
Arini baru saja menginjakkan kaki di lokasi syuting, membawa sepatu si artis yang tadi pagi terlupakan oleh Arini. Gadis cantik ini berdecak kagum saat melihat lokasi syuting dan beberapa kru. Ini pertama baginya, Membuatnya menjadi antusias.
“Di sini pasti banyak artis,” gumam Arini terus melangkah seraya mencari di mana keberadaan Tirta sesuai petunjuk arah yang di berikan suaminya.
Manik mata Arini menangkap pemuda yang sedang dicari, terlihat duduk sendirian membaca naskah. Ia pun bergegas menghampiri.
“Kak Dilan,” sapa Arini mengembangkan senyuman, berdiri di hadapan Tirta dengan tangan menjinjing paper bag berisi sepatu.
Pemuda ini mendongak menatap Arini tajam. “Kau! Bisa-bisanya melakukan kesalahan,” sembur Tirta menghakimi gadis ini.
“Maaf kak,” cicit Arini tertunduk merasa bersalah.
“Kau ceroboh sekali, tidak teliti,” omelnya.
“Maaf kak. Ini juga karena tadi pagi kakak tidak memberi aku kesempatan mempersiakan, dengan baik tadi,” ucap Arini mengingatkan jika ia sudah menyuruh Tirta keluar sebentar pemuda ini malah akan membuka handuknya di hadapan Arini. Membuatnya kelakabakan dan lupa mengeluarkan sepatu.
“Wah kau menyalahkan aku!” ketus Tirta.
"Tidak kak.” Arini menggeleng cepat.
“Taruh sepatu itu di sana,” tunjuk Tirta dan gadis ini pun meletakkan di tempat yang di tunjuk suaminya.
Arini berbalik telah menyelesaikan tugasnya, ia berdiri di samping Tirta namun ia seketika berdecak kagum saat netra hitam miliknya menangkap bayangan sosok perempuan cantik dari kejauhan.
Membuat Arini kegirangan dan heboh. “Wah Marsya Ayunda!” jerit Arini seraya tanpa sadar dia menepuk keras punggung Tirta yang duduk tegak membuat pemuda itu tersentak.
“Aduh!” pekik Tirta mengusap mencoba punggungnya yang sakit akibat Arini. “Kau mau membuatku mati ya!” sembur Tirta membuat Arini tersadar dan beralih menatap Tirta yang kesakitan.
Senyuman Arini hilang, wajahnya berubah pias. “Maaf kak. Saya ngak sengaja.” Arini jongkok mensejajarkan tinggi badan Tirta yang duduk di kursi membantu mengusap punggung Tirta, hanya karena melihat salah satu artis idola ia menjadi lupa diri.
“Bagaimana kalau aku pingsan tadi!” hardiknya menatap dengan tatapan membunuh.
“Sekali lagi maaf kak, saya sedang lihat Marsya Ayunda,” ucapnya dengan rasa bersalah. Kemudian kembali girang saat matanya menyorot artis perempuan itu. “Marsya Ayunda ternyata bertambah sangat cantik ya kak, jika di lihat langsung,” ujar Arini menatap depan dengan manik mata berbinar.
Tirta mendengus memutar bola mata malas. “Jangan norak deh!”
“Kata media kakak pacaran ya sama Marsya Ayunda? Apa benar?” tanya Arini menatap dengan penasaran suaminya.
“Apa peduli?” ucapnya sarkas.
“Saya hanya penasaran saja kak? Kakak dan dia sangat serasi. Dia sangat cantik,” puji Arini menaikkan dua jempolnya pada Tirta.
Pemuda ini tersenyum miring. “Ia, aku memang lebih pantas bersama Marsya Ayunda artis, cantik, bertalenta dari pada denganmu, hanya perempuan biasa. Mantan istri kakakku pula,” cibir Tirta.
