
“Halo kamu di mana?” Tirta
“Di kampus kak,” Arini.
“Belum pulang?”
“Ini, udah mau pulang."
"Kamu ngak mau mampir ke lokasi syuting aku.”
“Liat syuting lagi,”suaranya terdengar riang namun terdengar helaan nafas berat.
“Maaf kak, kali ini ngak bisa, ibu menyuruh saya saya pulang ke rumah tepat waktu.” terdengar tak bersemangat.
Alis Tirta berkerut tumben Arini menolak ke lokasi syuting. “Aku lagi sama Ricard, mau ketemu ngak? Kamu ngak mau bertemu langsung dan minta tanda tangannya,” bujuknya tak kehabisan akal.
“Emmm.” Terdengar suara di seberang sana berfikir.
“Bertemu Ricard! Mau kak! Mau banget.” Suara itu kembali bersemangat.
“Baiklah kamu ke sini.” Tirta.
“Oke kak.”
Panggilan terputus, senyum penuh kemenangan terbit dari artis tampan yang kembali berhasil dengan modusnya, untuk bertemu dengan Arini. Tirta tahu Arini belum memiliki tanda tangan Ricard hingga itu menjadi alibi.
Sejak malam indah itu berlalu telah beberapa hari mereka tidak bertemu. Mereka masing-masing menjalani hari. Tirta sangat merindukan istri rasa fansnya itu.
Setelah melewati malam pertama bersama orang yang di cintai, entah mengapa bayangan indah itu selalu terkenang, pikiran liar untuk mengulangnya lagi terus mengudara. Rasa cinta yang semakin membuncah membuatnya selalu ingin dekat dengan istri.
Tirta duduk bersandar di kursi lipat menghela napas berat, menatap jauh pada salah satu pemuda berwajah blasteran yang menjadi lawan mainnya yaitu Ricard. Demi bertemu dengan Arini dia rela menjanjikan tanda tangan rivalnya.
Ya itulah modusnya, demi membawa Arini menginap di rumahnya sama seperti dulu. kembali menjalani malam indah lagi, yang seakan menjadi candu untuk selalu mengulangnya.
Jantung Tirta bergemuruh ketika perempuan yang dia tunggu telah datang menghampirinya.
“Kak Dilan,” sapa Arini terdengar ceria.
Kerinduan itu seketika sedikit mengikis setelah melihat perempuan yang membuatnya mabuk kepayang.
“Kamu sudah datang.” Tirta berdiri mengusap puncak kepala Arini ingin rasanya dia mendekap tubuh istrinya, namun dia harus menahan diri karena ini adalah tempat umum.
“Kamu baik-baik saja.” tanya Tirta.
Arini mengangguk perlahan.
__ADS_1
“Ricard Sebastian mana kak?” tanya Arini mengedarkan pandangannya.
Tirta mendengkus melihat tingkah Arini mereka baru saja bertemu, dia belum puas meluapkan rindunya. Istrinya malah bertanya tentang Ricard. Benar-benar pemuja artis.
“Baiklah. Aku akan membawa bertemu dengannya," ucapnya dengan malas.
Ingin rasanya Arini berteriak hore namun masih menahan diri.
Tirta melipat tangan di dada menatap Arini dengan tatapan mengintimidasi akan seperti biasa akan memberikan banyak peringatan. “Tapi sebentar saja! ingat jangan norak. Satu tanda tangan saja. Ngak usah minta foto berdua. Foto saja dia sendiri,” tegas Tirta dengan posesif, dia tidak ingin Arini berdekatan dengan rivalnya hingga aturan itu dia berikan.
“Ya kak kalau foto sendiri. Kayak foto ktp dong,” protes Arini memasang wajah cemberut.
“Mau ngak!”
Dengan cepat Arini mengangguk. "Iya kak. Tapi, tanda tangannya boleh lebih ya. Saya juga mau bagi Rara,” tawar Arini memasang wajah memelas.
Tirta menghela pasrah. “Baiklah, Tapi Cuma untuk Rara,” tekannya.
Tirta melangkah mendahului Arini memandu ke tempat di mana artis bule itu berada.
Tirta memasang wajah dingin saat berdiri di hadapan Ricard yang duduk dengan naskah dialog ditangan menatap kedatangannya.
“Hai Lan! Wau ... Tumben kamu mendatangiku,” sapa Ricard menatap sinis.
“Jangan geer dulu. Aku ke sini karena nganterin sepupu aku. Dia ngefans mau bertemu dan minta tanda tangan kamu.” ucapnya tak kalah sinisnya dengan tangan bersedekap di dada.
“Bukakah ini lucu sepupumu malah ngefans denganku,” cibir Ricard dengan senyum seringai.
