
Terhitung telah tiga bulan lebih Arini tinggal bersama suami artisnya, dia pun mulai terbiasa dengan kehadiran Tirta, jiwa norak artisnya pun mulai berkurang terkecuali Tirta membawanya jalan-jalan ke lokasi syuting bertemu dengan artis-artis lainnya atau berdiri di antara fans Dilan Magika maka Arini akan kembali lupa diri.
Malam telah larut seperti biasa Arini menunggu kepulangan suaminya di ruang depan dengan di temani camilan sehat dari fans bernama Tita yang di siapkan oleh asisten rumah tangga untuknya namun entah mengapa selera makannya menghilang. Ia tidak suka lagi dengan hadiah fans perempuan bernama Tita itu, beberapa hari ini dia bahkan jengkel mendengar namanya seakan tidak suka fans itu memberikan banyak barang dan perhatian pada suaminya. Ada rasa yang tidak bisa Arini ungkapkan pokoknya dia sebal.
Sedari tadi Arini mencoba menahan kantuk, matanya bahkan telah memerah namun tak bisa terlelap tanpa melihat wajah suaminya. Entah mengapa Arini merasa tubuhnya sangat lemah hingga rasanya dia hanya ingin tidur di kasur dalam dekapan suaminya. Dia sendiri merasa aneh dengan dirinya sendiri akhir-akhir ini, dia selalu ingin dekat dengan Tirta mencium aroma tubuh suaminya bahkan dia sudah bisa tidur nyenyak dalam dekapan suami idolanya.
Suara deru mesin mobil terdengar samar tanda Tirta telah pulang. Arini mengembangkan senyuman bangun dari duduknya melangkah cepat menyambut kedatangan Tirta.
Arah pandang Arini telah tertuju pada Tirta yang baru akan melangkah masuk. Aduh dia sangat merindukan lelaki ini. Sudah seminggu suami artisnya, sangat sibuk melakukan promosi, persiapan film jodoh pilihan kakakku yang proses syutingnya telah rampung dan tidak lama lagi tayang perdana. Kini tinggal film ini terakhir untuk sang artis setelahnya tidak ada lagi. Kariernya telah meredup sejak mengakui Arini sebagai istri. Tawaran memang masih ada untuknya namun bukan lagi peran utama. Gengsinya yang tinggi membuatnya memilih mundur dari pada bermain dalam peran kecil.
“Kak Dilan,” sapa Arini seketika berhambur memeluk tubuh tinggi suaminya.
Sejenak Tirta tersentak kaget lalu mengembangkan senyuman, hingga memperlihatkan gigi putih ratanya, ini pertama kalinya Arini yang memulai menyentuhnya. Seketika lelah itu menguap hilang saat Arini mendekapnya lebih dulu, ada bunga bermekaran dalam hatinya.
“Kamu belum tidur.” Tirta membalas pelukan Arini tak kalah eratnya.
“Lagi nunggu kakak, kangen ingin dipeluk,” ucapnya manja mengendus aroma parfum Tirta.
Deg ....
Jantung Tirta seakan lompat bebas mendengar kata kangen dari istri polosnya. Ia pun mengecup puncak kepala Arini. Namun sedikit miris apa dia begitu sibuk? Hingga istrinya sangat merindukannya.
“Maaf akhir-akhir ini aku tidak punya waktu untukmu. Tapi, setelah film ini tayang, semua waktuku hanya akan untuk kamu.”
Arini mengangguk dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
Arini mengurai pelukannya, lalu menarik tangan suaminya. “Ayo kak kita ke kamar,” ajak Arini terdengar merengek.
Alis Tirta semakin berkerut dalam saat Arini menariknya untuk ke kamar tidak seperti biasanya.
Ada apa dengan Arini? Tidak biasanya tanyanya dalam hati.
Tirta pun mengekori istrinya hingga ke kamar, sampailah mereka di tepi ranjang.
Arini telah naik lebih dulu di ranjang sedangkan Tirta masih berdiri terdiam, menatap bingung tingkah istrinya yang terlihat seperti menggodanya.
“Kak ayo berbaring di samping saya.” Arini menepuk kasur sisi kosong untuk suaminya.
Tirta semakin heran saja, Arini langsung mengajaknya tidur padahal dia tahu jika sebelum tidur artis ini punya banyak ritual malam membersihkan diri, memakai skincare. Namun jantungnya berdetak kencang apa Arini telah melihatnya sebagai suami, jika itu terjadi dia akan berteriak yes.
“Ayo kak.” Suara Arini semakin mendesak menarik tangannya untuk naik.
Tuh kan Arini mengajaknya tidur.
Tirta menarik sudut bibirnya lalu naik ke atas ranjang bergabung dengan istrinya. Tak menghiraukan lagi ritual malam yang sering dia lakukan kini istrinya menginginkannya.
Setelah berbaring Arini lalu masuk ke dalam pelukan hangat suaminya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Tirta, menjadikan lengan Tirta sebagai bantal membuatnya pemuda ini tidak bisa bergerak.
“Kamu kenapa?” tanya Tirta memastikan.
“Saya ingin tidur di peluk kakak.” Arini mengeratkan pelukan lalu mulai menutup mata, menuju alam mimpi sedari tadi dia sangat mengantuk namun matanya juga tidak bisa terpejam, jika belum melihat wajah tampan Tirta.
__ADS_1
Ah manis sekali seketika sisi kelaki-lakiannya bangkit.
Hanya ingin di peluk? Yakin hanya pelukan. Batin Tirta mulai mengecupi puncak kepala Arini, gairah panas mulai menyelimuti, meraba tubuh istrinya namun gadis ini malah tak bereaksi.
Tirta mengangkat wajah Arini terlihat kelopak matanya telah tertutup rapat. Oh tidak secepat ini? Lalu bagaimana dengan dirinya? Astaga dia tidur saat Tirta telah tegang. Tirta berdecak bukannya Arini tadi yang memancingnya tidur.
“Sayang ... sayang!” seraya mengelus lembut pipi Arini akan tetapi tidak ada pergerakan. “Ya dia sudah tidur.”
“Aneh, tapi sekarang dia sudah bisa tidur nyenyak dalam pelukanku. Apa dia sudah menganggapku suaminya,” batin Tirta relung hatinya menghangat berharap semoga saja pintu hati Arini telah terbuka untuknya. Tirta mengecup kening istrinya dengan lembut, lalu bangkit untuk membersihkan diri, mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar gairah panas itu hilang setelahnya memakai sendiri perawatan wajahnya.
__ADS_1