
Tirta menarik napas lega setelah semua urusan mengenai syuting telah selesai, kini waktunya dia pulang, bertemu dengan pujaan hati yang selalu membuatnya merindu dan ingin selalu pulang ke rumah melihat senyum Arini yang menyambutnya membuat lelah itu hilang seketika. Tirta sangat bersyukur karena pengakuannya tentang pernikahannya dia jadi punya banyak waktu bersama Arini.
Kini Tirta telah berada di dalam mobil yang di sedang di kemudikan oleh sahabatnya Rian. Pemuda ini bersandar nyaman mengarahkan pandangannya ke samping menikmati langit sore sambil mengamati pemandangan berupa ruko serta kendaraan yang di lalui.
“Ian berhenti!” sentak Tirta memukul pundak sahabatnya hingga membuat Rian menginjak rem secara mendadak.
“Apaan sih Lan,” sembur Rian yang terkejut saat menepikan kendaraannya.
“Ada toko bunga, aku ingin membeli bunga untuk Arini. Dia pasti sangat senang,” kata Tirta terlihat bersemangat, membuat Rian memutar bola mata jengah akan tingkah sahabatnya. “Kau tunggu di sini!” tanpa mendengar jawaban Rian pemuda ini lalu membuka pintu mobil kemudian turun menuju toko bunga.
Rian pun menunggu di mobil menatap Tirta dari kejauhan sambil menggeleng kepala melihat sahabatnya, setiap pulang sang artis selalu membawa sesuatu untuk istrinya. Selang tak beberapa lama Tirta kembali masuk ke dalam mobil memegang buket besar bunga mawar merah dengan senyum merekah. Membayangkan Arini pasti akan kegirangan melihat apa yang dia bawa pulang
“Arini pasti suka, nanti kamu kasih ya,” ucap Tirta menghirup aroma wangi dari bunga. Setelahnya menaruh di kursi belakang.
“Dari Tita lagi,” tebak Rian memasang wajah malas akan sikap sahabatnya yang menunjukkan cinta dan perhatiannya di balik nama Tita.
“Kenapa sih harus bohong? Kenapa bukan kamu yang ngasih langsung. Ngak gentel banget,” tambah Rian.
“Kamu kan tahu Ian, aku ngak bisa romantis, aku bicara juga suka blak-blakan,” kata Tirta sangat sulit mengungkapkan perasaan cintanya, hingga hanya bisa menunjukkan cinta di balik fans bernama Tita. Dan Arini pun hingga saat tidak menyadari.
“Banyak alasan bilang saja gengsi,” ketus Rian.
“Sudah ayo pulang!” katanya. Rian hanya menghela napas kemudian kembali mengemudikan mobilnya memecah jalan.
Setelah beberapa saat mengemudi kini mobil telah masuk ke dalam pelataran rumah. Arini yang sedang duduk santai di halaman rumah tersenyum riang melihat mobil sudah terparkir di saat suasana masih sore. Gadis ini pun mendekat menyambut Tirta yang baru saja turun dari mobil.
“Tumben, masih sore kakak sudah pulang.” kata Arini menautkan alisnya biasanya Tirta akan pulang malam hari.
“Kangen,” ucap Tirta memeluk tubuh Arini lalu melayangkan satu ciuman di pipinya.
Duh manis sekali, melihat Tirta bermanja dengannya.
Arini terkejut saat pintu mobil bagian kemudi terbuka.
“Ada kak Rian, kakak lepaskan malu.” Berontak Arini dalam pelukan Tirta.
“Emangnya kenapa?” semakin mempererat pelukannya membuat Rian yang melihat mendengus, ke arah Tirta lalu mulai menurun kan barang-barang sang artis dari mobil.
__ADS_1
“Saya mau bantu kak Rian bawa barang-barang kakak ke dalam,” ucap Arini telah terbiasa membatu Rian mengurus keperluan si artis.
Pelukan terlepas. “Ngak perlu biar bibi saja.”
“Ngak apa-apa. Kakak masuk saja dulu.” Arini meninggalkan Tirta, melangkah mendekat lalu berdiri di belakang Rian.
“Kak Rian, saya bantu ya,” sapanya.
Rian menarik tubuhnya dari mobil menatap Arini. “Ngak perlu Rin,” jawabnya.
Rian kembali membungkuk memasukkan separuh tubuhnya ke dalam mobil meraih sesuatu. Tak beberapa saat Rian mengeluarkan sebuket bunga mawar merah yang di beli si artis khusus untuk Arini.
“Ini kamu ambil saja, hadiah dari fans bernama Tita.” Rian menyodorkan bunga mawar merah pada Arini, sambil mengarahkan pandangannya pada Tirta.
Mata Arini berbinar senang. “Wah bunganya indah sekali.” Berdecak kagum meraih bunga dari tangan Rian. “Dia manis sekali, benar-benar fans setia. Dia masih menyukai kak Dilan, padahal banyak yang menghujatnya,” puji Arini lalu menghirup aroma wangi yang menguar dari mawar merah itu.
“Iya, di jamin fans ini tidak akan berpaling ke lain hati, fans setia selamanya.” kata Rian dengan nada mengayun sejak tadi mengarahkan tatapan pada Tirta yang diam-diam berdiri di belakang Arini, memperhatikan bagaimana senangnya istrinya mendapatkan hadiah dari fans padahal dirinya.
Setelah puas mencium aroma bunga Arini kembali bicara pada Rian.
“Tumben pulang cepat kak? Biasanya larut malam,” tanya Arini.
“Ini semua karena saya,” ucap Arini tertunduk dengan rasa bersalah.
“Sudah jangan merasa bersalah, ada bagusnya juga. Kami jadi punya waktu untuk bersantai. Dia juga punya banyak waktu untukmu,” jelas Rian menghela napas lega merasa hidup mereka terselamatkan oleh cinta Tirta pada Arini. “Kamu tahu kan dulu, jadwalnya gila-gilaan, rapet banget pergi pagi pulang larut malam, ngak punya hari libur. Pokoknya hidup kami ngak normal hanya ada kerja dan kerja.”
“Tapi andai saja kak Dilan tidak mengakui saya sebagai istrinya, semua tidak akan seperti ini, karier kak Dilan pasti masih ada di puncak.”
“Sudah jangan di pikirkan memang seperti itu. Dilan Magika adalah aset negara, semua orang merasa berhak memilikinya, jadi saat dia menikah ya jadi patah hati nasional. Pada ngak terima.” Canda Rian terkekeh menghibur Arini.
Setelah mengakui Arini karier Dilan Magika mulai meredup imbasnya banyak tawaran pekerjaan yang di batalkan, akan tetapi Tirta dan Rian sama sekali tidak ambil pusing, mereka terlihat sangat senang, bersemangat menikmati waktu longgar mereka.
__ADS_1
Info: cerita Arini kan cerita dadakan episodenya ngak sampai seratus paling 99.
jeng kunti:Woi itu sudah mau seratus Cuma kurang satu. Ngak lama gue timpuk ini authornya.
Yaelah ngak usah ngegas, canda aja kali.
Ngak lama lagi si artis modus, gengsian dan si polos Arini, akan pisah dengan kalian alias tamat. Kalian ada masukkan ngak mau di bikinin cerita seperti apa?
jeng kunti :Awas saja kalian minta season dua kagak ada ....
Idih jutek banget sih belum juga koment ...
Hahaha maafkan daku .....
__ADS_1