Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
peran


__ADS_3

Tirta mengendarai sendiri mobil mewahnya menuju sebuah studio untuk membintangi sebuah produk iklan  makanan yang akan di bintangi. Entah sudah beberapa lama pemuda ini terus menggerutu setelah bertengkar dengan ayahnya. Amarah masih memenuhi relung hati bahkan setelah pergi dari rumah sekian lama, dia masih saja di bandingkan dengan Andra. Oh sial kenapa dia tidak bisa lepas dari bayangan kakaknya itu.


Di sela amarah, kembali terkenang pertemu semalam dengan Arini membuat hatinya berbunga namun pertengkarannya dengan ayah membuatnya tidak ingin ke rumah itu lagi.


“Ini semua karenanya. Aku tidak akan ke rumah itu lagi!” geram Tirta mencengkeram kuat stir kemudi hatinya sungguh terluka.


“Sekarang aku tidak bisa bertemu Arini lagi!” sungutnya kali ini memukul keras stir, alasan menjenguk nenek adalah cara untuk dekat dengan Arini namun harus terhenti karena masalah ayahnya.


“Bagaimana caranya aku bertemu dengannya? Mengajaknya untuk  tinggal bersamaku! Itu juga tidak mungkin. Dia pasti menolak! Arini sangat menyayangi mereka!”


"Ahhhh. Menyebalkan! Aku harus apa!”


Tirta terus memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi membela jalan hingga akhirnya dia sampai tempat yang di tuju.


***


Sepanjang hari Tirta termenung, Pria gengsian yang mampu menutupi perasaannya ini, terus berpikir keras mencari cara untuk bertemu Arini. Pekerjaannya membintangi sebuah produk telah selesai sudah waktunya ia berpindah ke stasiun tv untuk acara menjadi bintang tamu. Rian benar-benar membuat hari-harinya menjadi begitu sibuk.


Kini Tirta berada di mobil yang sedang di kendarai oleh Rian sang asisten.


Rian menarik napas panjang mengintip dari kaca spion saat Tirta hanya diam duduk di kursi belakang dengan wajah terlihat lelah dan sedang memikirkan sesuatu.


“Kamu kenapa Lan?” tanya Rian memecah kebisuan.


“Ngak apa-apa,” sahutnya singkat  menatap pemandangan luar dari kaca mobil


“Fokus Lan. Kerjaan kamu itu banyak banget,  apalagi tawaran yang masuk juga udah numpuk iklan, film, sinetron,” jelas Rian sudah terbiasa dengan kerja keras sahabatnya.


“Oh iya, ada tawaran iklan sampo untukmu, mereka ingin kamu jadi brand Ambassadornya,” jelas sang asisten.


“Terima aja,” sahutnya dengan malas.


“Iklan minuman energi.”

__ADS_1


“Terima juga. Kau atur saja.” Masih fokus memikirkan cara bertemu Arini.


“Ada juga tawaran jadi brand ambassador pakaian dalam cowok bayarannya gede banget. kamu mau ngak?” tanya Rian.


Tirta yang mendengar tawaran itu seketika membelalak, menegakkan tubuhnya.


“Ogah, tolak itu. Mengambil iklan pakaian dalam berarti aku harus pamer lekuk tubuhku di depan semua orang,” pemuda ini bergidik membayangkan tubuhnya di nikmati oleh semua orang.


“Baiklah. Ada juga perpanjangan kontrak jadi brand ambasador untuk sabun muka cowok.”


“Itu lebih baik.” Tirta kembali bersandar di kursi mobil kembali , berpikir keras mencari cara untuk bertemu Arini.


“Bintang iklan sama Marsya Ayunda, untuk produk makanan.”


“Emmm.” Tirta hanya berdehem tanda mengiyakan.


“Akhir-akhir ini kamu banyak tawaran dengan Marsya karena mereka pikir kalian pacaran. Dan kalian sedang menjadi pasangan serasi yang banyak di elu-elukan banyak orang.”