“Jangan banyak bicara cepat beri dia tanda tangan!” ketus Tirta
Pemuda berwajah bule ini berdecih akan sikap seenaknya Tirta.
Ricard lalu memiringkan sedikit kepalanya, menatap tubuh Arini yang bersembunyi di belakang punggung Tirta. Setelah itu menarik sudut bibirnya menatap wajah cantik gadis yang telah memegang buku dan pulpen di tangan.
“Hai nama kamu siapa?” sapa Ricard dengan ramah.
Suara napas tertahan terdengar dari Arini lalu tertunduk, tersipu malu saat Ricard menyapanya lebih dulu. Seperti biasa Arini akan membatu jika bertemu dengan idolanya bersikap malu-malu.
Tirta yang menoleh ke arah belakang melihat Arini tersipu. Ia pun mendengus, menatap jengah, kembali jiwa norak bertemu artis Arini muncul.
“Emmm.” Tirta berdehem keras membuat Arini tersadar, menatap Tirta yang telah memicingkan mata padanya. Arini beralih mengaruk tengkuknya, salah tingkah lalu menampilkan senyum kaku, lagi-lagi dia lupa diri.
Arini yang berdiri di belakang Tirta lalu menerobos maju mendekat pada Ricard.
“Hai nama kamu siapa?” tanya Ricard lagi dengan ramah.
__ADS_1
“Nama saya Arini kak! Saya ngefans sama kakak,” kata Arini melemparkan senyuman.
“Semua artis juga fansmu,” batin Tirta menatap sinis kedekatan mereka tanpa maksud menimpali.
“Saya boleh minta tanda tangan kakak?” Arini tanpa basa-basi lagi, menyodorkan buku yang dari tadi dia pengangnya.
“Boleh,” ucap Ricard menarik sudut bibirnya. Tangannya terukur menerima buku yang di berikan Arini, kemudian mulai mencoretnya. Arini memperhatikan tangan Ricard dengan gembira.
“Satu lagi kak. Untuk teman kuliah saya,” tambah Arini.
Arini melirik takut, lagi-lagi memaksakan senyumannya pada Tirta yang melototinya.
“Boleh. Kamu kuliah di mana?” tanya Ricard seraya menatap buku dan mencoretnya.
“Di tempat yang sama dengan adik kakak. Kami satu jurusan,” jelas Arini semua mahasiswa juga tahu bahwa Gio adalah adik dari Richard Sebastian.
Pandangan Ricard teralihkan pada Arini. “Oh ia. Kamu teman adikku Gio?”
Arini mengangguk pelan, sebenarnya dia bisa saja meminta tanda tangan dan bertemu Ricard melalui Gio. Tapi dia tidak ingin memanfaatkan cowok yang menyukainya itu.
Ricard terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu.
“Arini ... nama kamu Arini Larasati bukan!” tebak Ricard membuat Arini membelalak begitu juga Tirta yang berada menyaksikan obrolan mereka.
“Ia, kak. Kok kakak tahu,” Arini menatap bingung.
Ricard menarik sudut bibirnya, menatap Arini dengan tatapan menilai. “Tentu saja aku tahu. Kamu gadis yang menolak cinta adikku kan!” ucapnya dengan nada mengalun.
Arini dan Tirta kembali tercengang dengan informasi yang di berikan Ricard. Arini tidak menyangka jika pemuda ini tahu perasaan adiknya. Berarti hubungan Gio dan kakaknya, sangat dekat hingga menceritakan perasaannya pada Ricard.
Tirta terkejut mendengar adik Ricard menyukai Arini. Ternyata diam-diam dia punya saingan di kampus Arini.
“Kenapa kamu menolak adikku? Dia baik, ganteng. Dia itu idola kampus loh,” tanya Ricard.
Arini memaksakan senyuman. “Benar kak, dia baik. Tapi, Saya hanya menganggapnya teman kak,” ucap Arini singkat.
“Dia sangat menyukaimu. Tolong kamu pertimbangkan dia, kamu adalah gadis pertama yang dia suka,” pinta Ricard.
Mata Tirta membulat sempurna, rahangnya seakan ingin jatuh saat mendengar permintaan Ricard pada Arini. Oh tidak ... Istrinya di minta menerima cinta pemuda lain, hatinya menjadi panas.
“Tidak bisa! Arini sudah punya pacar! Ganteng dan kaya!” sambar Tirta dengan nada dingin tidak mau kalah. Lalu maju berdiri di hadapan Arini.
“Terima kasih, tanda tangannya, dia harus pergi,” Tirta mengambil buku dan pulpen dari tangan rivalnya dengan rasa cemburu membawa Arini meninggalkan Ricard.
“Apa-apa dia! Dia menyuruh istri orang menerima cinta adiknya,” batin Tirta berdecak kesal.
__ADS_1