Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
kerja keras Tirta


__ADS_3

Tirta berada di sebuah taman tempat yang merupakan lokasi syuting sinetron yang sedang ia bintangi saat ini. Pemuda tampan ini duduk di dalam mobil dengan tangan memegang lembar naskah menunggu giliran untuk syuting seraya mengamati kru film yang terlihat dari kejauhan.


“Lan, kamu ngak bawa sepatu. Aku cari ngak ada,” tanya Rian sahabat sekaligus asistennya.


Tirta mengarahkan pandangannya pada Rian yang mengobrak-abrik bagian belakang mobil.


“Ada, coba cari baik-baik,” ucapnya karena semua telah di persiapkan Arini sesuai catatan.


“Ngak ada satu pun di mobil kamu,” jelasnya kemudian menghentikan aksinya.


“Masa sih,” pemuda ini seolah tidak percaya karena selama ini Arini tidak pernah melakukan kesalahan.


“Lihat sendiri, kalau ngak percaya.”


Tirta mengarahkan pandangannya pada tempat yang di tunjuk oleh Rian dan benar hanya ada pakaian. “Dasar tuh bocah, katanya semuanya sudah di siapkan, kenapa bisa ketinggalan,” gumam Tirta mengingat jika tadi pagi Arini bergegas meraup pakaiannya keluar dari kamar dan melupakan sepatunya.


“Aku akan pulang mengambilnya. Sepatu itu penting,” cetus sang asisten.


“Jangan! Ngak perlu,” tolak Tirta dengan cepat saat ini di rumahnya pasti ada Arini.


Rian menatap aneh Tirta, yang beberapa hari ini tidak ingin rumahnya dikunjungi membuatnya penasaran, merasa ada yang di sembunyikan oleh artis ini.


“Biar aku yang urus, kamu tenang saja,” jelas Tirta.


Berjalan menjauh dari Rian kemudian merogoh ponselnya di saku celananya. Mengusap lembut layarnya dan menempelkan di telinga.


“Ya, kak.” Arini.


“Hei kau melupakan sepatuku!” sembur Tirta nadanya terdengar kesal

__ADS_1


“Saya udah siapkan semua kak,” sangkal Arini tak lama lagi terdengar suara.


“Ya tuhan, ia kak. Saya lupa tadi buru-buru keluar kamar, sepatunya ngak saya bawa.” Arini mengakui kesalahannya


“Dasar ceroboh.”


“Kamu kemari bawa sepatu, nanti aku sharelock alamatnya.”


“Baik kak.”


Panggilan telepon terputus. Pemuda ini memasukkan ponselnya di saku celana. Melangkah kembali ke tempat Rian yang duduk di kursi lipat masih menatapnya. Tirta duduk di dalam mobil dengan pintu terbuka.


“Pembantumu sudah kembali?” tanya Rian dan hanya di jawab dengan deheman oleh Tirta.


Tirta menarik napas berat sedikit merasa bersalah, karena pekerjaannya yang pulang larut malam, Arini yang tinggal di rumah juga merasakan kerepotan mengurusnya.


“Ian, aku ingin menguangi jadwal syuting malamku,” ucap Tirta pelan.


“Ha, kamu ngak lagi demam kan,” ledek Rian menaruh punggung tangannya di kening Tirta. Seketika pemuda itu menepisnya.


“Aku serius.”


Rian menatap wajah Tirta lekat, mencari gurat senyuman namun tak ia temukan. Tanda pemuda ini serius dengan perkataannya. Rian menyeret kursi lipatnya duduk berhadapan dengan Tirta yang duduk di kursi mobil untuk obrolan yang lebih serius ini.


“Kenapa orang tuamu udah mengakuimu sebagai anaknya? atau mereka telah memanggilmu pulang?” cibir Rian tahu bagaimana Tirta di mata keluarga hanya anak yang kepentingannya di nomor duakan oleh keluarga. Hanya kakak Tirta yang menjadi kebanggaan mereka dan pemuda ini selalu di anggap anak yang nakal.


“Aku hanya jenuh,” jelas menghembuskan napas berat. Tirta menatap jauh mengingat kilas balik kehidupannya. Saat kecil ia hidup sederhana, memiliki kakak yang kepintarannya luar biasa hingga semua perhatian hanya untuk kakaknya. Kebutuhan Andra yang selalu menjadi nomor satu, dan Ia hanya terus mendapatkan barang-barang bekas kakaknya. Dia bukanlah anak yang bodoh namun ia tidak bisa mengimbangi kakaknya yang terlahir jenius dan ia pun mengakui itu.


Luka itu membekas hingga dewasa dan parahnya ia selalu di banding-bandingkan dengan kakaknya mencontoh pribadi Andra yang membuat semakin muak. Dia menjadi anak nakal, memberontak dan terlihat semakin tidak berguna di mata orang tuanya hanya untuk menunjukkan protesnya, hingga akhirnya memutuskan meninggalkan rumah bertekad membuktikan jika dia juga bisa di banggakan.

__ADS_1


Bertahun-tahun ia bekerja keras demi membuktikan jika dia anak yang bisa sukses dan di banggakan.


Masuk dalam dunia keartisan dengan bekerja keras menjaga badan bahkan tidak lagi menyantap makanan kesukaannya, penampilan yang selalu terlihat sempurna, sopan santun, menjaga nama baik, kebebasan berada di mana pun sudah tidak ia miliki. Semua dia lakukan dan berubah menjadi orang asing,  hanya untuk pengakuan keluarga demi satu kalimat. Ayah bangga padamu. Saat itulah kerja kerasnya akan terbayar.


“Sejak kapan kau mengenal kata itu, kau sudah menjalani semua selama bertahun-tahun.” Rian mengingatkan bagaimana perjuangan Tirta mendapatkan  pengakuan keluarga.


“Kau bilang tidak akan berhenti bekerja keras sebelum orang tuamu mengakui, kalau kau juga bisa jadi orang hebat.”


“Tuh bocah kasian juga sendirian terus di rumah, malam-malam lagi. Ngak ada yang jagain, kasian juga liat dia begadang nunggu aku pulang,” batinnya ia dibalik sikap  galaknya yang di tunjukan pada Arini namun pemuda ini peduli dan perhatian.


“Hanya sebulan,” tutur Tirta entah mengapa tak tega meninggalkan perempuan yang ia anggap bocah kecil ini, sendirian di rumah terutama saat malam hari. Naluri sebagai bapak Arini kembali bangkit melihat gadis ini kesulitan mengikuti jadwal malamnya.


“Baiklah. Aku akan mencoba mengatur ulang jadwalmu. Sebulan ini aku tidak akan mengambil tawaran lagi,” tutur Rian memaklumi jika pemuda ini telah lelah bertahun-tahun bekerja keras pergi pagi pulang malam dan saatnya memberi sedikit kelonggaran. Rian tidak tahu jika sang artis melakukan semuanya demi menjaga istri titipan keluarganya.


.


.


.


.


.Kasian banget Tirta  Kita senasib apalagi kalau di bandingin ma anak tetangga itu nyesek banget😭. Apalagi kalau bulan puasa emak nonton hafis Quran. Udah tambah nyesek🤧.


“Lihat tuh anak orang masih kecil udah hafal Quran.”


Rasanya aku juga mau bungkus baju kaya Tirta. Tapi aku jadi ngak artis ya kalau pergi dari rumah? Tapi aku ngak bisa jaga body, aku ngak bisa diet. Apalagi ngak makan nasi.🤧


Kok jadi curhat sih.🙄

__ADS_1


Like, Coment, vote.....🤣🤣


 


__ADS_2