
“Arini! Tunggu! Kamu harus jawab pertanyaanku!” panggil Rara. Saat Arini berjalan cepat meninggalkannya, masuk ke dalam rumah seakan sedang menghindari pertanyaan yang sulit dia jawab.
“Rin, jangan menghindar!” Rara terus mengekori Arini hingga mereka telah masuk ke dalam rumah, Rara terus berteriak memanggil nama Arini.
Mereka melalui ruang tengah membuat pelayan menatap aneh.
“Ada Rara,” sapa Ana yang tiba-tiba muncul.
Langkah kaki Rara terhenti, Ia menarik garis bibirnya pada perempuan paruh baya yang merupakan mertua Arini.
“Iya, kangen Bu, udah lama ngak main ke sini,” ucap Rara manik matanya kembali menatap Arini yang telah menjauh.
“Iya, sering-sering ke sini. Temani Arini.”
“Baik, Bu. Rara ke kamar Arini dulu,” pamit Rara.
“Ibu akan membawakan kalian minuman dan camilan,” kata Ana dengan senyum tersungging.
“Makasih Bu.”
Rara kembali melangkah menuju kamar Arini.
***
Arini duduk di pinggir tempat tidur. Menarik napas panjang, berpikir jika yang baru saja ia lalu bukanlah mimpi. Entah mengapa suami yang biasanya ketus dan cuek padanya, seketika berubah bahkan membongkar rahasia hubungan pernikahannya di hadapan Rara.
Kini kepala Arini terasa berat bagaimana dia harus menjelaskan pada sahabatnya yang dari tadi telah mengejarnya meminta penjelasan.
Rara akhir masuk ke dalam kamar, melangkah cepat kemudian duduk di samping Arini.
“Rin jawab pertanyaanku. Apa benar kamu sudah menikah lagi? Dan apa benar Dilan Magika suami ke dua kamu?” tanya Rara menghadapkan tubuhnya pada Arini.
Arini menarik napas panjang, sudah tidak ada gunanya lagi menyembunyikan semua dari sahabatnya, dia kemudian mengangguk perlahan. “Iya, Ra,” jawab Arini pelan.
Rara lagi-lagi tercengang, mulutnya terbuka lebar setelah Arini mengangguk. Membenarkan jika dia telah menikah dengan pemuda tampan idola kaum hawa.
Gadis yang terkejut ini mengulur kedua tangannya lalu mencengkeram bahu Arini. “Kapan kamu menikah lagi? Kenapa tidak memberitahuku?” cecar Rara sangat penasaran, sambil mengguncang kuat bahu Arini membuat tubuh gadis ini terasa terombang-ambing. Arini meringis pelan dengan sikap sahabatnya lalu menepis tangan itu.
Arini menatap jauh, hingga saat ini dia juga tidak menyangka, kenapa dia bisa menikah lagi untuk yang kedua kalinya, dengan artis idola pula.
Arini menatap lekat wajah Rara yang sudah sangat penasaran. “Sebenarnya kejadiannya sangat cepat. Saya juga tidak mengerti.”
Manik mata Rara semakin tajam menatap Arini saat tidak menemukan jawaban yang memuaskan.
“Maksud kamu?”
Arini menarik napas, mencoba mengumpulkan seluruh kekuatan, agar dia mampu menceritakan kerumitan hidupnya.
“Beberapa bulan yang lalu orang tua saya datang, dan mereka ingin saya pulang dan berpisah dengan mas Andra karena sudah dua tahun, dia tidak kembali. Mendengar itu nenek menjadi sakit, dia tidak mau saya kembali ke kampung dan berpisah dengan saya. Supaya saya tetap jadi menantu di rumah ini. Saya harus menikah lagi dengan anak dari keluarga ini,” jelas Arini.
__ADS_1
“Maksud kamu? Aku ngak ngerti. Apa hubungannya Dilan yang artis itu, sama kamu jadi menantu lagi di sini,” sambar Rara lagi.
