Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
berita buruk


__ADS_3

Tangan Arini terulur mengarahkan remote teve ke arah benda persegi yang ada di hadapannya, untuk mematikan saluran yang dia tonton. Sudah beberapa hari ini pemberitaan terus menyiarkan pernikahannya dengan artis Dilan Magika. Sekuat hati Arini tidak peduli isi berita yang menjelek-jelekkan dirinya namun dia tidak bisa terima jika karier Tirta sebagai artis top harus redup karenanya.


Arini bangun dari duduknya melangkah ke balkon kamar untuk mencari udara segar agar hatinya menjadi tenang. Telah berapa hari hidupnya juga kacau. Untuk menghindari kejaran wartawan, dia tidak ke kampus hanya terus berada di dalam rumah. Gadis ini menatap kosong pemandangan dari kejauhan. Dusta jika dia tidak merasa sedih dengan pemberitaan yang menyudutkannya, ujung hatinya sakit. Sebutan Perempuan murahan, penggoda, orang ketiga, bahkan di banding-bandingkan dengan Marsya Ayunda yang mereka tahu pacar Dilan Magika. Hujatan itu membuatnya merasa sangat rendah, tak memiliki kepercayaan diri, merasa tidak pantas untuk dekat dengan Tirta. Cibiran itu menjelaskan siapa dia dan siapa seorang Dilan Magika. Ah sungguh dia merasa hina berdampingan sang bintang.


“Maaf kak Dilan, karena saya kakak mendapatkan masalah. Menang seharusnya kita tidak bertemu. Siapa saya? hanya gadis kampung yang tidak pantas untuk dekat dengan kakak,” gumam Arini dengan setetes bulir bening membasahi pipi.


*****


Untuk beberapa hari Tirta berdiam diri di rumah Rian menenangkan diri, maupun menghindari kejaran wartawan yang meminta kejelasan tentang pernikahannya. Rian memang membuat pemberitaan itu berkembang tanpa klarifikasi. Tinggal bersama Rian adalah langkah yang tepat saat ini.


Tirta berada di dalam kamar, duduk di sofa dengan tangan mencengkeram remote teve melihat banyaknya pemberitaan miring tentang Arini. Mengapa Arini yang tersudut atas berita ini. perempuan perayu, orang ketiga dalam hubungan Dilan Magika dengan Marsya Ayunda dan banyak lagi. Tirta mematikan saluran teve dengan kasar.


“Apa-apaan mereka! membuat berita sampah seperti ini,” umpatnya.


Tirta lalu merogoh saku celananya menghubungi Arini agar tenang.


“Halo.” Tirta terdiam meresapi suara yang dia rindukan.


“Halo kamu tidak apa-apa kan?” tanya Tirta.


“Kak Dilan, maaf karena saya kakak dalam masalah.” Suara di seberang sana terdengar bergetar menahan tangis.


“Aku hanya mencemaskanmu! Jangan pikirkan berita sampah itu. Setelah semua tenang, aku akan menemuimu!”


“Sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi, itu tidak baik untuk kakak.” Suara isakan kecil terdengar.


“Kenapa kamu bicara seperti itu!” Tirta gelagapan bangun dari duduknya.


“Seharusnya kita memang menjaga jarak. Kakak adalah bintang dan saya tidak pantas dekat dengan kakak.”

__ADS_1


Tirta mendesah kesal mendengar ucapan Arini. Gadis ini pasti terpengaruh dengan berita di media.


Rian masuk ke dalam kamar membuat Tirta harus mengakhiri panggilan itu.


“Nanti aku hubungi lagi.” bisik Tirta lalu memasukkan ponselnya ke saku celana kembali duduk di sofa.


Tirta mengarahkan iris mata hitamnya pada Rian yang berdiri memasang wajah sedih dengan tangan kanan memegang amplop coklat.


“Lan ada yang ingin aku katakan padamu,” kata Rian sangat tegang.


“Pemutusan kontrak kerja sama!” tebak Tirta memasang wajah malas, karena pengakuan itu dia banyak kehilangan kontrak brand produk. Serta kerja sama lainnya.


“Bukan itu,” sela Rian entah dia harus memulai dari mana lidahnya keluh.


“Ini masalah Andra, keluarga asisten Andra telah mau membuka mulut dan menceritakan kejadian itu.”


Rian tertunduk. “Sorry Lan kalau kabar ini buruk bagimu.” Rian menarik napas panjang. “Ternyata benar Andra telah meninggal dunia dua tahun yang lalu dalam kecelakaan itu,” ucap Rian juga ikut bersedih.


Cengkeraman tangan di bahu Rian seketika jatuh. Dunia seakan runtuh, jantungnya bak terhempas dari ketinggian mendengar saudara satu-satunya telah tiada.


“Kakak,” lirihnya dengan suara bergetar, tubuhnya seakan membatu, bibir terbekap kuat menahan bulir air mata kesedihan.


“Dia dan asistennya di temukan tewas, sudah tidak bernyawa di tempat kejadian.” Tambahnya.


Mendengar cerita tragis yang menimpa kakaknya dengan sekali kedipan kristal bening jatuh tak tertahan lolos membasahi pipi.


Rian lalu memberikan amplop berwarna cokelat yang sedari tadi dia pegang untuk di serahkan pada sahabatnya. Dengan tangan bergetar Tirta meraih lalu membukanya. Menarik pelan secarik kertas yang berada di dalam amplop. Manik matanya terfokus pada isi kertas.


Kaki kokoh yang menopang tubuh Tirta tidak kuat lagi berdiri, lemah seakan tak bertulang, tubuhnya terhempas terduduk di sofa saat melihat keseluruhan isi yang ada di kertas adalah foto gambar sebuah makam bertuliskan Andra Abraham nama kakaknya.

__ADS_1


“Kakak!” suara itu terdengar lirih, Tirta membekap mulutnya dengan sebelah tangan. rasanya ia ingin berteriak, melihat bukti kakaknya telah sudah tidak ada di dunia ini.


Sejenak Rian terdiam hanya menatap Tirta tertunduk menyembunyikan wajahnya dengan bahunya bergetar naik turun. Dia tahu pemuda ini pasti sangat sedih. Rian tahu sebenarnya di lubuk hati terdalam, Tirta amat menyayangi kakaknya, hanya saja keadaan yang tidak adil padanya, yang membuat hubungan kakak adik ini bersekat saling berjauhan.


Rian duduk di samping Tirta. “Sudah Lan” mengelus punggung Tirta yang bergetar.


“Kakakku Ian, dia satu-satunya saudaraku,” Tirta menepuk dadanya yang terasa sesak.


“Sabar Lan.”


Tirta mendongak mengarahkan manik mata kemerahannya pada Rian.


“Ian atur keberangkatanku. Aku harus ke sana, melihat makam kakakku,” desak Tirta.


“Baiklah, aku akan menemanimu,” tutur Rian mengerti perasaan Tirta.


Tirta kembali tertunduk menatap gambar yang ada dalam genggamannya kesedihan merayapi hatinya.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2