
Jantung Arini semakin bergemuru. Aliran darah seakan berhenti mengalir, saat Tirta menggendong tubuhnya lalu membaringkannya ke ranjang. Sungguh dia belum mengerti tentang apa yang sedang terjadi antara dia dan idolanya. Mengapa ciuman tadi malah membawanya berlabuh di ranjang. Tirta merangkak naik menindih tubuh Arini, dengan ke dua tangan sebagai tumpuan. Setelah itu kembali mempertemukan bibirnya di bibir kenyal milik Arini. mellumatnya dengan rakus, membuat Arini kepayahan, merasa udara di rongga dada menjadi menipis. Akibat Tirta yang telah terbakar oleh gairah.
Bekapan bibir itu terlepas, kecupan-kecupan kecil turun ke ceruk leher putih milik Arini membuat gadis ini mengalihkan pandangannya dan mencoba meraup udara sebanyak-banyaknya.
“Kak Dilan.” Tangan Arini terulur menahan dada Tirta untuk berhenti mencuumbuinya.
Tirta mengangkat kepalanya, mempertemukan mata mereka hingga terasa deru napas memburu menyapu wajah Arini membuatnya meremang. “Ada apa?” Tirta menatap wajah memerah Arini yang terlihat semakin cantik mempesona, membuat mata yang memancarkan kilat gairah ini semakin menyala.
“Ini sudah terlalu jauh,” ucap Arini pelan, masih menganggap Tirta sebagai idola. Tidak pernah sedikit pun terlintas di benaknya jika hubungan mereka akan sampai di tahap intim. idola seperti Tirta tidak mungkin menginginkan tubuh gadis biasa sepertinya.
Tirta menatap dalam manik mata Arini, pandangan mereka tertuju. Degupan sepasang jantung semakin bergemuru hebat. Tirta menghela napas berat tersenyum miring.
“Aku adalah suamimu, aku berhak menyentuhmu dan malam ini aku menginginkanmu,” ucap Tirta kemudian membuka baju yang dia kenakan.
Deg ....
Arini tertegun debaran jantungnya semakin terpompa cepat, pikirannya berkelana jauh. Bayangan kegagalan malam pertama bersama Andra terniang kembali. Kali ini Dia akan menjalani malam pertama dengan suami ke dua. Lelaki ini telah meminta haknya sebagai suami. Dia tidak mungkin menolak suaminya karena itu adalah wujud bakti seorang istri.
Kecupan singkat di bibir membuat Arini tersadar. Menatap wajah tampan yang ada di atasnya, yang telah bertelanjang dada.
“Mulai detik ini, lupakan dia. Ingat aku ini suamimu! hanya aku yang boleh ada dalam pikiran dan hatimu,” tekan Tirta dengan nada posesif dan tatapan menghunus. Arini mengalihkan pandangannya ke samping. Menggigit bibir bawahnya kuat, tak sanggup menatap wajah tampan yang memperlihatkan dada bidang itu dari dekat. Tapi, Tirta adalah suami sah dan berhak atas dirinya bukan Andra lagi. Malam ini sebagai istri dia akan memasrahkan diri pada suami ke duanya.
Tirta yang telah terbakar gairah kembali mencumbui. Menjelajahi leher jenjang mulus milik Arini, mengecup, menghisap, menjilat di sana. Arini mencengkeram sprei kuat, menahan rasa menggelitik dalam diri. Memasrahkan tubuhnya dalam kendali suaminya.
Mata Arini membulat ketika tangan Tirta mulai menelusup masuk ke dalam pakaian yang dia kenalan. Meremmas lembut bongkahan dada yang tidak terlalu besar. Sebelah tangannya aktif bergeriliya meraba, mencoba membuka satu persatu kain yang membungkus tubuh istrinya.
Sungguh Arini sangat tegang dengan serangan yang di terima, hingga terus menggigit bibir bawahnya. menahan desahan nikmat yang di suguhkan. Ini adalah malam pertamanya dan Tirta terlihat sangat ahli, seolah sudah tidak sabar melahapnya. Mencumbuinya dengan begitu bergelora, sedangkan dia yang polos tidak bisa mengimbangi. Karena memang di pikiran Tirta, dia gadis yang berpengalaman sebab telah merasakan dunia pernikahan.
