu saat telah berhasil membuka benda persegi itu. mengarahkan maniknya dan ternyata terlihat kosong.


“Ke mana bocah itu?” batin Tirta semakin menegaskan pandangannya.


Tirta melangkahkan kaki masuk menyusuri ruangan dan memang benar tidak ada Arini di dalam. Gadis itu pasti masih bersama ibunya. Itu pikirnya.


Manik mata Tirta menatap isi kamar kakaknya. Hatinya miris mengingat jika kini kakaknya menghilang. Walau bagaimana pun di lubuk terdalamnya, Tirta sangat menyanyi kakaknya, dia hanya melimpahkan semua kekecewaannya pada Andra yang baik dan sabar itu.


Wajah Tirta memberengut, tak suka saat melihat  dinding kamar terpampang sebuah figura besar, melekat mengiasi atas kepala ranjang. Menampakkan senyum kakaknya yang sangat terlihat bahagia merangkul pinggang Arini yang kini menjadi istrinya. Ya itu adalah foto pernikahan Arini dengan Andra yang masih terpajang.


Tirta semakin panas saat terus menyusuri ruangan dan melihat di atas meja hias begitu banyak bingkai foto mesra Arini dan Andra terpajang terlihat mereka sangat bahagia dan saling mencintai.


Krek .... suara pintu terbuka membuat arah pandang berubah menatap gadis cantik yang baru masuk.


“Kak Dilan,” ucap Arini berdiri di tempat terkejut mengapa bisa suami tak menganggapnya ini berada di kamarnya. Arini mengerutkan alisnya saat melihat Tirta yang dia pikir telah pergi ternyata berada di kamarnya.


"Kak belum pulang?” tanya Arini melangkah mendekat.


“Aku di suruh nenek menginap,” jawab Tirta dengan wajah datar.


“Oh, jadi kakak menginap di sini.” Arini mengaguk dan hanya beroria. melangkah santai ke arah ranjang kemudian duduk di tepi tempat tidur menatap Tirta yang masih berdiri menatap ke arah bingkai foto.


“Hei! Kau ini sudah menikah denganku. Mengapa kau masih memajang foto pernikahanmu bersama Andra,” proses Tirta tak suka, dengan tangan bersedekap di dada menatap tajam Arini.


Gadis polos ini malah menarik sudut bibirnya menatap foto pernikahannya bersama Andra yang terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


“Ini semua kenang-kenangan saya sama mas Andra,” ucap Arini tanpa menatap Tirta yang wajahnya semakin masam mendengar jawabannya dan wajah Arini tersirat merindukan suami pertamanya itu. Tirta terniang saat malam pernikahan mereka jika Arini hanya mencintai Andra dan akan menunggunya. Ya Tirta tahu jika Arini mencintai Andra dan ia pun bisa melihat itu dari pancaran matanya.


Pemuda ini melangkah mendekat ke ranjang duduk di samping Arini di pinggir tempat tidur.


“Kau menikah karena di jodohkan kan?”  tanya Tirta.


“Ia, kak,” jawab Arini.


“Bagaimana kau bisa mencintainya padahal kalian baru seminggu menikah?” tanya Tirta penasaran.


Arini hanya menarik senyum, wajahnya terlihat merona akan pertanyaan Tirta membuat pemuda ini memutar mata jengah.


“Apa yang membuatmu suka pada Andra?” Tirta kembali mengulang pertanyaannya pada gadis yang dia anggap polos.


Arini tersipu malu membuka kembali memorinya bersama dengan Andra.


“Dia baik kak,” ucap Arini singkat.


“Karena dia baik? Aku juga baik,” ucapnya menepuk dada dengan percaya diri. Tidak mau kalau dari Andra.


“Dan apa?” sambar Tirta tak sabar menatap tajam Arini.


“Dan.” Kembali suara Arini tertahan. Gadis ini tertunduk,  tersipu malu wajahnya merona akan mengatakan pada Tirta.


“Dan apa!” gemas Tirta suaranya meninggi, dia sudah sangat menantikan ucapan Arini.


Arini tertunduk malu menyelipkan anak rambutnya di telinga. “Mas Andra selalu bilang kalau saya perempuan paling cantik yang pernah di temui dan dia sangat beruntung memiliki saya,” jelas Arini malu-malu tentang rayuan maut Andra padanya yang mengatakan dia gadis paling cantik membuatnya menjadi perempuan yang paling berharga bagi Andra.


“Cantik sesederhana itu dan dia suka mendengarnya,” batin Tirta.


