
“Kak Dilan tolong buka pintunya. Saya minta maaf. Saya tidak bermaksud menyamakan kakak dengan mas Andra.”
“Kak Dilan! Buka pintunya, Jangan marah. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi!” Suara Arini di balik pintu.
Tirta berada di dalam kamar duduk menyandarkan punggung di puncak ranjang king size miliknya. Menatap nanar ke arah pintu, tangannya mencengkeram erat guling yang berada dalam pelukannya saat mendengar suara Arini balik pintu yang mengetuk dan memanggil-manggil namanya. Ada rasa iba dan perasaan yang tersayat mendengar gadis itu mencoba meminta maaf namun saat sekelebat bayangan Andra menari di pikirannya, kekesalan kembali menguasai dirinya.
“Dia menyamakan aku dengan kak Andra.” Tirta menggerutu kesal semakin mencengkeram bantal meluapkan emosinya.
Pemuda ini mendengkus tersenyum miring. “Dia pasti sedang memikirkan mantan suaminya itu.” Tirta berdecak kesal.
“Ahhhh.” Tirta mengeram mengacak rambutnya prustrasi. Ia sangat tidak suka Arini mengingat Andra mantan suaminya itu. Dia juga tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, sebenarnya apa yang membuatnya marah pada Arini karena gadis itu menyamakannya dengan Andra atau karena Arini menyebut nama Andra seakan sedang mengenang kenangan bersama mantan suaminya. Entahlah saat ini perasaannya sedang kesal saja.
Tirta menghempaskan tubuhnya di ranjang. Berbaring terlentang menatap langit-langit kamar. Memori lamanya kembali terbuka kenangan bersama kakaknya kembali berputar bak roll film.
“Kak Andra bantu Tirta belajar ya biar biasa dapat nilai yang bagus, sama seperti kakak,” pinta Tirta kecil pada kakak tersayang yang usianya terpaut dua tahun.
“Sini, kakak ajarin.”
Ya kenangan kekompakan sebagai kakak-adik yang saling membantu dan menyayangi itu terkenang di pikirannya.
Sekilas potongan memori kembali mereka. Saat hari pengambilan hasil belajar adalah hari paling yang tidak di sukai Tirta.
“Dek peringkat berapa?” tanya Andra yang selalu menunggu hasil adiknya dengan tidak sabar.
“Peringat dua,” Jelas Tirta tertunduk lesu.
“Bagus dek, naik, dulu 3 sekarang 2. Nanti pasti satu,” ujar Andra mengusap kepala Tirta memberi semangat pada Adiknya tersayang, ia tahu bukan itu yang di harap Tirta.
“Ayo, kakak belikan ice cream dan jajan apa-pun yang kamu mau,” bujuk Andra menenangkan hati Tirta dan benar Tirta seketika tersenyum.
Andra dan Tirta berdiri tak sengaja mendengar obrolan orang tua mereka di dapur.
“Andra juara umum dan dapat beasiswa,” ujar Hasan menggebu.
__ADS_1
“Iya, yah. Ibu juga bangga tadi terima hasil Andra di sekolah.” Timpal Ana tidak kalah senangnya.
“Bagus dia memang selalu membuat kita bangga,” tambah Andra.
“Ia, yah. Semoga Tirta juga bisa seperti Andra.”
“Hari ini ibu, masak masakan kesukaan Andra ya,” titah Hasan. “Ayah juga mau beli hadiah untuknya, karena sudah menjadi juara umum dan membanggakan nama keluarga,” tambahnya.
Ya itulah yang selalu terjadi pada Tirta. Hari pengumuman nilai sekolah adalah hari yang akan selalu menjadi terkelam bagi Tirta dan itu terus terjadi hingga Tirta tumbuh besar dengan kalimat contoh kakakmu Andra. Dan pada akhirnya dia pun muak dan pergi dari rumah.
Tirta menarik napas berat mengingat semuanya. Dia akui hubungannya dengan Andra memang baik. Ia tahu kakaknya itu sangat menyayanginya melebihi apa-pun.
Kelopak mata Tirta mulai sayu, rasa kantuk mulai menyerangnya kini dia akan terlelap namun suara ketukan di pintu membuat matanya kembali terbuka.
Tok ... tok ....
“Kak Dilan buka pintunya. Tolong izinkan saya masuk.” Lagi-lagi Arini mencoba untuk membujuk Dilan.
“Itu bocah gigih juga,” batin Tirta namun rasa kantuk sudah tidak dapat ditahan. Dia menarik selimut dan semakin memeluk gulingnya mencari posisi ternyaman, seraya menutup mata tidak menghiraukan Arini lagi masih setia berdiri di depan pintu.
“Kak Dilan!”
“Baiklah!”
Suara Arini terdengar putus asa dari balik pintu. “Kalau kakak tidak mau membuka pintunya, saya hanya mengingatkan jangan lupa pakai skin care sebelum tidur,” pesan Arini.
Tirta telah terlelap masuk ke dalam alam mimpi, ia tidak melakukan pesan Arini.
Sementara Arini yang berdiri di depan pintu kembali ke kamar dengan napas berat serta langkah tak bersemangat.
__ADS_1
Ya elah Arini orang sudah ngambek sempet-sempetnya masih juga di ingatkan pakai skincare.
__ADS_1
s