“Pasangan!” Tirta tersenyum sinis memutar bola mata jengah. Akan fakta hubungannya dengan  Marsya, sedikit pun dia tidak memiliki perasaan pada artis cantik itu.


Hening tidak ada jawaban dari arah belakang.


“Lan bagaimana dengan tawaran adaptasi novel milik adinda Adi judulnya jodoh pilihan kakakku, mereka nanyain kamu terus, kamu akan main sama Marsya Ayunda, kenzi anggara dan Ricard Sebastian,” jelas Rian.


Tirta menghela napas dengan banyaknya ocehan Rian. “Tolak aku tidak ingin bermain diantara Ricard dan Marsya, kamu tahukan dia mengira aku memiliki hubungan dengan Marsya. Ambil film lain.”


“Baiklah walau pun sayang menolaknya, tapi demi keamanan memang lebih baik kamu tolak, masih banyak tawaran lain.”


Sang asisten fokus menatap jalan kemudian garis bibirnya tertarik mengingat sesuatu.


“Jadi ingat sama Arini, katanya kalau kamu main menjadi peran utama di cerita. Kamu akan bergelar tiang listrik.” Terkekeh pelan.


“Tiang listrik.” gumam Tirta menautkan alis mengingat sesuatu.

__ADS_1


“Itu kan cerita  yang sangat di sukai olehnya,” batinnya mengingat betapa antusiasnya Arini saat mendengar tawaran itu datang padanya.


“Jika aku mengambil peran itu dan mengajaknya untuk melihat proses syuting dia pasti akan gila dan tidak akan menolak, karena kesempatan dia bisa bertemu dengan semua idolanya.” Garis bibir melengkung ke atas mengingat noraknya Arini jika sudah bertemu dengan idola hingga lupa diri. Pikiran Tirta seketika bersinar Bak lampu telah menemukan ide untuk bertemu Arini.


Tirta telah menegakkan tubuhnya untuk memberi titah menerima tawaran film tiang listrik. Namun teringat sesuatu.


“Tapi tunggu dulu jika aku mengambil peran ini, mungkin benar orang akan mengingatku sebagai tiang listrik juga.” Tubuh Tirta kembali bersandar  lemas di sandaran kursi.


"Ahh masa lelaki setampan aku bergelar Tiang listrik,” batinnya tak bersemangat.


“Tapi ini kesempatan dekat dan bertemu dengannya.” Kembali berperang batin namun setelah menimbang dengan baik satu tarikan napas panjang membuatnya yakin.


“Oke fix demi dia, aku akan mengambil peran itu.” Tirta kembali bersemangat menegakkan tubuhnya.


“Rian.”


“Emm.”


“Ya, aku ingin kamu mengambil peran tiang listrik itu!”


"What!” sentak Rian menatap tajam Tirta dari kaca mobil.


“Kamu serius?”


"Urus kontraknya secepatnya. Aku akan menanda tanganinya.” Tambah pemuda tampan ini dengan semangat.


“Kamu ngak takut nanti di panggil tiang listrik! Ingat Ricard akan berperan menjadi kakak iparmu nanti, bagaimana kalau nanti kamu ngak cocok sama dia?” Rian memperingatkan.


“Aku tidak peduli aku mau peran itu!” desaknya tanpa ingin di bantah lagi.


“Baiklah aku akan mengambilnya. Jangan salahkan aku jika nanti mereka akan mengingatmu tiang listrik juga,” ledek Rian dengan senyum lucu.


Tirta hanya memutar bola mata malas kembali bersandar.

__ADS_1


“Ini semua demi keinginanmu, aku akan mengabulkannya. Aku akan menjadi tiang listrik demi dekat denganmu, kamu pasti senang,” batin Tirta dengan senyum kemenangan kini pemuda dengan harga diri tinggi dan pandai menutupi perasaannya ini telah memiliki modus baru untuk bertemu dengan Arini tanpa harus ke rumah ayahnya.


 


__ADS_2