Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
di ajak


__ADS_3

“Arini!” teriak heboh seorang gadis berkacamata saat melihat Arini tampil di hadapannya, dengan menampakkan hasil karya artis Dilan Magika.


Rara memegang ke dua bahu Arini, menatap kagum. “Arini, kamu cantik banget!” puji Rara ia tidak menyadari suaranya yang meninggi membuat mereka menjadi pusat perhatian. “Aku sampai pangling liatnya!” tambahnya.


“Apaan sih Ra,” Arini menundukkan kepala, sungguh ia tidak ingin menjadi pusat perhatian.


“Tumben kamu dandan gini?” tanya Rara.


“Saya lagi coba make up baru,” alibinya.


“Aku suka, kenapa ngak dari dulu sih. Lihat ini.” Rara menarik pergelangan tangan Arini menatap jam baru yang melingkar cantik. “Ini sangat mahal. Tas ini juga mahal, seharusnya kamu memang pakai barang mewah dari dulu, kan kamu punya mertua kaya,” cerocos Rara.


“Ra, sudah. Jangan mengoceh terus.” Arini  menghembuskan napas kasar akan kehebohan sahabatnya.


“Kamu berpenampilan seperti ini, karena kamu udah move on ya? Kamu mau membuka hati untuk yang baru? Jangan-jangan sekarang kamu mau terima cinta Gio,” tebak Rara membuatnya mendapatkan pelototan mata dari Arini dengan dugaan gadis kacamata ini.


“Sudah Ra lebih baik temani saya.” Arini menarik tangan Rara untuk ikut bersamanya.


“Ke mana?”


“Ke toilet. Saya akan menghapus semua. Make up ini tidak cocok dengan saya.” Arini  menarik paksa Rara mengikuti langkahnya


“Kenapa harus di hapus. Sayang banget.” Gadis berkaca mata menyentak tangannya hingga pegangan Arini terlepas.


“Aku ngak mau, make up kamu di hapus. Aku suka banget liatnya. Ayo kita ke kelas saja.” Kini giliran Rara yang menggiring langkah Arini masuk ke dalam kelas hingga make up itu masih melekat cantik di wajah lembut Arini.


Rara dan Arini masuk ke dalam ruang kelas, suasana yang tadi riuh seketika hening saat pandangan mereka menatap Arini yang terlihat berbeda, rambut panjang terurai, wajahnya berseri, membuat gadis ini semakin tertunduk malu.


"Tuh kan, mereka semua juga pada terpukau," ujar Rara berbisik.


Arini dan Rara duduk di kursi.


“Tuh Gio, dari tadi liatin kamu ngak berkedip,” tunjuk Rara dengan ekor matanya pada pemuda yang duduk di baris kursi yang sama dengan mereka.


Netra hitam milik Arini menatap ke arah Gio dan benar saja pemuda itu tidak berhenti menatapnya.

__ADS_1


Gadis cantik ini menarik napas berat, karena penampilan baru yang membuatnya semakin menjadi pusat perhatian.


 


****


Sementara Arini yang tidak nyaman dengan penampilan barunya. Di tempat lain, pemuda yang telah membuat penampilan Arini bersinar, di relungi rasa bersalah. Tirta duduk termenung menatap kosong dengan naskah di tangan. Ucapan Arini tentang statusnya di kampus sukses membuat pikirannya kacau. Apalagi mendengar suara Arini yang terdengar menahan tangis.


“Kamu kenapa Lan? Dari tadi aku liat kamu bengong aja?” tanya Rian menatap perubahan sang artis.


Tirta menggelengkan kepala pelan menarik sebelah sudut bibirnya “Ngak apa-apa,” ucapnya lemah lalu kembali membaca naskah yang berada di genggamannya. Rian pun meninggalkannya untuk bergabung bersama yang lain.


Beberapa kali pemuda ini, mencoba fokus namun bayangan kesedihan Arini seketika membuyarkan semuanya.


“Itu bocah pasti sedang sedih, pasti dandanannya tadi membuatnya semakin di ejek,” gumam dalam hati seakan merasa bersalah.


“Kenapa dia tidak pindah kampus saja, dari pada harus di perlakukan seperti itu, hebat juga dia bisa bertahan,” Tirta mengeram kesal.


“Apa yang harus aku lakukan supaya ia senang.” Tirta menatap jauh ke depan. Suara bergetar menahan tangis Arini saat mengatakan dia janda  terus terniang di telinga.


Manik mata Tirta menangkap kumpulan kru sinetron yang mengambil adegan artis perempuan Marsya. Seketika memorinya terbuka, ingat akan Arin yang sangat bahagia jika bertemu dengan artis.


“Apa aku panggil saja dia kemari? Supaya senang. Siapa tahu dengan mendapatkan tanda tangan Marsya ia menjadi senang dan lupa dengan masalahnya.” Dia terus bermonolog sendiri hingga mengambil keputusan.


“Iya, aku akan membuatnya bertemu Marsya biar dia senang.”


Pemuda ini merogoh saku celananya, meraih ponsel untuk menghubungi Arini.


“Ya, kak.” Arini


“Kamu di mana?”


“Masih di kampus.”


“Setelah pulang langsung, kau kemari!”

__ADS_1


“Apa ada yang ketinggalan lagi kak?”


“Tidak ada semua lengkap, kamu ingin bertemu Marsya Ayunda tidak?”


Hening sejenak tidak ada jawaban.


“Aaaa ....” Teriak Arini membuat Tirta menjauhkan ponselnya.


“Mau kak. Mau banget.” Suara Arini terdengar bersemangat.


“Ya sudah, setelah pulang kamu kemari.”


“Baik kak.”


Panggilan terputus Tirta menatap layar ponselnya.


“Dia girang banget padahal Cuma mau ketemu artis. Dia kan memang mudah sekali bahagia hanya untuk hal karena kecil.”


Pemuda menaruh ponselnya kemudian kembali membaca naskah dialognya.


Batu besar yang mengganjal di hati Tirta seketika hilang saat mendengar suara girang Arini. Apalagi gadis ini akan datang ke lokasi syutingnya, entah mengapa ia juga seolah tidak sabar menunggu kedatangan istrinya.


 


 


 


Waduh Arini bakalan datang lagi ke lokasi syuting, bakal heboh ngak ya? bakalan ketemu Kenzi lagi ngak ya.


sebenarnya dulu itu pengin pake nama dilan tapi ko keterusan jadi Tirta. satu bab kemari pakai nama Dilan tapi kok, jadi aneh malas lagi editnya jadi Tirta aja.


 


Like, coment, vote ....

__ADS_1


 


 


__ADS_2