
Pasangan ini telah berada di rumah orang tua Tirta. langsung melangkah masuk ke dalam kamar nenek Nani.
“Nenek!” teriak Arini berjalan mendekat pada perempuan yang berbaring di ranjang.
“Arini sayang.” Tubuh ringkih nenek Nani mencoba untuk bangun saat melihat Arini dan Tirta datang. Dia kembali bersemangat pasangan ini datang berkunjung.
Arini duduk di pinggir tempat tidur membantu perempuan tua itu untuk duduk.
“Nenek apa kabar?” peluk Arini dengan kerinduan.
“Baik sayang. Nenek senang kalian datang.” Membalas pelukan Arini dengan keharuan.
“Kalian apa kabar? Bagaimana kandunganmu sayang?” tanya nenek Nani karena mereka sering berbincang dan bertukar kabar melalui telepon.
“Baik nek,” sambut Tirta dengan senyuman berdiri di samping tempat tidur.
“Semuanya baik-baik saja nek. Menurut pemeriksaan Rini mengandung anak kembar,” tambah Arini sangat antusias menggenggam kedua tangan nenek Nani.
“Benarkah! Nenek sangat senang mendengarkannya! Nenek akan punya cicit sekaligus dua! Tirta, kamu harus jaga Arini dengan baik.”
“Pasti nek,” sahutnya.
Mereka pun mengobrol menghabiskan waktu bersama. Hati Tirta menghangat baru kali ini dia bisa menghabiskan waktu lagi bersama neneknya tersayang.
“Nenek masih kangen sama kalian! Kalian nginap ya?” pinta nenek Nani memasang wajah memohon.
Sejenak mereka saling pandang akan permintaan nenek Nani. Arini menatap Tirta dengan sorot mata memohon. Tirta pun mengulas senyum tipis menatap istrinya lalu mengangguk mengiyakan.
***
Telah tiga hari pasangan ini menginap di kediaman Abraham, menghabiskan waktu berkumpul bersama, merasakan kembali kehangatan dan kasih-sayang keluarga yang sempat hilang.
__ADS_1
Kini mereka telah berada di ruang makan menikmati sarapan pagi bersama termaksud nenek Nani juga ikut bergabung. Seperti biasa Arini dan Ana akan melayani seluruh anggota keluarga.
“Ini susu ayah, biar ayah selalu sehat,” ucap Arini meletakkan gelas berisi susu di samping piring Hasan.
“Terima kasih sayang,” kata Hasan. “Tapi boleh kan ayah minum secangkir kopi,” tawarnya dengan senyum kaku.
“Ayah!” kompak Ana dan Arini menatap Hasan.
“Iya, ayah akan minum.” Hasan lalu menenggak gelas berisi susu.
“Sayang aku ngak mau makan omlet saja. Aku ingin pakai nasi,” sela Tirta yang hanya mengacak-acak makanannya terlihat tak berselera.
“Kakak ngak diet lagi?” tanya Arini.
“Malas,” ujar Tirta singkat.
“Saya ambilkan.”
Arini tersenyum lucu, mengingat jika Tirta dulu sangat anti melihatnya makan omlet bersama dengan nasi yang mengandung karbohidrat. Sekarang suaminya malah mengikuti tingkahnya. Semenjak Arini hamil, dia sudah tidak memilih makanan apa yang ingin dia makan.
“Sudah cepat kamu makan juga makan,” panggil Tirta, Arini masih saja selalu menjalankan tugasnya sebagai menantu yang baik.
Ana mendekat berdiri di samping Arini. “Terima kasih sayang. Kini keluarga kita telah lengkap. Tirta telah kembali lagi ke rumah ini,” ucap Ana mengelus punggung tangan menantunya.
Perhatian teralihkan pada pelayan yang mendekat ke arah mereka.
“Permisi di depan, ada lelaki bernama Rian sedang mencari Tuan Tirta,” jelas pelayan.
Arini dan Tirta saling tatap bertanya-tanya dalam hati, hal penting apakah hingga Rian mendatanginya rumah ayahnya.
“Aku akan menemui Rian dulu,” Tirta pun beranjak menemui Rian.
__ADS_1
Tirta melangkah menuju ruang tamu di mana Rian duduk di sofa sedang menunggunya.
“Ada apa?” tanya Tirta kemudian duduk di samping Rian.
“Aku ke mari ingin memberitahukanmu. Jika film tiang listrik, menarik banyak penonton. Banyak memuji aktingmu dalam memerankan tokoh Aska,” jelas Rian dengan menggebu.
“Baguslah kalau begitu,” balas Tirta santai.
“Karena peranmu itu, tawaran kembali berdatangan. Mereka sangat mengagumi aktingmu dan mengeluh-eluhkan namamu sebagai aktor terbaik,” tuturnya.
“Sudahlah Ian, aku sudah malas berakting. Aku hanya ingin mendampingi Arini menjalani kehamilannya,”
“Pilihan ada padamu apa kamu ingin berhenti atau kembali ke puncak karier.”
Tirta terdiam berperan adalah dunianya yang tidak mungkin dia tinggalkan begitu saja. namun jika dia kembali menjalani kehidupan sebagai artis papan atas maka dia akan berkutat dengan jadwal yang padat hingga dia tidak memiliki banyak waktu lagi bersama Arini bahkan selalu berkumpul bersama keluarganya. Itulah risiko yang akan di tanggung sebagai artis idola. Sungguh di menjadi dilema.
__ADS_1