
Mentari telah pagi telah menyambut. Akan tetapi Arini malah semakin mempererat dekapannya dalam dada bidang suaminya. Ia tahu hari telah pagi, ada banyak yang harus dia lakukan, menyiapkan sarapan, ke kampus, namun entah mengapa dia lebih nyaman bergelung di balik selimut, mengendus aroma tubuh suaminya dari pada beranjak, bahkan matanya selalu saja ingin tertutup rapat. Tubuhnya terasa lemah apalagi mengingat kejadian memalukan semalam membuatnya serasa ingin menyembunyikan wajahnya hadapan suaminya.
Tirta membuka kelopak mata perlahan. Melengkungkan senyuman saat Arini semakin mendekapnya mencari posisi ternyaman. Tirta sangat gemas di buatnya, dia sangat senang beberapa hari ini Arini bersikap manja padanya, bahkan tidak ragu lagi menyentuhnya, dengan senang hati meminta di peluk, padahal dulu dia tidak bisa tidur nyenyak di samping idolanya.
Pemuda ini terkesiap teringat bagaimana Arini membuatnya panik semalam akan kondisi kesehatannya, namun di balik itu, Tirta mengembangkan senyuman mengingat kejadian manis semalam yang berujung kecemasan, saat pertama kalinya dia melihat Arini kesal sungguh wajahnya bertambah imut, ternyata Arini bisa kesal juga. Tirta mengira istrinya adalah perempuan yang memiliki kesabaran tiada tara ternyata tidak. Apalagi kesal hanya masalah sepele.
“Aku bawa banyak makanan dari fans Tita,” ucap Tirta Beberapa hari ini bibi di rumah melaporkan jika Arini kurang nafsu makan, karena itulah dia membelikan banyak makan atas nama Tita, mengira Arini pasti sangat suka jika makan dari fans bernama Tita. Namun di luar dugaan tidak seperti biasanya Arini malah memasang raut kesal.
“Saya sudah tidak suka. Kalau ada lagi, kakak ngak perlu menerimanya, tolak saja!” jawab Arini dengan jutek membuat Tirta tercengang.
“Kenapa. Kamu bosan? Apa ada yang kamu inginkan.” Paniklah pemuda yang memberikan perhatian berkedok Tita, pemberiannya sudah tidak spesial lagi bagi Arini.
“Tidak ada, saya hanya merasa dia sudah bukan fans lagi, tapi mulai terobsesi ingin merebut perhatian kakak. Dia kan tahu kakak sudah punya istri, seharusnya dia ngak mengirim hadiah lagi, dia pasti ada maksud lain, dia suka sama suami orang, mencoba mengganggu rumah tangga kita,” cerocos Arini Matanya memicing tajam dengan nada terdengar posesif. “Pokoknya kakak jangan ambil lagi hadiah darinya,” tekan Arini seakan sedang memarahi suami yang sedang ketahuan selingkuh.
Mata Tirta membulat tercengang mendengar omelan panjang lebar Arini sungguh menggemaskan, dia tidak menyangka ternyata Arini bisa mengomel juga seperti istri pada umumnya, hanya karena fans bernama Tita.
Ah senangnya... dia sedang di cemburui oleh istrinya. Gemas sekali, ingin rasanya dia menerkamnya sekarang juga. terdengar lucu menganggap Tita perempuan penggoda rumah tangga.
“Kamu cemburu!” goda Tirta tersenyum penuh makna.
Blus ....
Wajah Arini memanas dia kan hanya ingin mengatakan tidak suka dengan hadiah fans bernama Tita mengapa malah menjurus ke arah cemburu.
“Cemburu juga ngak apa-apa, aku kan suamimu! Itu wajar,” tambah Tirta menggoda Arini membuatnya semakin gelagapan menyembunyikan wajahnya.
Cemburu ... Seketika perut Arini bergejolak mendengar kata cemburu, dia pun mual.
Uwek ...
Arini mendekap mulutnya lalu berlari ke kamar mandi. Membuat Tirta yang tadi berbunga seketika cemas mengikuti langkah arini.
Uwek ...
Arini membungkuk memuntah seluruh isi perutnya ke dalam wastafel. Sedangkan Tirta memijat tengkuk Arini
“Kamu kenapa? Kamu tadi makan apa?” tanya Tirta memasang wajah cemas.
Arini hanya terus memuntahkan isi perutnya. Tak beberapa lama kemudian Arini menyalakan keran.
Tirta membalikkan badan Arini menghadap padanya.
“Kita ke dokter,” ucap Tirta saat melihat wajah Arini telah pucat.
“Ngak perlu kak, Cuma masuk angin saja. Saya Cuma butuh istirahat,” ucap meyakinkan agar Tirta tidak cemas.
“Baiklah. Kamu harus banyak istirahat.” Tirta lalu membungkuk menyelipkan lengannya di bawah lutut Arini, menggendongnya kembali ke tempat tidur.
__ADS_1
Tirta tak habis tersenyum mengingat ke kesal Arini padanya semalam, ya anggaplah mereka sedang bertengkar karena adanya orang ketiga.
Suara ketukan di pintu membuat lamunan Tirta terhenti. Pelan-pelan ia beranjak dari ranjang agar tidur nyenyak Arini tidak terganggu.
Pemuda ini beranjak membuka pintu menatap pada asisten rumah tangga.
“Ada apa?”
“Mas di depan ada tamu katanya ayah Anda.”
Alis Tirta bertaut untuk apa ayahnya datang ke rumahnya untuk yang pertama kalinya. Pasti ingin menyuruh Arini pulang tebaknya.
