
Erangan, desahan memenuhi ruang kamar yang menjadi saksi, percintaan pasangan yang sedang menjalani malam pertama. Hentakan kenikmatan terus menghujam, berpacu semakin cepat mengejar kenikmatan puncak yang membawa melayang ke nirwana.
“Ahhhh,” erangan panjang terdengar dari keduanya saat Tirta menyentak dalam-dalam, mengisi rahim Arini dengan cairann cinta.
Tubuh Tirta limbung di atas Arini dengan keringat bercucuran dan napas terengah-engah dari keduanya. Tirta semakin merengkuh tubuh Arini. Mengarahkan wajahnya di telinga Arini.
“Terima kasih atas malam berharga ini,” bisik Tirta di telinga Arini. Setelah itu kembali mengecup seluruh bagian bawah istrinya dengan sayang. Sedangkan Arini hanya diam. Debaran jantungnya terus menggila membuat Arini lemas saat menerima setiap sentuhan dari suami idolanya yang dari terus mencumbuinya dengan lembut.
Tirta menarik diri melepaskan penyatuan mereka. Setelahnya berbaring di samping Arini.
Arini hanya tertegun, mengurai apa yang telah terjadi antara dia dan idolanya. Arini tersentak saat sang artis membawa tubuhnya, masuk ke dalam pelukan Tirta, merasakan kehangatan dada bidangnya. pemuda ini menjadikan lengannya sebagai bantal lalu menarik selimut menutupi tubuh polos mereka. Arini menyembunyikan wajah merona malu dalam pelukan suaminya. Merasakan suara detak keras irama jantung Tirta yang sama seperti miliknya.
Tirta mengecup puncak kepala Arini berkali-kali, sungguh dia sangat bahagia setelah melakukan malam pertama bersama Arini. Apalagi dialah laki-laki yang berhasil mengambil kesucian Arini. Namun begitu banyak pertanyaan di hatinya? mengapa Arini masih belum terjamah padahal telah menikah dengan kakaknya?
“Katakan,” ucap Tirta memecah kebisuan di antara mereka.
Arini yang terbekap dalam pelukan mendongak menatap suaminya.
“Apa kakakku impoten?” tanya Tirta, hanya itu yang bisa dia simpulkan ketika seorang lelaki bisa menahan diri tidak menjamah gadis cantik, polos seperti Arini.
Arini menggeleng dalam pelukan Tirta. “Tidak.”
“Lalu mengapa dia tidak menyentuhmu?” tanyanya dengan wajah penasaran.
__ADS_1
“Apa kamu berbohong padaku? Kamu bilang setiap malam Andra akan menggendongmu ke ranjang, menciummu dan ....” Suara Tirta tertahan mengingat ucapan Arini tentang semua perlakuan itulah yang membuatnya mencinta Andra. ungkapan yang saat itu juga membuat hatinya menjadi panas. begitu pun saat ini, membayangkan Andra mencium Arini kembali rasa cemburu melikupi.
“Mas Andra memang selalu melakukan itu setiap malam. Tapi, dia tidak bisa melakukan lebih pada saya?” jelas Arini.
“Memang kenapa?” Tirta semakin penasaran mendengar cerita Arini.
Arini terdiam sejenak mengenang hari bersama Andra bagaimana ia belum bisa menjadi istri yang sempurna bagi Andra. “Saat hari pernikahan kami, waktu itu saya sedang menstrulasi dan kami tidak melakukan malam pertama. Dia pun menunggu dengan sabar, menunjukkan kasih sayangnya, perhatiannya sebagai suami. Dia sangat baik dan perhatian. Kami hanya menjadi kebahagiaan suami istri selama beberapa hari. Waktu itu dia pamit ke luar kota beberapa hari, untuk mengurus masalah bisnis." Arini tediam sejenak mengenang hari menyedihkan dalam hidupnya.
"Pagi itu dia masih menelepon memberi kabar pada saya namun beberapa jam setelahnya, ayah mendapatkan kabar dia kecelakaan. Entah bagaimana nasibnya apa dia masih hidup atau sudah tiada. hingga menghilang kami belum melakukannya, dia tidak kembali ....” tutur Arini dengan suara bergetar sedih mengingat cerita kepergian Andra yang menghilang tanpa kabar.
Tirta menarik menghela napas berat, mengusap lembut puncak kepala Arini. Entah dia harus senang atau sedih. Di satu sisi dia bahagia karena menjadi lelaki pertama bagi Arini, di sisi lain merasa miris dengan nasib pernikahan mereka. Gadis di dalam pelukannya ini benar-benar menderita. Dia merasa miris dengan derita panjang yang di tanggung Arini. Bagaimana perempuan ini terus menunggu seorang suami tanpa kepastian selama dua tahun lamanya namun tetap bersabar dalam cinta.
Tirta mengurai pelukannya, berbaring miring menatap wajah Arini yang mengeluarkan buliran air mata. Tirta menangkup wajah Arini menyeka bukti kesedihan itu. Manik mata mereka bertemu.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari namun Arini yang bergelung dalam pelukan Tirta belum juga bisa menutup mata. Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, jantungnya terus berdebar seakan tak percaya apalagi dari tadi Tirta selalu mencium puncak kepalanya berkali-kali. Fans seperti dirinya berbaring di peluk idolanya sungguh dia ingin berteriak jiwa norak artis itu kembali meronta-ronta.
“Kamu belum tidur?” tegur Tirta saat merasakan Arini terus bergerak dalam dekapannya dan ia pun tidak bisa terlelap karena malam berharga yang mereka lewati apalagi ia laki-laki pertama untuk Arini hingga saat ini dia masih takjub tentang takdir indah tuhan.
“Belum kak?” sahutnya.
“Kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Saya ngak bisa tidur di peluk artis idola seperti kakak?” gemas Arini kembali jiwa norak artisnya berkibar.
__ADS_1
Tirta menghela napas berat, memutar bola mata malas bahkan setelah percintaan indah yang mereka lalui, pandangan Arini padanya tidak berubah, masih menganggapnya idola. Tirta mengendurkan belitan tangannya di pinggang Arini.
“Astaga segitu mempesona dan sempurnya kah aku untuknya. Aku bukan malaikat yang tidak bisa jatuh cinta. Apa aku hanya pantas bersanding dengan bidadari,” decak Tirta dalam hati putus asa.
“Idolamu ini kan suamimu, Aku akan selalu tidur memeluk istriku. Kamu harus terbiasa!” tekan Tirta.
Blus ...
Pipi Arini merona mendengar kata-kata manis Tirta lalu berbalik memunggungi Tirta sungguh dia seakan tidak bisa bernapas mendengar ucapan idolanya yang membuatnya seakan terbang ke awan.
Tirta tersenyum miring, mendekatkan tubuhnya pada Arini melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Arini.
“Kamu istriku. kelak kamu akan menjadi ibu dari anak-anakku,” bisik Tirta dengan napas yang terdengar kembali memburu.
Deg ...
Suara ludah tertelan terdengar dari Arini. Tubuhnya menegang seakan darahnya berhenti mengalir. Deru napas gairah yang menyapu tengkuk lehernya membuat tubuhnya meremang. Sepertinya suaminya kembali menginginkannya.
Maaf lagi oleng maklum jumat ....... entar kalau otak lancar up date banyak lagi. Ini juga aku cerita apa yahh ....
__ADS_1