Arini tertunduk sedih benar yang di katakan Tirta dia memang tidak pantas bersamanya pemuda ini. Ia hanya seorang janda sedangkan Tirta idola semua orang, apalah artinya dirinya hanya gadis kampung. “Maaf kak,” lirihnya, dia juga sadar Tirta telah terjebak dengan dirinya.
Tirta menatap lekat Arini yang tertunduk. “Sudah jangan minta maaf terus.” Ia juga merasa sedikit berlebihan dengan ucapannya.
Arini menarik sudut bibirnya. “Saya tahu kakak menikah saya karena terpaksa. Saya ngak apa-apa kok, kalau kakak berhubungan dengan perempuan lain. Tapi Saya akan terus mendukung kakak dengan Marsya Ayunda. Lagi pula tidak lama lagi saya akan pulang bersama nenek. Kita akan jarang bertemu,” ujarnya Arini juga tidak pernah berharap hubungan akan jauh dan bertahan dengan artis ini.
Tirta hanya diam tidak menanggapi ucapan Arini.
Arini kembali berdecak kagum saat seorang pemuda tampan yang juga merupakan Artis menghampiri mereka.
“Wah Kenzi Anggara,” jerit Arini gemas mencengkeram lengan Tirta.
“Aduh sakit,” keluh Tirta yang lagi-lagi mendapatkan siksaan dari Arini.
__ADS_1
"Ha." Arini tersentak melepaskan cengkeramannya.
“Dilan setelah ini sin kita berdua. Ayo latihan dulu,” ajak pemuda tampan yang tangannya membawa naskah.
“Ya,” jawab Dilan hendak beranjak namun Arini mencekal tangan Tirta.
“Ada apa?”
“Emm. Tolong bantu saya,” rengek Arini memasang wajah memelas.
“Bantu?” Alis Tirta berkerut.
“Tolong kak, bantu saya minta tanda tangan Kenzi Anggara,” bisik Arini sambil tersenyum memperlihatkan gigi ratanya pada pemuda yang ada di antara mereka.
“Ogah! Untuk apa aku minta tanda tangan sesama Artis bikin malu aja!” tolaknya.
“Saya ngefans kak,” ucapnya memasang wajah memelas.
“Kamu minta aja sendiri!”
“Saya malu!” Arini tersipu membuat Tirta menatap jengah.
“kalau begitu jangan harap punya tanda tangan dia.” Tirta telah bangun dari duduknya.
“Kakak Dilan!” panggilnya membuat Tirta berbalik dan tidak tega melihat wajah polos itu.
“Siapa Lan?” tanya Artis itu yang dari tadi menatap Arini berbisik dengan Tirta.
“Sepupu dari kampung minta tanda tangan kamu,” ujarnya.
“Hai,” sapa Kenzi melemparkan senyum manis sambil melambaikan tangan pada Arini. Membuat gadis ini seakan tidak bisa bernapas melihat lesung pipi di wajah Kenzi.
“Nama kamu siapa?” tanya Kenzi dengan ramah.
“Arini kak,” ucap Arini tersipu malu bak anak Abg yang jatuh cinta membuat Tirta mendengus memutar bola mata melihat tingkah Arini.
“Saya boleh minta tanda tangan kakak?”
“Boleh sebanyak apa-pun yang kamu mau.” Mendengar itu Arini semakin mengembangkan senyumnya.
“Rara aku akan dapat tanda tangan artis idola kita,” batin Arini gemas.
“Sepupumu, cantik juga Lan,” ujar Kenzi menatap Arini.
“Sudah mana bukunya?” tanya Tirta tak sabaran.
Arini menepuk jidatnya tersadar. “Ya, ampun, Saya ngak bawa kak,” ucap Arini.
“Ngapain minta tanda tangan kalau begitu!” berdecak sebal.
Kenzi terkekeh pelan melihat tingkah lucu Arini.
“kak punya pulpen ngak? Tanyanya.
“Sudah ambil di mobil.”
Tanpa kata-kata lagi Arini berlari kecil mengambil pulpen dan kertas di mobil. Tak beberapa lama ia datang membawa pulpen dan buku.