Sejenak Tirta tertegun mendengar pengakuan Arini, ia tidak menyangka kakaknya yang kaku dan dingin pada perempuan bisa mengucapkan kata-kata itu pada Arini. Sungguh Andra sangat menghargai Arini, memperlakukannya dengan lembut dan dalam hatinya mengakui jika dia kembali kalah telak dari kakaknya.


Tirta lalu mendengus memutar bola matanya, tersenyum remeh menatap dengan tatapan sinis.


“Jadi hanya karena Andra bilang kau perempuan paling cantik jadi kau suka padanya. Kamu tahu kan dia bohong?” ketus Tirta seakan menegaskan jika masih banyak perempuan yang cantik lebih Arini di sekeliling Andra.

__ADS_1


Arini mengangguk pelan.


“Kau ini benar-benar polos, buka matamu! kamu ini tidak tahu dengan gombalan maut lelaki. Itu sering di pakai oleh lelaki untuk menggoda perempuan,” ketus Tirta mengucap dengan sinis lalu berbaring telentang di kasur sambil menatap langit-langit kamar dengan tangan menyilang menjadi bantal.


“Saya tahu itu hanya rayuan. Tapi, selain itu dia selalu menunjukkan cintanya dan terlihat begitu mendambakan saya,” tambah Arini.


“Menunjukkan cinta?” pandang Tirta tertuju pada punggung Arini yang membelakanginya.


Arini menatap jauh sambil tersenyum mengingat kemesraannya dengan Andra. “Selain sering mengatakan saya cantik, dia suka memberi  perhatian pada saya, memberi saya bunga, selalu ingin berada di samping saya dan bertanya apa yang saya inginkan dan selalu menurutinya, walau pun saya tidak mengatakan di seakan tahu isi hati saya. Dia membuat saya selalu senang dengan perhatian-perhatiannya. Saya merasa menjadi perempuan paling berharga,” jelas Arini tentang perlakuan Andra padanya yang membuat perempuan mana pun akan jatuh hati dengan kelembutan dan perhatian Andra.


Mendengar itu semua hati Tirta mulai terbakar cemburu. Lagi dia kalah dengan kakaknya dalam hal mengambil hati Arini, dia memang jauh dibanding kakaknya.


Arini masih melanjutkan ucapannya. “Setiap malam saat kami akan tidur, dia akan menggendong saya naik ke ranjang ini, dia kan memeluk saya erat sekali, seakan tidak ingin kehilangan saya, dia juga selalu mengecup kening saya sebelum tidur lalu mengatakan aku mencintaimu Arini,” ungkap Arini tentang perlakuan Andra padanya, namun pikiran Tirta malah bertualang jauh dan tertuju pada ritual hubungan suami istri.


Tirta lalu menolehkan kepalanya menatap nanar ranjang besar berlapis kain putih yang sedang ia tiduri. Seketika bayangan adegan liar, percintaan panas, bercumbu mesra Andra dan Arini sebagai suami istri terlintas di rajang ini membuat hatinya terasa panas dan terbakar oleh cemburu.


Dengan kuat Tirta mencengkeram seprai hingga membuatnya terkoyak.


“Hentikan!!” bentak Tirta suara meninggi membuat Arini tersentak dan tidak lagi bersuara.  Pemuda ini bangun dengan wajah mengeras dan memerah, tangannya telah terkepal menahan amarah. Ia telah dibakar oleh kecemburuan mendengar pengakuan  Arini bagaimana perlakuan lembut Andra pada istrinya dan ia telah kalah dari segi apa-pun dan parahnya lagi mengingat percintaan mereka.


Tanpa kata Tirta berlalu meninggalkan Arini keluar dari kamar.


Arini juga bangkit dengan alis berkerut dalam menatap wajah Tirta. “Kak Dilan!” panggil Arini tidak mengerti ada apa dengan sikap idolanya itu.


“Kak Dilan kenapa?" gumam Arini menatap bingung, ia tidak menyadari jika ucapannya telah membuat Tirta telah terbakar cemburu.


 


 


 


Yaelah Tirta makanya jangan mancing-mancing orang, panas kan? situ juga sih pikirannya ngres lari ke mana-mana? Hahaha mana kalah lagi dari rayuan maut Andra. Andra so sweet banget memperlakukan Arini pantas klepek-klepek. kamu adalah perempuan yang paling cantik walau kata Cuma gombalan ....


pokoknya kalah deh kamu Tirta jauh banget gengsian sih ...

__ADS_1


__ADS_2