“Dilan Magika ternyata adik mas Andra! Yang pergi beberapa tahun lalu,” jelas Arini singkat kembali Rara tertegun mendengar kisah Arini, begitu banyak kejutan, yang membuat jantungnya seakan berhenti dari cerita pernikahan kedua Arini.
“Bagaimana mungkin?” sembur Rara dengan suara meninggi.
“Nenek yang memaksa kami menikah, dan beberapa bulan lalu kami resmi menikah. Demi kesehatan nenek,” jelas Arini.
Sejenak Rara terdiam mencerna semuanya hingga akhirnya berdecak kagum.
“Hebat kamu Rin. Udah dapat kakaknya, sekarang sama adiknya. Mana sama-sama ganteng lagi, artis idola pula,” ucap Rara mencubit gemas pipi Arini. Gadis ini kembali ceria menatap bangga Arini.
"Aduh Ra sakit," keluh Arini merasakan panas di pipinya lalu menepis tangan Rara.
“Gila Arini! Hebat banget kamu, suami ke dua kamu artis Dilan Magika!” teriak Rara terdengar sangat heboh lalu menabrakkan tubuhnya pada Arini teringat saat idolanya memeluk Arini dan mencium keningnya.
“Arini badan ini habis di peluk Dilan Magika!”seru Rara membuat Arini lagi-lagi meringis seakan tidak bisa bernapas saat gadis ini membelit tubuhnya erat.
“Rara sudah!” protes Arini memberontak, meliuk-liukkan tubuhnya.
Pelukan pun terlepas. Rara meraih tangan Arini membawanya ke pipi lalu menciumnya. “Tangan ini juga, sudah menyentuh Dilan Magika!” Rara semakin heboh.
Kedua tangan Rara beralih menangkup wajah Arini. “Pipi ini bekas Dilan Magika, kening ini. Bibir ini bekas Dilan Magika juga!” serunya.
Arini membulatkan matanya, saat melihat situasi sudah mulai kacau. Rara telah memajukan bibirnya untuk mencium bibir Arini, dengan cepat Arini lalu meraup dan mendorong dengan sebelah wajah Rara. sebelum sahabatnya ini menciumnya.
“Aduh Ra,” keluh Rara saat Arini mendorongnya dengan keras.
“Yaelah pelit banget sih Rin. Kan, Biar aku rasain juga, ciuman bekas artis,” Rara berdecak kesal sesaat lalu kembali bersemangat.
“Gimana Ra nikah sama artis?” sosor Rara bak petasan terus saja penasaran.
“Seru Ra!” Arini ikut antusias menceritakan keuntungan menikah dengan artis sekelas Dilan Magika.
“Seru!” ulang Rara.
“Iya! Kamu tunggu di sini, ada yang mau saya kasih lihat sama kamu!” Arini kemudian beranjak dari tempat tidur lalu menuju meja, membuka lacinya, meraih buku salah satu kebanggaannya, hasil menikah dengan artis.
“Lihat Ra!” Arini menyodorkan buku koleksi tanda tangan Artis lalu kembali duduk di samping Rara.
Rara pun menerimanya lalu mulai membuka, lembar demi lembar matanya membulat saat melihat coretan di buku. “Ahhhh! Tanda tangan Kenzi Anggara!” teriak heboh Rara sambil menunjuk kertas.
“Saya juga sudah bertemu dengannya,” tambah Arini dengan kebanggaan.
“Bagaimana dia Ra.” Tanya Rara memegang bahu Arini.
“Dia sangat tampan jika di lihat secara langsung!" gemas Arini juga heboh. Gadis ini memang lupa diri jika menyangkut artis sama saja dengan Rara, bedanya jika Rara berteriak sedangkan dia akan mematung atau malu-malu.
“Kamu curang Ra. Ngak ajakin aku!” gadis ini memasang wajah cemberut.
__ADS_1
“Tapi saya minta tanda tangan yang banyak kok, untuk kamu juga ada,” ucapnya.
Rara lalu berbaring di kasur membalikkan tubuhnya, menatap buku Arini dengan posisi bertiarap.
“Aku kan juga ingin bertemu mereka Rin.”
Arini hanya tersenyum lucu, dia pun ikut bertiarap di samping Rara.
