Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
perasaan aneh


__ADS_3

Tirta dan Arini berada di  mobil dalam perjalanan menuju kediaman Abraham. Sepanjang jalan suasana hening tidak ada pembicaraan. Arini terkadang melirik sekilas pada pemuda yang hanya diam terlihat seperti memikirkan sesuatu.


Arini menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian bertanya, mungkin saja Tirta mau berbagi padanya. “Kak kenapa? Ada masalah?” tanya Arini karena setelah Rian berbisik pada sang artis, raut wajahnya menjadi berubah terlihat meresahkan sesuatu.


“Tidak,” jawabnya singkat tersenyum tipis pada Arini lalu kembali fokus pada jalan. Padahal dia sedang memikirkan tentang kabar Andra.


Begitu banyak kemungkinan menyelusup di hati tentang Andra. Dan bagaimana perasaan Arini jika mengetahui kabar Andra cintanya?Jika itu kabar baik dan Andra kembali, apa Arini akan meninggalkannya? Ah ... rasa panas dalam hatinya menjalar memikirkan itu. Dia tidak akan melepaskan Arini untuk kakaknya. Namun jika kabar Andra telah tiada apakah Arini bisa menerimanya dengan ikhlas. Bukankah  penantian panjangnya akan sia-sia? Sungguh sangat miris hati gadis ini pasti hancur.


Tirta mengarahkan pandangannya pada Arini. Apa-pun kabar dari Andra mau baik mau pun buruk. Dia tidak akan mengungkapkannya, dia tidak ingin Arini bersedih dan mengingat kakaknya lagi. Hanya dia yang boleh berada di samping Arini. Kini dia hanya perlu membiasakan Arini untuk menerimanya dan memandangnya sebagai suami bukan idola lagi. Walau pun sangat sulit merubah pandangan istri rasa fans itu.


Mobil menepi, kini mereka telah sampai di depan gerbang kediaman Abraham.


Arini membuka sabuk pengamanan yang membelenggu tubuhnya. “Kakak ngak mampir,” tawar Arini.


“Aku harus kembali syuting,” jawab Tirta menatap wajah cantik Arini.


“Setelah urusanku selesai, aku akan bicara pada mereka, jika aku tidak menyakitmu.” ucap Tirta yang di angguki oleh Arini.


“Saya masuk dulu kak,” pamitnya namun sebelum keluar dari mobil. Seperti biasa tangan Arini terulur untuk menjabat tangan suaminya lalu mencium punggung tangannya.


“Selain salim, sekarang kamu juga harus terbiasa menciumku,” ucap Tirta menepuk-nepuk pipinya dengan jari telunjuk di sertai senyum seringai menghiasi wajah tampannya.

__ADS_1


Mendengar itu Arini membulatkan mata seraya menelan salivanya dengan susah payah. Dia diminta untuk mencium pipi putih mulus artis idolanya.


“Cium,” ulang Arini menatap lekat pipi putih mulus yang terjaga dengan skin care mahal itu.


“Iya, cepat!” paksa Tirta mendekatkan pipinya.


“Mencium kakak!”  tanyanya lagi memastikan apa benar idolanya meminta ciuman darinya.


Tirta mengangguk yakin.


Oh tuhan mimpi apa dia di suruh mencium artis idolanya.


“Memangnya kenapa? kalau kamu menciumku. Aku suamimu dan kamu istriku, Tubuhku ini milikmu. Kamu harus terbiasa menyentuhku.”


Duh ... Arini selalu saja terlupa jika pemuda tampan yang ada  di sampingnya ini adalah suaminya.


“Cepat!” desaknya.


Tenggorokan Arini semakin kering, jantungnya bergemuru sumpah demi apa-pun dia sangat gugup, berdekatan dengan idolanya saja membuatnya ingin pingsan apalagi menciumnya lebih dulu.


Sungguh keberuntungan bagi fans seperti Arini.

__ADS_1


Sebelum memulai aksinya, Arini mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Sungguh dia tidak rela pipi berskin care mahal idolanya ini tersentuh bibir fans remahan sepertinya. Lagi jiwa  norak artis Arini kembali bangkit.


Dengan ragu-ragu Arini menahan napas memajukan wajahnya mendekat pada Tirta yang telah siap menerima ciumannya.


Cup ... Arini telah mendaratkan bibirnya di pipi Tirta.


Tirta tersenyum puas memperlihatkan deretan gigi putih dan ratanya. Rasa bahagia menyeruak dalam hati.


Sejenak pandangan mereka bertemu. Wajah Arini yang merona malu semakin mempesona membuat Tirta tidak dapat menahan diri lalu menarik tengkuk Arini, menyambar bibir ranum gadis ini. Menyesap manisnya dengan kelembutan, membuat Arini hanya menutup mata, menahan napas seakan ada sebuah rasa yang ingin meledak dari dirinya. Awalnya hanya kecupan kecil tak lama Ciuman lembut, semakin dalam setelah mendapatkan balasan dari Arini. Ya Arini membalas ciuman Tirta. Mereka saling  Mellumat, mengulum. Arini terbuai suara leguhan terdengar membuat Tirta semakin terbakar. Deru napas mereka terdengar berat dari Tirta seolah gairah telah menguasai dirinya.


Tirta tersadar, jika mereka berada di dalam mobil dan di depan kediaman orang tuanya. Ia pun melepaskan tautannya. Menempelkan keningnya di kening istrinya. Dengan dada kembang kempis mereka mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Akibat ciuman menggelora Tirta. Pemuda ini tersenyum tipis mengusap bibir basah Arini dengan ibu jari setelahnya mengecup kening Arini dengan sayang.


"Kamu harus sering-sering cium aku!ingat aku suami," kata Tirta.


Arini tersentak, saat ingatannya kembali bahwa dia membalas ciuman Tirta dengan bergelora, detak jantungnya terpompa. Ia seperti terhanyut dalam sebuah perasaan. Sesuatu yang tidak seharusnya di lakukan pada pemuda di hadapannya, sebuah rasa aneh yang untuk ke dua kalinya di rasakan, rasa yang sama seperti berada di dekat Andra dulu.


Tanpa kata Arini membuka pintu mobil kemudian turun.


"Arini!" panggil Tirta menatap heran pada Arini pergi tanpa pamit.


Arini berjalan masuk melangkah cepat memegang dadanya yang berdegup kencang setelah menerima ciuman dari Tirta, serasa aja jutaan kembang api meledak dalam hatinya. Dia membalas ciuman Tirta dengan begitu bergelora.  Ada apa dengannya dan perasaannya mengapa jantungnya berpacu cepat.

__ADS_1


 


__ADS_2