Tubuh polos Arini telah terpampang nyata. Tirta telah berhasil membuka semua pelindung tubuhnya, menatap kulit putih, mulus yang membuat gairah semakin tersulut oleh api birahi. Wajah Arini memerah menahan malu saat Titra menatap seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Puas mencumbui Arini, Tirta menegakkan badannya dan bertumpu pada lutut. Membuka pakaian bawah yang masih tersisa, Arini tertegun menelan salivanya susah payah melihat tubuh polos idola ralat suaminya, dengan bukti gairah telah tegak dan berdiri kokoh, wajah Arini memanas membuang pandangannya. Semua bagian dari tubuh idola telah dia lihat apakah dia harus bangga?
Tirta menarik sebelah sudut bibirnya saat menatap wajah Arini yang terlihat sangat tegang dan seakan tidak menikmati, bahkan tidak membalas setiap sentuhannya.
“Kenapa kamu sangat tegang? Kamu tidak yakin kemampuanku?” desis Tirta menatap wajah tegang Arini, merasa seakan Arini menolak sentuhannya dan masih berharap itu dari Andra. Padahal dia salah besar, ini adalah yang pertama bagi Arini.
Pemuda ini kemudian mendekatkan wajahnya di telinga Arini. “Malam ini aku akan memuaskanmu. Ini akan menjadi malam terbaikmu yang tidak akan terlupakan,” bisik Tirta tak luput mengecup telinga belakang Arini, menyapu dengan lidah, membuat tubuh Arini meremang dan semakin bergetar seakan tidak bisa bernapas.
Tirta membuka paha Arini mulai memposisikan diri mengecup sekilas bibir istrinya.
Tirta bertumpu dengan sebelah tangan. “Aku akan mulai, santai saja dan nikmati,” kata Tirta mengarahkan kejantananyaa ke inti Arini membuat gadis ini meremmas sprei kuat saat merasakan ada sesuatu yang mendorong untuk masuk.
“Ahhh,” pekik Arini merengkuh, mencengkeram kuat punggung Tirta yang mencoba menerobos memasukinya untuk pertama kali, Tirta pun meringis mendapatkan cakaran dari Arini, bersamaan dengan gagalnya dia menembus bagian bawah itu.
Tirta tak menghiraukan cakaran Arini kembali mencoba menghentak kuat. “Ahhh!” rintih Arini namun tidak berhenti, terus memaksa masuk. Tirta berpikir karena Arini sudah lama tidak melakukan penyatuhan lagi jadi sedikit sulit. Tirta terus memaksa masuk membuatnya semakin kesakitan.
Tirta menghentikan aksinya saat mendengar Arini mengeluh sakit. bulir-bulir keringat yang membasahi terlihat jika Arini merasakan sakit karenanya.
Pemuda ini mencoba menahan gairah yang telah berkobar. Alis Tirta berkerut dalam bertanya-tanya mengapa Arini merasa kesakitan dan mengapa sangat sulit menembus milik Arini, bukankah seharusnya mudah?
“Kenapa dia kesakitan? Mengapa aku tidak bisa menembusnya, dia seperti cewek pera ....” batin Tirta gumanya terhenti. Hingga otaknya berputar menemukan fakta jika gadis di bawah kungkungannya ini belum terjamah. Mata Tirta membulat dengan sesuatu yang coba dia simpulkan. Dengan jantung bergemuru Tirta menatap lurus Arini hingga pandangan mereka bertemu.
“Kamu belum pernah?” tanya dengan ragu-ragu dan tatapan bingung. “Aku yang pertama?” tambahnya menatap Arini dengan wajah penasaran.
Arini mengangguk pelan diiringi kelopak mata tertutup sayu tanda mengiyakan, jika Tirta adalah lelaki pertama baginya.
Tirta tertegun tubuhnya seakan limbung dengan jawaban Arini bagaimana bisa? Arini sudah menikah dengan kakaknya namun masih perawan? Dia lelaki pertama bagi Arini. Hubungan apa yang Arini miliki dengan kakaknya? Apakah kakaknya bukan lelaki normal? Begitu banyak pertanyaan berputar di kepalanya. Ada apa dengan kakaknya? Mengapa dia tidak menyentuh Arini. Gadis yang ia cintai masih suci? Entah bagaimana perasaannya saat ini haruskah ia senang atau sedih dengan nasib pernikahan Andra dan Arini?