__ADS_1
“Ini.” Arini menyodorkan buku dan spidol permanen pada sang idola.
Kenzi mulai mencoret di atas kertas kosong itu dengan tanda tangannya lalu memberikan pada Arini.
“Satu lagi boleh ngak kak? Buat teman saya,” ujarnya kembali memberikan pada Kenzi.
“Boleh,” ucap Kenzi kembali mengambil alat tulis itu.
Arini memperhatikan tangan Kenzi membubuhi kertas dengan tanda tangan. “Satu lagi kak untuk nenek saya.” Arini tersenyum kaku pada Tirta yang memasang wajah masam.
“Satu lagi kak buat ibu di kampung saya, biar bisa pamer sama tetangga di kampung,” ucap Arini memiliki tanda tangan artis adalah kebanggaan yang akan dipamerkan di kampung nanti.
“Haha kamu lucu, Arini.” Kenzi terkekeh.
Tirta mencebikkan bibirnya, menatap jengah melihat keakraban mereka.
“Makasih kak.” Arini mengembangkan senyuman, ia menyesal tiba membawa barang dari rumah untuk di tanda tangani oleh artis ini, apalagi Kenzi sangat ramah. Hingga tercetuslah.
“Kak satu lagi, untuk kenang-kenangan. Di baju saya juga boleh di tanda tangani,” ucapnya arini membuat Tirta tercengang dengan tingkah gadis kampung ini bertemu dengan idola.
Arini berbalik mengarahkan punggunya, hanya pakaian yang terpikir bisa ia sodorkan untuk bisa di tandangi lagi.
“Boleh.”
Tirta membulatkan matanya saat melihat Kenzi telah mendekat ke arah Arini. Tangannya siap mencoret pundak belakang Arini.
“Apa-apaan dia, dia rela tubuhnya disentuh hanya gara-gara tanda tangan,” batin Tirta tak rela Kenzi menyentuh Arini.
“Sudah cukup, dia harus pulang.” Tirta berdiri di antara mereka menggalangi. Tirta mengambil spidol di tangan Kenzi memberikannya pada Arini lalu menarik tangan Arini pergi menjauh
“Makasih kak Kenzi,” ucapnya berbalik.
“Sama-sama, besok main ke sini lagi,” balas Kenzi membuat Tirta semakin kesal.
Arini dan Tirta telah berada jauh dari Kenzi.
“Kau pikir ini kelulusan Sma. Sampai baju pun minta di tanda tangani!” geram Tirta. “Kau mau saja di sentuh olehnya,” sembur Tirta memasang wajah kesal.
“Saya hanya ingin memakai baju yang ada tanda tangan Kenzi Anggara di hadapan sahabat saya,” ujar Arini Adengan tampang polosnya.
Tirta meraih spidol yang di pegang Arini. lalu membuka tutupnya. “Sini aku yang tanda tangan di bajumu, aku lebih terkenal dari dia dan sahabatmu itu pasti akan bangga, dengan tanda tangan Dilan Magika,” dengus Tirta menyeringai. Memajukan tangannya.
Arini membulatkan mata, saat tangan memegang spidol itu akan mendarat tepat di dadanya. Membuat gadis ini kelabakan lalu menutup dadanya dengan silang tangan.
“Jangan kak,”
“Kau ingin baju yang ada tanda tangannya kan? Aku beri yang besar di dadamu.” Pemuda ini menyeringai tersenyum licik.
“Jangan kak, saya akan pulang." Arini memperat dekapannya.
"Hei kenapa kau lari! Aku belum tanda tangan!” panggil Tirta.
"Saya pulang dulu kak.” Melambaikan tangannya.
Tirta menatap kepergian Arini. “Dasar bocah. Mau saja di sentuh laki-laki demi tanda tangan, untung aku bisa mencegahnya,” gerutu Tirta masih memasang wajah kesal menahan amarah entah hatinya menjadi panas.
__ADS_1