“Kamu juga udah ketemu Marsya Ayunda?” tanya Rara seraya telunjuknya menunjuk kertas bercoret kan tangan artis itu.
Arini pun menceritakan, pengalamannya bertemu bintang idola serta tanda tangan artis yang diperoleh dari meminta langsung, maupun dari bantuan Rian asisten si artis. Rara membuka lembar demi lebar dengan decak kagum hingga perhatian Rara tertuju pada sesuatu.
“Arini kamu kan udah nikah dua kali, jadi kamu udah jago dong masalah ranjang?” tanya Rara santai sambil mengamati buku sedangkan Arini menelan salivanya kelat dan seketika bungkam. “Gila, kalau di lihat kamu itu lugu, polos tapi udah nikah dua kali,” tambah Rara masih santai masih mengamati buku.
Arini mengganti posisi kembali duduk sungguh dia tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Tak mendapat jawaban. Rara juga bangun dan duduk di samping Arini. Mengarahkan tubuh Arini menghadap padanya.
“Gimana rasanya tidur sama Dilan Magika,” desak Rara tiada henti penasaran. “Bukan-bukan,” ralatnya dengan menggebu.
“Yang mana lebih hot diranjang. Kakaknya atau adiknya?” Rara kembali mencengkeram bahu Arini mendesak untuk menjawab.
“Rara,” protes Arini yang wajahnya seketika sendu.
“Ayo Rini. Ceritakan pengalaman kamu. kamu udah dua kali nikah. Tentang malam pertama? Apa benar sakit banget ya Rin, trus tentang berapa kali semalam? Kata orang sih semalam, itu ngak cukup sekali ya? Kalau begituan berapa jam sih Rin?” Cecarnya dengan cerita dewasa yang selalu membuat ingin tahu.
“Ra sudah! Jangan bahas itu,” protes Arini karena ia tidak tahu dengan jawaban pertanyaan itu.
“Arini, kamu cerita dong pengalaman kamu? Pelukan siapa paling hangat? Ciuman siapa paling memabukkan?Tapi Kalau di lihat sih pasti Dilan lebih hot dari kakaknya?” tebak Rara gemas manik matanya mengarah ke atas membayangkan fantasi liarnya.
“Ayo Rin? Dilan kan?” desak Rara.
“Ra, Saya juga ngak bisa jawab.”
"Ayo Rin."
"Rin yang mana."
Telingan Arini mulai panas mendengar pertanyaan Rara hingga sadar berkata.
“Ra, walau pun saya sudah menikah dua kali, tapi saya masih perawan Ra,” ungkap Arini membuat Rara membulatkan matanya terkejut dengan pengakuan sahabatnya.
“Ha! Apa Rin? Kamu masih perawan!” suara Rara meninggi dari semua yang membuatnya terkejut ini yang paling membuatnya seakan ingin pingsan. Bagaimana tidak? Dua kali menikah namun masih belum terjamah.
Arini tersenyum miring akhirnya rahasia yang selama ini dia simpan telah terbongkar. “Iya, memang terdengar miris dan menyedihkan Ra. Saya bukanlah istri yang sempurna. Tapi itu kenyataannya, saya belum pernah melakukannya dengan mas Andra maupun kak Dilan,” ungkap Arini dengan wajah sendu.
“Bagaimana bisa! Andra pun tidak pernah menyentuhmu!” terdengar suara bergetar, dari ambang pintu membuat Arini dan Rara tersentak, kompak menatap perempuan baruh baya yang mendengar semua pembicaraan mereka. yang ternyata telah berada di sana dari tanpa mereka sadari.
“Arini! Kamu!” ucapnya lirih dengan derai air mata yang telah membasahi pipinya, terdiam tanpa bisa melangkah seolah tubuhnya lemas mendengar kisah Arini.
Arini gelagapan dengan cepat berdiri menatap perempuan itu. “Ibu!” ucapnya lirih, kini semua rahasia yang selama ini, ia berusaha tutupi telah terbongkar.
__ADS_1
Ribet banget dah punya sahabat heboh dan kepo kaya rara.