Pantas saja Arini begitu tegang dengan sentuhannya ternyata ini yang pertama untuknya.
__ADS_1
Tirta merengkuh tubuh yang ada di bawahnya ingin sekali mengucapkan kata Maaf namun tidak bisa dia ungkapkan. Mengingat semua perlakuannya pada Arini. Selalu mengejek mengira Arini menginginkan tubuhnya. Banyak lagi kata-kata ketus dan selalu menyinggung Arini ternyata dia salah.
Tirta semakin merengkuh tubuh Arini cipratan gairah kembali menerjang. Bahkan cinta, sayang, itu semakin berlipat-lipat menyeruak dalam hatinya. Tirta memulai mengecup kening, mata, pangkal hidung menjalar ke seluruh bagian wajah Arini dengan lembut, kini ia akan memuat Arini nyaman dan menikmati percintaan ini.
Tirta memangut bibir ranum Arini mengecap perlahan, memberikan kecupan-kecupan kecil, menyapu, menggoda dengan lidah agar mendapatkan balasan, melakukan dengan begitu lembut. Dan benar saya kelembutan ini membuat Arini terbuai dan mulai menyesap bibir bawah suaminya.
“Eugh ...”Arini melenguh melingkarkan tangganya di leher Tirta, mulai menikmati tautan bibir mereka, saling bertukar saliva menyesap hingga suara cecapan bibir itu terdengar dari mereka.
Tubuh Arini mulai panas, larut dalam gelombang gairah suaminya begitu memperlakukannya dengan lembut dan mendamba.“Ahhh.” Desah Arini saat kecupan lembut Tirta turun menyusuri leher mulusnya, menyesap, menjilat memberi tanda kemerahan di kulit putih itu dengan sabar Tirta melakukan bertahap menunggu Arini nyaman. Kecupan turun menyusuri dada Arini, bermain di sana merremas, menghisap membuat Arini menggelinjang menahan rasa tak dapat ia lukiskan seakan ingin terbang.
“Eugh ...”Tangannya menekan dan mencengkeram rambut belakang leher Tirta seraya mengeluarkan desahan yang membuat pemuda ini semakin bergairah mengecupi inci demi inci tubuh Arini.
Napas mereka telah terdengar berat, Setelah Arini larut dalam permainan dan siap, kini Tirta kembali mencoba untuk melakukan penyatuhan.
“Aku akan melakukannya, Tahan sebentar, ini memang akan sedikit sakit,” ucapnya diangguki oleh Arini yang kembali tegang.
Tirta mengecup kening dan bibir Arini beberapa kali, lalu kembali pemposisikan dirinya.
Arini memejamkan mata ketika, Tirta perlahan mendorong ke pusat intinya berusaha menerobos untuk masuk.
“Ahhhh!” rintih Arini merasakan inti tubuh seakan terobek membuat Tirta mengecup seluruh wajah Arini, menyalurkan perasan sayang agar membuatnya tenang.
“Tahan sebentar saja.” Tirta terus menerobos benar-benar sulit dan sempit. ia juga merasakan miliknya berdenyut perih. dan kali ini dengan sekali sentakan kuat dan keras dinding itu akhirnya terkoyak titik darah mulai merembes.
“Ahhh,” pekik Arini kesakitan, semakin mencakar punggung Tirta. Bulir kristal menetes melalui ekor matanya. Saat merasakan sesak, penuh, sakit berbaur menjadi satu di inti tubuhnya. Tirta berhenti sejenak membiarkan miliknya tenggelam. Merasakan hangat serta pijatan dari pusat inti Arini. Tirta mencium seluruh wajah Arini dengan sayang untuk mengalihkan rasa sakitnya, darah yang menetes kini telah menjadi tanda dia telah memiliki Arini seutuhnya, bahkan menjadi bukti dia adalah lelaki pertama bagi Arini. Tirta mendelik menatap Arini, dia usap Air mata yang mengalir, merengkuh dengan sayang yang membuncah.
Setelah Arini tenang Tirta mulai menggerakkan pinggulnya perlahan seraya memangut bibir istrinya, menggantikan sakit itu menjadi kenikmatan yang membawa mereka melayang.
Di bawah kungkungan Tirta rintihan kesakitan telah berganti menjadi erangan, desahan kenikmatan dari pasangan yang menikmati malam pertamanya.
__ADS_1