Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
anugerah terindah


__ADS_3

Sepulangnya dari makam Andra, Tirta menghawatirkan kondisi istrinya, yang sedang hamil, karena telah melalui perjalanan jauh. Walau pun Arini telah mengatakan baik-baik saja, namun Tirta masih tetap memaksa untuk memeriksakan kehamilan ke dokter kandungan, padahal sebelum pergi mereka sudah menghubungi dokter terlebih dahulu untuk berkonsultasi, kini pulang pun sama Tirta kekeh untuk melakukan periksa lagi. Sekaligus memastikan sesuatu.


Kini mereka telah berada di depan ruang pemeriksaan menunggu giliran. Tak beberapa lama menunggu kini tibalah giliran mereka.


Pasangan ini telah berada di hadapan dokter wanita bernama Anita. Sesuai dengan bimbingan dokter, Arini berbaring di ranjang karena akan melakukan proses Usg untuk melihat kondisi rahim.


“Keadaan janinnya baik-baik saja, semuanya bagus,” ucap Dokter Anita. Arah pandang mereka menatap takjub layar monitor.


“Sekarang terlihat jelas, ada dua kantung janin di rahim ibu Arini,” tambah dokter Anita seraya mengulas senyum.


Mendengar itu senyum terkembang dari keduanya. Sungguh kabar yang sangat membahagiakan.


“Jadi sekarang sudah jelas dok istri saya mengandung janin kembar?” tanya Tirta dengan antusias.


“Iya pak.”


“Sayang kita akan punya dua anak,” katanya bangga pada Arini dan di balas anggukan serta tetes air mata haru dari Arini. Rasanya ingin berteriak mendapatkan anugerah dua anak sekaligus.


“Tolong di jaga kondisinya dengan baik, jaga pola makan. Makan makanan yang sehat dan bergizi, minum vitamin, tidak boleh stres. Peran suami juga sangat penting di sini.” jelas Dokter Anita.


“Baiklah dokter.”


Mereka pun menanyakan beberapa pertanyaan seputar kehamilan, apalagi pengalaman mengandung bayi kembar.

__ADS_1


****


Pasangan ini telah berada di dalam mobil senyum kebahagiaan terus terkembang dari bibir mereka. Sungguh berita membahagiakan. Akan memiliki dua anak sekaligus. Arini terus tertunduk menatap perutnya, seraya mengelusnya lembut. Tidak menyangka jika sedang mengandung janin kembar.


“Semoga dia tumbuh sehat dan lahir dengan selamat,” kata Tirta ikut mengelus perut Arini, sebelah tangannya lagi memegang stir kemudi.


“Saya sudah tidak sabar mereka lahir,” tambah Arini.


“Iya, pasti lucu punya anak kembar. Mereka akan mengenakan pakaian yang sama.” Tirta tersenyum gemas membayangkan semuanya. Obrolan anak kembar membuat mereka sangat antusias.


“Karena aku libur? Kamu mau jalan-jalan. Kita ke mall?” tawar Tirta karena ibu hamil harus bahagia tidak boleh stres. Maka dia mengajak Arini untuk refresing, Lagi pula setelah film jodoh pilihan kakakku dia sudah tidak punya peran lagi hingga waktu sepenuhnya hanya untuk Arini.


Arini terdiam sejenak memikirkan tawaran Tirta hingga tercetuslah. “Bolehkah kita ke rumah ayah. Saya ingin bertemu nenek,” ucap Arini ragu-ragu karena suaminya sangat sentifiv  jika mengenai keluarga.


“Ke rumah ayah?” manik matanya menatap Arini lekat.


Arini mengangguk yakin, dia merindukan nenek Nani yang selama ini hanya terhubung melalui sambungan telepon.


Tirta terlihat berpikir. “Baiklah. Kita akan ke sana.”


Arini semakin menarik napas lega, berharap saat di sana mereka akan memperbaiki hubungan mereka yang renggang.


Kini Tirta akan menjadi orang tua juga, ia ingin mencoba memperbaiki hubungan bersama keluarganya. Apalagi saat ini Arini telah mengandung pasti membutuhkan dukungan dari keluarga. Bagi Tirta tidak ada gunanya lagi menyimpan kebencian.

__ADS_1


Tirta pun mengarahkan kendaraan mewahnya menuju kediaman orang tuanya.


Jeng kunti: Tunggu! Tunggu! Salfok thor!!!


Dinda: bisa ngak ganggu ngak sih!! salfok mulu. Diam napa?


Jeng kunti: author galak banget. Mau tanya itu mereka punya bibit kembar ngak? Kok anaknya bisa kembar?


Dinda: ya elah biarin aja! kenapa sih jeng. Diam napa! biar kaya yang lain punya anak kembar yang ngak jelas asal usulnya.


Jeng kunti: buset! Cuma biar sama cerita tetangga. Dasar latah banget, ngak boleh gitu. Memang situ sudah siapin nama? Cari nama satu saja belum nemu malah di kasih anak kembar.


Dinda: makanya bantu mikir dong. Please jeng! Demi samaan hih mah tetangga!


Jeng kunti: Ogah!!! Mikir sendiri! makanya jangan ikut-ikutan puyeng deh loh.


Dinda: tega kamu jeng. Kasihanilah diriku. Ntar aku malu ...


Jeng kunti: kasi nama aja tuh anak kembar, celingak-celinguk atau cengar-cengir, compang-camping atau jatuh-bangun.


Dinda: duh Kok jadi judul lagu sih jeng. yaelah jeng jahat banget sih. Tolong napa jeng!


Jeng kunti: atau ini ichi-ocha.

__ADS_1


Dinda: mampus dah gue, pusing dah cari nama.


__ADS_2