Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
kantuk


__ADS_3

Mata kuliah hari telah selesai, Arini bergegas meninggalkan kampus. Hari ini sebelum pulang ke rumah ia akan mampir dulu ke swalayan membeli bahan makanan untuk keperluan rumah terutama untuk si artis idola yang pemilih dalam makanan.


Arini melangkahkan kaki menuju tempat dia memarkirkan motornya, sepanjang berjalan hampir semua mahasiswa menatap sinis padanya. Pengakuan cinta yang ia  terima dari Gio idola kampus dambaan banyak gadis telah sukses membuatnya bertambah di hujat oleh orang-orang, bagi mereka Arini hanya janda yang tidak pantas mendapatkan cinta dari pemuda tampan itu.


Gadis cantik ini mempercepat langkahnya untuk menghindari semakin banyak bisik-bisik hinaan untuknya, hingga akhirnya ia telah berada di samping motor yang ia pinjam dari Dilan. Mata Arini membulat saat arah pandang gadis ini menatap ke arah ban motor.


“Kenapa bannya tiba-tiba jadi kempes. Dua-duanya lagi, tadi baik-baik saja,” gumam Arini, alisnya berkerut menatap heran, memeriksa motor lebih mendetail.


“Apa mungkin ....” Gadis ini berspekulasi jika dia adalah korban kejahilan gadis idola Gio.


Arini menggelengkan kepalanya cepat sebelum pikiran buruk semakin jauh.


“Padahal saya harus belanja untuk keperluan rumah,” gerutu Arini rencananya menjadi tertunda.


“Saya harus bawa ke tambal ban.”


Arini terdiam sejenak memikirkan tempat untuk memperbaiki motornya. “Oh, ia di dekat sini ada tempat tambal ban.” Arini kembali bersemangat.


“Terpaksa saya harus dorong.” Arini pun menegang stang motor menggiringnya hingga sampai ke tempat tambal ban.


***


Setelah beberapa menit mendorong motor gadis ini pun sampai. Dengan keringat yang bercucuran, bagaimana tidak ia menggiring motornya di bawa sinar matahari yang terik.


Arini telah duduk menunggu di tempat perbaikan motor, sambil melepaskan lelah.


“Saya  sangat mengantuk,” keluh Arini ia yang memang telah mengantuk sedari tadi,  namun harus mendapati insiden ban motor kempes membuat semakin lelah akibat tenaga yang terkuras di pakai mendorong motor.


“Sudah mba,” ujar lelaki yang memperbaiki motor. Membuat Arini yang menutup matanya kaget ia baru saja hampir masuk ke dalam mimpi.


“Udah ya, mas,” ucap Arini lalu membayar jasa lelaki itu dan setelahnya bergegas pergi.


“Sekarang tinggal belanja lalu merapikan rumah,” gumam Arini kini telah berada di atas motor.


****

__ADS_1


Malam telah larut, seperti biasa Arini duduk ruang depan, menunggu kepulangan suaminya. Sudah seminggu Arini mengikuti pola tidur idolanya dan hari ini dia merasakan tubuhnya sangat lemah, ditambah kejadian siang tadi mendorong motor, setelah itu belanja, membersihkan rumah ia tidak menjeda sedikit pun untuk istirahat.


Untuk menghilangkan kantuknya. Arini terus saja mengunyah snack rumput laut hadiah dari fans yang bernama Tita, sudah seminggu fans itu selalu memberi camilan untuk idolanya Dilan Magika, Arini juga tidak mengerti mengapa fans itu selalu memberi camilan sehat untuk Dilan dan beruntungnya dialah yang menikmatinya untuk begadang.


“Kak Dilan masih lama ngak ya, saya sudah tidak tahan,” rancau Arini.


Mata Arini telah tertutup sambil mengunyah pelan hingga suara mesin mobil samar-samar di telinganya. Ia pun menggelengkan kepalanya agar kantuk itu hilang karena Tirta telah pulang, kini ia siap untuk melakukan tugasnya.


Gadis ini menyeret langkah membuka pintu rumah, menghampiri Tirta yang baru saja turun dari mobil.


"Bawa barangku,” ucap pemuda tampan yang matanya juga sama seperti Arini menahan kantuk berjalan meninggalkan Arini


Gadis ini masuk ke dalam mobil mulai mengambil barang Tirta dan membawanya ke dalam kamar.


Arini telah berada di kamar, semua keperluan besok telah siap kini tinggal membuka kado dari fans. Tirta pun telah membersihkan diri duduk di pinggir ranjang.


“Hei, kau tidur ya,” sentak Tirta saat melihat kepala Arini mengangguk turun, seraya tangannya memegang kado yang belum terbuka.


“Ha.” Arini terjengkit kaget mendengar suara Tirta.


“Awas kau tidur sebelum memakaikan perawatan wajahku,” ketus pemuda ini.


“kemarilah. Lakukan tugasmu,” panggilnya kemudian berbaring di ranjang. Arini yang telah mengerti dengan cepat berjalan mendekat, meraih kotak perawatan wajah.


