Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
perasaan


__ADS_3

“Cut ....” suara teriakan terdengar dari seorang lelaki yang memegang pengeras suara, tanda jika pengambilan gambar terhenti.


“Oke bagus, semuanya break sebentar!” ucapnya lagi saat matahari telah naik.


Tirta menarik napas lega setelah melalui proses pengambilan adegan yang di lakukan bersama lawan mainnya berjalan baik. Kini dia melangkah menjauh dari kerumunan menuju mobil mewahnya. Di sana dia akan beristirahat sejenak sebelum memulai pengambilan gambar lagi.


Dengan raut wajah tak bersemangat Tirta duduk di kursi, di samping mobil yang terparkir di bawah pohon rindang. Di mana Rian sudah berdiri menunggu dan menyiapkan sebotol air minum. Tirta mengulurkan tangan meraih botol pemberian Rian lalu menenggak minumannya setelahnya menyandarkan tubuh lelahnya di sandaran kursi arah pandangnya menatap kosong jauh ke depan. Membuat Rian yang melihatnya menghela napas berat sudah beberapa hari Tirta termenung seperti itu.


“Kamu kenapa sih Lan?” tanya Rian memasang wajah serius dengan tatapan menyelidik berdiri di hadapan sang artis.


Tirta hanya diam tidak mengrubris pertanyaan sahabatnya yang untuk kesekian kalinya. Ia pun telah jengah mendengar pertanyaan Rian tentang dirinya lalu mencoba menutup matanya.


“Sudah lebih dari seminggu ini kamu berubah jadi pendiam, ngak bersemangat. Di ajak cerita ngak fokus. Kamu kenapa sih? cerita kita ini sahabat, tidak boleh ada rahasia di antara kita” desak Rian sudah tidak bisa tinggal diam melihat sahabatnya terus termenung.


“Ngak apa-apa,” ucapnya singkat dengan mata masih tertutup.


Rian menepuk bahu sahabatnya membuat kelopak mata Tirta terbuka dan mengarah ke Rian. “Kita ini sudah bersahabat bertahun-tahun. Aku tahu, pasti sedang ada yang mengganggu pikiranmu.” Rian mencoba dari bicara dari hati ke hati. “Ceritalah brother,” tambahnya.


Tirta hanya diam tidak mungkin dia memberitahukan pada Rian jika, beberapa hari ini  hatinya merasa kosong karena kepergian Arini.


“Kamu jatuh cinta? Kamu patah hati Lan?” tebak Rian dengan tangan bersedekap di dada seakan sedang mengintimidasi dengan pertanyaan.


“Ha!” Sejenak pemuda ini terkesiap menatap Rian dan tidak menyangka dengan tebakan blak-blakan Rian, ia pun menjadi gelagapan mencoba tenang kemudian Tirta tersenyum miring sambil melengos tak suka. “Ya. Engaklah!” ucapnya menegaskan.


“Gaya kamu itu seperti orang jatuh cinta yang menahan rindu atau orang galau karena patah hati,” jelas Rian. “Kamu kangen kan sama Arini?” tuding Rian yang arah pembicaraannya seakan menyerang Tirta tanpa basa-basi lagi.


Tirta mendengus memutar bola mata jengah mendengar ucapan Rian.


“Semenjak dia pulang kamu menjadi murung!”

__ADS_1


“Ngak biasa aja!” tapiknya.


Rian tersenyum remeh. “Lan kamu bisa kan bacakan gerak-gerikku kalau aku menyukai Arini?” tanya Rian memasang wajah serius.


“Cih, Ya. Ialah aku tahu. Kamu suka cari perhatian dia.” Tirta berdecih memasang wajah tidak suka. Dia dari dulu tahu jika sahabatnya memiliki rasa pada Arini.


Rian tersenyum miring, menatap sinis pada Tirta. “Dan kamu kira aku juga ngak tahu, kalau kamu suka sama Arini,” Tuding Rian kini keadaan berbalik pada Rian membuat Tirta seakan tertohok dengan ucapan sahabatnya.


“Jangan bicara sembarangan!” hardik Tirta tidak memasang wajah tidak suka.


“Lan kita ini sudah seperti saudara, kamu tahu aku, begitu juga aku. Sama seperti kamu yang bisa membaca aku menyukai Arini, begitu juga aku. kamu pikir aku ngak tahu tanda itu dari kamu!” serang Rian tidak peduli apakah Tirta akan marah.


Tirta hanya menatap sinis pada Rian. “Aku tidak mungkin suka padanya!”


“Kamu suka curi-curi pandang saat melihatnya. Apa lagi saat makan bersama. Kamu selalu memperhatikan dia. Kamu juga diam-diam perhatian padanya, kamu kan yang suka belikan dia barang-barang dan camilan atas nama fans Tita. Kamu pikir aku ngak tahu semua itu untuk Arini. Kalau bukan suka apa namanya!” serang Rian panjang lebar membuat Tirta yang duduk di hadapannya bungkam seribu bahasa.


Rian menepuk bahu sahabatnya. “Kamu jatuh cinta pada Arini Lan. Harga dirimu yang setinggi langit itu yang membuatmu malu untuk mengakuinya!” tekan Rian menjabarkan akan perasaan Tirta selama ini pada Arini.


“Tidak mungkin!” dengus Tirta belum menyadari. Yang ia tahu saat ini dia merindukan gadis itu.


“Dia bukan sepupumu kan!” tanya Rian semakin dalam menggali hubungan keduanya.


Tirta bangkit dari duduknya pembicaraan ini membuatnya semakin tersudut. “Sudahlah Aku lelah. Aku ingin pulang. Kau urus semuanya!” geram Tirta kemudian melangkah pergi meninggalkan Rian dengan mobilnya.


“Lan! Dilan!” Rian mencoba memanggil Tirta namun pemuda ini tidak menghentikan langkahnya masuk ke dalam mobil lalu mengendarainya meninggalkan lokasi syuting.


*****


Tirta sedang mengendarai mobilnya. Membelah jalan dengan begitu banyak pertanyaan di hati. Apa benar kata Rian jika dia telah jatuh cinta pada perempuan yang tidak seharusnya dia cintai, karena perempuan itu adalah mantan istri kakaknya. Benarkah perhatian diam-diam yang ia berikan pada Arini telah menjadi wujud cintanya, padahal ia hanya memberikan yang terbaik pada gadis yang di anggapnya lugu itu. Mengapa hatinya berbalik menjadi cinta? Seharusnya dia menghindarinya.

__ADS_1


“Apa benar aku mencintainya? Aku mencintai bekas kakakku. Ahhhhhh, kenapa bisa begini!” Tirta mengeram memukul stir mobil, mengutuki perasaannya. Jika ia benar-benar mencintai Arini itu berarti kali ini dia akan kembali menerima bekas kakaknya batinnya.


Rona matahari hampir lenyap di tepi langit, hari akan berganti malam. Namun pemuda tampan ini masih duduk termenung di dalam mobil yang menepi di tempat sunyi. Sejak tadi memikirkan perasaannya. Jantungnya berdetak kencang saat bersama Arini, kenyamanan saat gadis ini selalu berada di sampingnya. Tatapan yang selalu tertuju pada Arini apakah itu yang di namakan cinta. Sejak kapan perhatiannya itu menjadi cinta.


“Aku tidak bisa terus begini. Aku harus menemuinya sekarang juga, Aku harus meyakinkan perasaanku padanya,” batin Tirta menyalakan mesin mobilnya kembali berpacu menuju tempat di mana Arini berada yaitu kediaman orang tuanya demi meyakinkan hatinya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2