“Baiklah suruh dia menunggu.”
Tirta kembali masuk ke dalam kamar, menatap Arini yang terlelap berharap agar Arini tidak bangun dan bertemu ayahnya, karena tidak mau Arini terpengaruh lalu kembali pulang ke rumah ayahnya dan meninggalkannya, Ah dia tidak bisa berpisah dengan Arini lagi. Tirta pun pelan-pelan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri setelahnya menemui ayahnya.
Serasa mimpi bagi Tirta untuk pertama kalinya ayahnya datang berkunjung ke rumahnya. Duduk di sofa ruang tamu sedang menunggu.
“Ada apa?” tanya Tirta hanya berdiri dengan tangan bersedekap di dada menatap ayahnya. Ia masih sangat marah akan perlakuan ayahnya pada Arini dan Andra.
Hasan bangkit dari duduknya memasang wajah sendu, tidak ada tatapan tajam dalam manik mata itu, tak sama seperti biasanya. “Tirta ... ayah kesini untuk minta maaf padamu, atas semua perlakuan tidak adil yang ayah lakukan selama ini. Ayah akui, selama ini ayah salah. Ayah tidak adil, hanya memperhatikan Andra,” mohon Hasan dengan nada terendah kepalanya tertunduk, Tirta bisa membaca penyesalan dari ucapan ayahnya.
“Maaf kan ayah nak. Ayah memang bersalah.”
Sejenak Tirta tertegun mendengar maaf dari ayahnya. Tidak pernah menyangka ucapan itu keluar dari ayahnya.
“Maaf, percayalah ayah juga sangat menyayangimu. Hanya saja harapan ayah pada Andra terlalu tinggi, hingga membuat ayah lupa bahwa setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan, ayah tidak mempercayai kemampuanmu dan meragukanmu,” sesal Hasan suaranya terdengar lirih, ternyata dia salah putranya ini bisa berkembang di bidang lain yaitu menjadi artis populer.
“Andai dulu ayah bisa adil, keluarga kita akan selalu bersama. Maafkan ayah, kamu berhak menyalahkan semua pada ayah. Kamu benar semua ini karena keegoisan ayah.”
“Iya! ini semua kesalahan ayah! Karena ayah aku menjauhi kakakku. Karena ayah aku tidak punya banyak waktu bersamanya! Ayahlah yang menjadi sumber dari semua masalah ini!” murka Tirta meluapkan amarahnya. Dia bisa menerima perlakuan ayahnya tapi tidak dengan kebohongannya.
“Ayah mohon maafkan keegoisan ayah, Maafkan ayah Nak.” Hasan mendekat ke arah Tirta. “Pulanglah Nak, beri ayah kesempatan untuk menebus semuanya. Agar kita tidak berpisah lagi, keluarga kita utuh lagi,” mohon Hasan menepuk-nepuk dadanya, membuat hati kecil Tirta tersayat perih, walau bagaimana besar kesalah itu, dia begitu menyayangi lelaki ini.
“Ayah sudah cukup hentikan!” bentak Tirta mengalihkan pandangannya, tak tega melihat lelaki berwatak keras ini memohon.
“Ayah menyesal telah mengambil langkah menyembunyikan kematian Andra dalam kecelakaan itu. Tidak seharusnya ayah bersikap egois dan memutuskan semuanya sendiri. Andai kamu dulu tinggal bersama kami, mungkin saat itu ayah akan membagi masalah ini, bukan mengambil keputusan yang salah, menutupi semua agar Arini menemani mereka, sekarang mereka bergantung pada Arini. Sekarang nenekmu sakit dan ibumu selalu murung, itu semua karena ayah, membiarkan mereka bergantung pada Arini. Maafkan Ayah,” raung Hasan.
“Apa yang ayah lakukan!”
Tirta tersentak kaget saat melihat ayahnya membungkuk akan bersimpuh di hadapannya hanya demi memohon maaf darinya. Dengan cepat Tirta mencegah ayahnya. Menahan tubuh itu agar kembali berdiri tegak.
“Maafkan ayah. Ayah salah.” Hasan memeluk tubuh tinggi Tirta, pelukan itu membuat hati Tirta menghangat, terdiam sejenak dia merindukan pelukan sosok ayah. Tirta pasrah walau bagaimana pun semua telah terjadi. Tidak akan kembali terulang lagi. Andra tidak akan kembali lagi bersama mereka.
Tubuh Tirta yang dalam pelukan ayahnya seketika bergetar, wajahnya berubah tegang saat melihat Arini telah berdiri mematung dengan dengan kilat air mata membasahi pipi mulusnya.
“Ar ... Arini,” ucap Tirta terbata.
__ADS_1
Hahaha aku kembali maaf lambat. Aku lagi nyoba ilmu baru biar cepat kaya. udah ngak jadi jeng kunti lagi yang yang hilang malam jumat.
Lagi belajar nyoba ajian baru, jaran goyang.
jeng kunti: Lah jaran goyang kan, bukan bikin kaya tapi buat dapat jodoh.
Apa!!!! 😱😱jadi aku salah lagi ya?😭😭 Pantas setoran belum ada🤧. Pantas juga itu tukang bakso ngedip-ngedip mulu sama aku. Trus kuah baksoku di banyakin ternyata dia😍😍....
jeng kunti: Ya elah tambah kuah bakso bukan tanda cinta kali ... lebay banget loe! baperan 🙄...
Sekali lagi maafkan daku ..... hanya author halu yang selalu mencoba mencari jalan pintas untuk kaya .... aku malah ketempelan jeng kunti julid sekarang, ikut mulu.
__ADS_1