
Bintang telah bertaburan menghiasi langit malam. Sepulangnya dari makam Andra, tanpa menunggu lagi Tirta langsung menuju ke rumah ayahnya. Mengabaikan rasa lelah setelah menempuh perjalanan panjang. Demi rasa keingintahuan yang besar tentang misteri kematian Andra yang coba di sembunyikan ayahnya selama bertahun-tahun.
Kendaraan telah masuk ke dalam carport kediaman Abraham. Rian mematikan mesin mobil. Menatap Tirta yang memasang wajah dingin telah siap turun.
“Kau tunggu saja di sini!” Tirta membuka pintu mobil.
“Lan!” Rian memegang pundak Tirta membuat pergerakan itu terhenti. “Aku hanya ingin mengingatkan tahan dirimu,” pesan Rian tidak ingin sahabatnya membuat keributan.
Tirta hanya menjawabnya dengan anggukan pelan lalu keluar.
Pemuda dengan amarah menggebu ini telah masuk ke dalam rumah. Di sambut dengan beberapa pelayan yang memberitahukan jika ayahnya sekarang beristirahat di kamar. Tirta pun menunggu di ruang tengah setelah memerintahkan pelayan untuk memanggil ayahnya untuk bertemu dengannya.
Tak beberapa lama menunggu terlihat ayah dan ibunya turun dari tangga menghampirinya. Tirta menghela napas melihat ibunya juga ada dan akan tahu semuanya.
“Tirta!” sapa Ana alisnya mengerut dalam melihat putranya datang di malam hari dan ingin bertemu mereka.
Pemuda ini hanya memasang wajah dingin melangkah tak sabar mendekat, mengikis jarak di antara orang tuanya.
“Apa yang ayah lakukan pada kak Andra?” tanya Tirta langsung ke inti masalah tidak peduli jika ibunya tahu.
Hasan menjadi gelagapan, jantungnya berdentam kencang saat Tirta membahas rahasia yang selama ini dia tutupi rapat.
“Apa maksudmu?” balas Hasan masih mencoba tenang membuang pandangannya tidak ingin manik matanya terbaca.
“Jangan pura-pura tidak tahu!” suara Tirta meninggi membentak ayahnya membuat Ana yang berada di antara mereka tersentak.
“Tirta!” Ana menyela menganggap putranya sudah tidak berlaku sopan meninggikan suara pada orang tua.
“Ayah belum mau mengaku! Aku sudah tahu semua dari keluarga asisten Andra yang ayah suruh menutup mulut!”
Seketika wajah Hasan memucat mendengar pengakuan Tirta. Tidak menyangka kini rahasianya telah terbongkar.
__ADS_1
“Katakan semua apa tujuanmu melakukan itu semua!” Tirta maju mencengkeram kerah baju yang ayahnya kenakan membuat Ana tersentak melihat amarah putranya.
“Tirta!” Ana mendekat hendak melepaskan tangan putranya namun cengkeraman itu tidak melonggar sedikit pun sementara Hasan menundukkan pandangannya tanpa membela diri.
“Katakan! Sejujurnya mengapa kau menyembunyikan kematian Andra!” bentak Tirta dengan amarah.
Tangan lembut Ana yang memegang legan Tirta tiba-tiba terkulai lemas. Tirta melepaskan cengkeram tangannya saat melihat ibunya terpaku terlihat terpukul. Hasan hanya bisa diam menyesali perbuatannya.
“Kematian Andra!” lirih Ana membatu menatap kosong. Jiwanya terguncang saat mendengar putra pertamanya ternyata telah meninggal.
“Ada yang ibu harus tahu! Sebenarnya kak Andra telah meninggal dalam kecelakaan dua tahun lalu dan ayah telah membohongi semua orang! Dia memberikan harapan kalau kak Andra akan kembali! Nyatanya ayahlah sendiri yang menguburkan kak Andra!” jelas Tirta membuat air mata Ana kini meleleh seorang ibu kehilangan putranya tampan melihat jasadnya untuk terakhir kalinya.
“Apa benar itu mas?” tanya Ana suaranya bergetar dengan mata bak anak sungai yang terus mengalirkan air mata kesedihan tanpa bisa di bendung.
Hasan hanya tertunduk diam.
“Mas! Apa benar yang di katakan Tirta!” Kini Ana yang membentak suaminya meminta penjelasan.
Hasan meraih tangan istrinya. “Maaf Ana! Aku terpaksa berbohong menutupi semua ini,” sesal Hasan.
“Ana maafkan aku!”
Ana menipis tangan suaminya kekecewaan menggunung dalam hatinya.
“Aku terpaksa melakukan semua ini, karena sejak Arini masuk ke dalam rumah kita, kesehatan ibu membaik. Aku tidak ingin Arini pergi setelah tahu Andra tiada. Arini pasti akan meninggalkan rumah setelah Andra telah tiada. Aku ingin Arini selalu berada di samping ibu,” jelas Hasan akan tujuannya menyembunyikan kematian Andra.
“Mas!!!” Darah Ana semakin mendidih mendengar alasan suaminya. Mengingat Arini yang malanglah menjadi korban di sini.
Tirta mengepalkan tangan menahan amarah akan alasan itu, ayahnya mengambil keuntungan atas hadirnya Arini. Gadis polos yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korban.
“Apa tidak ada rasa iba dalam diri mas saat melihat Arini yang bertahun-tahun bertahan, menunggu suaminya kembali! Ternyata suami telah ....” Ana sudah kehabisan kalimat tentang penderitaan menantunya.
__ADS_1
“Ana maafkan aku,” rengek Hasan penuh penyesalan namun Ana hanya melangkah mundur semakin menjauh.
“Mas sudah menyakit hati seorang ibu. Karena mas Aku tidak melihat dan menyentuh putraku untuk terakhir kalinya! seharusnya aku memeluk tubuhnya,” raung Ana dengan tangisan memegang dadanya terasa sesak lalu pergi meninggalkan Hasan.
“Ana!” Hasan memanggil istrinya namun tidak di idahkan.
“Aku akan membawa Arini pergi dari rumah ini!” Tirta memasang wajah dingin.
Hasan berbalik mengarahkan manik mata kemerahannya.
“Tidak! Kamu hanya bisa menyakiti Arini!” geram Hasan.
Tirta menatap sinis. “Sudah cukup! Ayah memanfaatkannya! Dia hanya akan menderita tinggal di rumah ini! diakan lebih bahagia tinggal bersamaku!” hardik pemuda ini rasa hormatnya telah hilang.
Tirta hendak melangkahkan kaki namun di hadang oleh tubuh Hasan yang tidak ingin menantu kesayangannya pergi dari rumah.
“Jangan bawa Arini!” bentak Hasan.
Pemuda ini mendesak kesal tidak akan gentar demi memperjuangkan cintanya.
“Kenapa? Jangan lupa Arini adalah istriku! Aku berhak membawanya tinggal bersamaku!” tekan Tirta membuat Hasan tak berkutik menyadari siapa yang paling berhak atas Arini yaitu suaminya.
Tirta lalu melangkahkan kaki menerobos tubuh ayahnya, menapaki anak tangga satu persatu dengan cepat, menuju kamar Arini untuk membawanya pergi dari rumah ini dan hidup bersamanya.
“Jangan Tirta mereka membutuhkan Arini,” pinta Hasan suaranya telah melemah kekuatannya menghilang tak berdaya menghadapi Tirta setelah semua yang telah dia lakukan.
Pemuda ini tidak memedulikan keinginan ayahnya kini dialah akan hidup bersama Arini selamanya. Dia yang akan membahagiakan Arini.
__ADS_1