Arini akan memulai aksinya di wajah tampan yang matanya telah tertutup. Kini Tirta akan masuk ke alam mimpi indah membuat, mata Arini juga ingin tertutup.


Gadis ini mengambil kapas membasahi dengan rangkaian pertama. Arini mengusap pelan wajah mulus itu dengan kapas mulai dari kening, pipi. Kepala Arini masih terasa berat menahan kantuk, ia sangat ingin tidur.


Arini berhasil menutup matanya dengan tangan yang masih mengusap wajah Tirta dengan kapas. Rasanya ia telah berada di alam mimpi namun kembali tersadar saat mendengar teriakan Tirta.


“Hei kenapa menaruh kapas di hidungku, kau kira aku mayit,” sembur Tirta membuat Arini membuka matanya, ia terbelalak saat tangannya telah berada di hidung mancung Tirta dan sedang memasukkannya kapas di lubang suaminya. efek dari rasa kantuk tak tertahan hingga ia menjadi tak sadar dengan apa yang telah ia perbuat.


“Maaf kak, saya ngak sengaja,” ucap Arini gelagapan memperbaiki posisi tangannya.


“Lakukan dengan baik,” decak Tirta kembali menutup matanya.

__ADS_1


Arini menarik napas lega, kemudian melanjutkan kegiatannya, semua berjalan lancar ia mencoba membuka matanya hingga saat cream mata ia tidak sanggup lagi.


“Aduh, Hei menusuk mataku!” teriak Tirta lagi membuat Arini membuka mata dan benar saja telunjuk tangannya di bawah mata suaminya. “Kau ingin aku buta!”


“Maaf kak, saya akan hati-hati.” Lagi-lagi Arini meminta maaf.


“Awas kau melakukan kesalahan lagi!” ancamnya lalu kembali menutup mata.


Arini melanjutkan kembali kini dia telah mengoles cream terakhir, dia sudah tidak dapat menggerakkan tubuhnya ia menutup matanya, tertidur saat itu juga setelah tugasnya selesai.


Tirta yang telah masuk ke alam mimpi, terbangun saat ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia membuka mata menatap Arini yang meletakkan kepalanya di dadanya yang tertutup selimut.


“Hei kau menindihku,” keluh Tirta mendorong kepala Arini dengan kedua tangan, agar jauh dari tubuhnya.


Pemuda ini menatap lekat wajah Arini “Ya tidur, hei bangun. Pindah ke kamarmu, jangan tidur di sini!!” hardiknya mulai kesal.


“Hei bangun.” Tirta mencoba membangunkan Arini yang telah terlelap.


“Dia ini tidur atau pingsan sih susah banget di bangunin,” gerutunya.


“Ahhh menyusahkan saja, nih bocah.” Tirta berdecak kesal bangkit dari tidurnya, turun dari ranjang hendak memindahkan Arini.


“Hei bangun.” Cobanya sekali lagi hingga ia telah putus asa.


Tirta menyelipkan tangannya di bawah lurut Arini mengendongnya. “Badannya aja yang terlihat kecil ternyata dia berat juga,” keluh Tirta yang telah mengendong Arini dengan susah payah baru beberapa langkah. Ia mengurungkan niatnya membawa Arini ke kamarnya. “Beginilah kalau kau suka makan malam, badanmu menjadi berat," gerutu Tirta akan pola makan Arini ia kembali ke ranjangnya.


“Kau tidur saja di sini, aku sudah tidak bisa membawanya ke kamarnya, aku juga sangat lelah dan sudah tidak punya tenaga untuk menggendongmu.” Tirta terus menggerutu sambil menidurkan Arini di ranjang king Zise miliknya.


Tirta menarik selimut menutupi tubuh Arini, manik matanya menatap lamat-lamat wajah Arini. Perempuan yang telah menjadi istrinya. “Kalau seperti ini wajah polosnya semakin cantik,” gumamnya dengan menarik sudut bibirnya seraya mengelus pipi mulus Arina. Tirta mengakui jika Arini adalah gadis yang cantik dan mempesona.


Manik mata Tirta menatap bibir ranum Arini yang sedikit terbuka, ia mengusapnya dengan ibu jari, seketika pikiran liar Tirta sebagai laki-laki yang memiliki hasrat bangkit saat melihat Arini berbaring di ranjangnya, bibir itu telah membuatnya tergoda. Ingin rasanya ia menyecap manis bibir ranum milik istrinya itu.


Tirta tergiur mendekatkan wajahnya di wajah Arini hendak mengecup bibir itu namun sudah tinggal beberapa senti seketika bayangan Andra terlintas di pikirannya. Membuatnya menghentikan niatnya, teringat jika Arini adalah perempuan yang telah di nikahi Andra, artinya bekas kakaknya.


Pemuda ini menarik wajahnya tersenyum miring, hatinya miris mengingat gadis ini bekas kakaknya. “Andai saja kau bukan bekas kakakku, aku pasti sudah menjamahmu dari dulu,” gumam Tirta menahan hasratnya, lalu berbaring di samping Arini, ia menaruh guling di antara mereka. Malam ini untuk pertama kalinya mereka tidur di ranjang yang sama.

__ADS_1


__ADS_2